Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Kebangkitan Nasional, Bangkit dari Kemalasan

Foto: Ist

Oleh: Musthofa Umar, S. Ag., M.Pd.I

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dihelat setiap tanggal 20 Mei. Sebagai warga negara, tentu momentum seperti ini, tidak boleh  dilupakan begitu saja, karena kita hidup sampai saat ini adalah dari rangkaian berbagai sejarah masa lalu. Mengingat kembali sejarah, hendaknya menjadikan kita lebih meningkatkan rasa yang dalam memiliki sejarah tersebut. Sebagai pelajaran yang berharga untuk memupuk hidup kita tentu lebih baik.

Pada Harkirtnas kali ini, mari kita jadikan sebagai hari kebangkitan dari masalah yang membelenggu bangsa ini, terutama kemiskinan dan keterbelakangan saing dengan kemajuan negara lain. Kesimpulan opini saya dan menjadi tema bahasan ini adalah bangkit dari kemalasan. Banyak dari kita malas  untuk melakukan sesuatu yang menjadi harapan masa depan kita. Terkadang kita hanya senang menunggu, senang dilayani dan senang sesuatu yang instan, tanpa usaha dan karya serta inovasi yang murni dari kita sendiri.

Kalau kita kembali membaca sejarah bangsa ini, hari kebangkitan nasional terbentuk berdasarkan, hari dimana berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Namun, sebenarnya seperti yang ditulis Wikipedia, bahwa sebenarnya Harkitnas berawal dari Kebangkitan pergerakan Nasional Indonesia yang dipelopori dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan Solo Jawa Tengah dan lambat laun Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam.  Soetomo, Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang selanjutnya pada tahun 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara dan dr. Douwes Dekker serta para tokoh yang lain, tergabung dalam Pergerakan dengan satu tujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia pada saat itu, yang belum pernah dilakukan selama masa penjajahan 350 tahun. Impian-impian mereka, menjadi satu dan menjadi kekuatan yang tak terkalahkan, sehingga bangsa ini berhasil direbut kembali dan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

      Semangat para tokoh ini, tentu menjadi inspirasi agar semangat nasionalisme tetap berkobar. Kita tentu tidak rela jika Indonesia direndahkan oleh bangsa lain. Bagaimana sejumlah kasus yang sebelumnya, seperti perebutan atau pengelaiman batik oleh Malaysia. Namun, semangat nasionalisme itu, bukan bersifat membela Indonesia dari rongrongan bangsa lain, akan tetapi bagaimana mencintai Indonesia dengan membangun Indonesia ini lebih baik. Berbuat curang atau amoral dalam bangsa sendiri  sama halnya merusak Indonesia dari dalam. Lalu apa artinya kita menjaga Indonesia dari gangguan negara lain, sedangkan rakyatnya sendiri, sedikit-demi sedikit menghancurkannya dari dalam.  

Semangat persatuan dari para tokoh pergerakan Boedi Oetomo, adalah bagaimana mereka mempersatukan berbagai Perkumpulan (Sarekat), agama, ras, suku dan bangsa untuk merebut kedaulatan bangsa ini dari Belanda. Perjuangan beliau, ibarat pemuda yang sedang jatuh cinta. Bagaimanapun upaya, agar si pemuda mendapat wanita idamannya.  Tentu begitu wanita idaman itu di dapat, haruskah kita campakkan??! Tentu kita cintai dengan memberikan yang terbaik, agar selalu harmonis.

    Sifat malas kita sesungguhnya menyebabkan Indonesia semakin terpuruk. Bayangkan, bagaimana akibatnya kalau pelajar-pelajar kita malas belajar? Mereka akan menjadi tukang mencontek, mereka akan menjadi tukang menjiplak dan selalu menunggu hasil karya orang. Bagaimana kalau mahasiswa kita malas? Maka perkuliahan hanya sesuaknya saja dan skripsi juga bukan karya sendiri. Bagaimana kalau pemimpin-pemimpin kita malas? Tentu banyak pekerjaan yang terbengkalai dan banyak bawahan/rakyat yang tidak terurus.  Anda bayangkan, kalau banyak anak-anak muda kita malas mencari kerja? Tentu mereka akan menjadi pengangguran dan melakukan tindak-tindak kriminal yang merugikan banyak orang umumnya bangsa Indonesia sendiri. inilah yang akan terjadi, bila sifat malas kita terus dipelihara, ayo semua kita bangkitkan semangat kita dalam mengisi Harkitnas.

