Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Catatan Kegiatan Bakti Sosial di Ndano Nae dengan Bersepeda (1)

Khairusin M. Ali, peserta tour Ndano Nae

KEINGINAN menaklukkan wilayah Ndano Nae Kelurahan Ntobo Kota Bima dengan sepeda,akhirnya tercapai. Meski tidak mudah, karena medan berbatu dan jalan menanjak. Lelah, karena perjalanan yang melewati pegunungan, terbayarkan setibanya di perkampungan. Bima Adventure (BA)dan komunitas motor trail ikut-serta dalam misi sosial ini. Seperti apa perjalanan ke sana? Berikut catatan Sofiyan Asy’ari.

MINGGU (20/5) pagi pukul 06.00 Wita, baru satu sepeda yang parkir ke halaman studio BimaTV. Rencananya, sejumlah pesepeda yang tergabung dalam Bima Bike Lover (BBL) akan mengunjungi Ndano Nae. Kunjungan itu, dalam rangka bakti sosial, berbagi dengan masyarakat di pinggiran Kota Bima itu.

Rencana ke Ndano Nae sebenarnya seminggu sebelumnya. Hanya saja, hari Minggu lalu diputuskan dibatalkan. Padahal,semua persiapan telah dilakukan. Termasuk paket bantuan untuk masyarakat di sana. Pesepeda yang akan ikut pun telah menyiapkan diri, beristirahat lebih awal agar esok stamina lebih prima.

Namun, malam Minggu yang lalu, hujan terus mengguyur, hingga tengah malam. Deras dan merata, bahkan hingga angin kencang. Malam itu juga diputuskan ke Ndano Nae dibatalkan, pertimbangan medan berat setelah hujan mengguyur.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Minggu (20/5), rencana awal akan berangkat pukul 06.00 Wita. Namun, molor, hingga hampir dua jam. Namun, tidak masalah. Bagi Direktur Bimakini.com Group, Ir.Khairudin M.Ali, M.AP, misi tertunda ini harus dituntaskan. Ya, seperti itulah pesan singkatnya juga yang dikirimkan sehari sebelumnya.

Rencana Minggu sebelumnya, akan ada kendaraan roda empat juga yang digunakan. Namun, rencana itu tidak berjalan. Mengangkut logistik untuk diserahkan ke warga, tidak mungkin kami lakukan.

Untungnya dari Komunitas Motor Trail BA ikut bergabung dalam misi sosial ini. Merekalah yang mendapat bagian untuk mengangkut barang dengan mengikatnya di motor. Mereka juga telah menyiapkan tali, agar barang tidak jatuh.

Hampir pukul 08.00 Wita, kami berangkat. Namun, sebelumnya ada briefing pada semua peserta. Harapannya agar selama dalam perjalanan tetap menjaga kebersamaan. Apalagi,bagi peserta yang menggunakan sepeda, belum mengenal medan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Rombongan sepeda sekitar 12 orang, berangkat lebih awal. Dari Komunitas BA, masih mengemasi barang yang diikat pada kendaraan masing-masing. Kami melewati jalur Rite, karena menurut teman-teman BA, jarak tempuhnya lebih dekat. Meskipun ada jalur lain, yakni Kelurahan Matakando, tetapi lebih jauh.

Melewati jalur aspal, tentu bukan hal sulit bagi kami. Karena sebelumnya juga telah beberapa kali bersepeda melewati jalur-jalur yang panjang dan menandatang. Empat diantara rombongan sepeda pernah menaklukkan Kabanta, termasuk saya.

Dalam perjalanan melewati Rite, perhatian warga tertuju ke kami. Susana pinggir gunung dan sawah yang terhampar luas, terasa sejuk. Demikian juga ketika memasuki Ntobo, melewati rimbun pohon bambu di pinggir jalan.

Menuju Ndano Nae, kami harus memotong jalur di Ntobo. Disinilah mulai tantangan medan itu. Jalan berbatu dan menanjak. Tidak mudah, melewatinya dengan sepeda. Stamina sangat menentukan, selain teknik mengayuh sepeda.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Bagi kendaraan trail, justru medan seperti inilah yang dicari untuk menguji adrenalin. Kami tentu tidak ingin menyerah, karena jalur seperti ini pula yang ingin dirasakan. Sebelumnya memang telah banyak informasi, jika ke Ndano Nae jalannya lebih parah, ketimbang jalur ketika menalukkan Kabanta.

Informasi itu tidak menyebabkan kami kendur. Justru kami ingin membuktikan, meski dengan jalur yang berat, kami bisa menaklukkannya dengan sepeda. Membuktikan, tentu harus dengan menguji langsung beratnya medan itu.

Informasi yang kami peroleh sebelumnya itu, ternyata tidaklah salah. Bahkan,lebih perah dari yang dibayangkan sebelumnya. Tantangan pertama, tanjakan yang cukup lumayah, menguras energi.

Ban sepeda bagian depan, bahkan bisa terangkat sendiri. Selain karena menanjak, juga bebatuan. Ban sepeda bagian belakang pun, terkadang tidak bisa berputar, karena tertahan pula oleh batu. Situasi seperti ini tidak memungkinkan bagi kami untuk memaksa, sehingga harus turun dan mendorong sepeda. Jika bebatuannya kurang, kami lanjutkan mengayuh.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Masuk ke Ndano Nae, benar-benar kami langsung berhadapan dengan jalur berat. Bahkan, beberapa peserta mual dan muntah. Tidak terkecuali Yudi Wae, yang pernah menaklukkan Kabanta, harus mengakui beratnya medan ini. “Ini benar-benar ekstrim. Lebih berat dari Kabanta,” ujarnya. (bersambung)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Olahraga & Kesehatan

Bima, Bimakini.- Bersepeda adalah salah satu olahraga yang digemari saat ini. Selain menyehatkan, juga dapat dilakukan dengan santai. Seperti halnya dilakukan Sape Bike Community,...

CATATAN KHAS KMA

APAKAH saya harus senang? Ataukah sebaliknya? Entahlah! Tetapi begini: Waktu saya pertama membangun media di Bima, itu pada 21 tahun lalu, ada yang menyebut...

CATATAN KHAS KMA

PEKAN lalu saya kehadiran seorang kawan dari Surabaya. Sesama alumni International Visitor Leadership Program (IVLP). Program kunjungan ke Amerika Serikat. Di group alumni, kami...

CATATAN KHAS KMA

PADA 2005 lalu, di Kabupaten Bima ada drama Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pada Pilkada langsung pertama itu, ada tiga pasangan calon yang bertarung. Petahana...

CATATAN KHAS KMA

SEMALAM saya dan beberapa kawan menggelar zoom meeting. Jumpa online melalui aplikasi Zoom itu, diikuti oleh saya dan diaspora Bima. Dr Hermawan Saputra, SKM. MARS,...