Pemerintah sebenarnya sudah banyak berbuat untuk kita semua. Berbagai bantuan telah diberikan kepada kita, namun lagi-lagi karena kebanyakan kita malas, bantuan habis tanpa arti. Banyak orang bilang, pemerintah kita sering memberikan umpan ketimbang pancingannya. Namun, bagi saya, justru kitalah yang harus kreatif mengubah umpan itu menjadi pancing. Bagaimanapun seorang bayi, tidak harus selalu disuapi atau dimandikan, suatu saat dia akan makan dan mandi sendiri, walau Ibu dan Bapak-nya masih kuat. Itulah gambaran sifat kreatif yang menimbulkan inovasi untuk bertahan hidup, bukan selalu berharap dibantu orang lain.

Jangan bertanya, “apa yang Indonesia sudah berikan kepadamu, namun pertanyakanlah apakah yang sudah kamu berikan kepada Indonesia?”. Kemerdekaan yang diperjuangkan para tokoh kita adalah nilai sangat mahal jika ditukar dengan bermalas-malasan. Indonesia membutuhkan semangat membangun supaya bisa bersaing dengan bangsa-bangsa yang sudah maju terlebih dahulu. Inilah yang pernah dilakukan para pendahulu kita. Mereka menyatukan tekad untuk tujuan yang sama. Kitalah yang harus melanjutkan semangat-semangat mereka untuk memerdekakan Indonesia ini dari kemiskinan, dari pengangguran, dari rendahnya moralitas anak bangsa. 

Kepada Anda yang menjadi pejabat, berhentilah dan jangan sampai terlintas niat mengorupsi. Sadar atau tidak, korupsi akan membuat negara ini hancur, lalu kalau sudah hancur bisakah diperbaiki dalam waktu cepat? Bagaimana pula nasib rakyat kita yang dalam garis kemiskinan, jika uang yang seharusnya bisa disalurkan kepada mereka, menjadi tidak bisa karena Anda korupsi? Bagaimana Anda akan menyalahkan mereka yang memiliki emikiran sempit dan menggunakan cara-cara sendiri untuk mencari uang?

Korupsi tidak hanya masalah finansial, namun korupsi waktu bagi para pendidik misalnya, karena mereka bermalas-malasan, makan akan mengakibatkan murid-murid menjadi tidak terurus. Kalau semalam Anda menonton salah satu station TV, kenapa India menjadi urutan ke-10 negara dunia yang pendapatan warganya besar? Jawabannya karena keseriusan mereka dalam hal pendidikan. Pendidikan adalah harapan Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan.  Kalau kita kebali ke sejarah pun, para tokoh yang menggerakkan Kebangkitan Indonesia ini, adalah tokoh-tokoh yang berpendidikan.

Oleh karena itu, bagaimana dan seperti apa nasib bangsa ini ke depan, tergantung kepada pendidikan apa yang diberikan para pendidik kita kepada generasi ini. Bukan hanya mengejar  BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan jempol atasan karena 100 persen lulus, sehingga UN (Ujian Nasional) pun nilai siswa harus kita katrol. Akan tetapi, kualitas yang dicari. Minoritas asal kualitas itu lebih baik dari pada mayoritas akan tetapi kualitasnya diragukan dan tidak bisa diandalkan.

      Kini 20 Mei 2012 menjadi Harkitnas ke-104. Tidak terasa satu abad lebih, kita memeringatinya. Pemerintah menetapkan tema perayaan tahun ini yakni meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara yang berkarakter, damai dan berdaya saing menuju masyarakat sejahtera. Maka menjadi pertanyaan dibenak kita, seberapa berdayasaingkah kita dan seberapa damai serta sejahterakah kita saat ini? Sudah berkarakterkah bangsa kita? Lalu siapa yang seharusnya menciptakan itu semua? Apakah cukup pemerintah semata atau kita semua yang harus bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan itu, hendaknya menjadi pertanyaan kita semua. Karena kita semualah yang akan menjawabnya. Para tokoh sudah memersembahkan kemerdekaan bangsa ini, lalu sebagai generasi selanjutnya, kitalah yang harus mengisinya dengan berbagai macam aktivitas yang mencerminkan Indonesia lebih baik dari 104 tahun yang lalu. Memaknai Harkitnas bukanlah sekadar seremonial belaka, namun harus lebih bermakna dalam membangun karakter bagsa yang sebenarnya sudah banyak yang hilang. Misalnya semangat gotong-royong, semangat sopan-santun saat bertutur sapa dan berpakaian sudah lama hilang. Bangsa kita telah banyak ternodai oleh budaya-budaya bangsa lain yang tidak begitu pantas untuk bangsa kita.

Mencontoh bangsa lain, tidak harus dalam hal mode dan cara bergaul, tetapi seharusnya mencontoh kreatif mereka sehingga bisa terkenal oleh bangsa lain. Indonesia belum begitu terkenal di luar negeri, banyaknya pengiriman TKI dan TKW menjadi tolok-ukur, kalau kita masih negara miskin yang tidak mampu bangkit dari kemiskinan. Atau budaya kita tadi, yang selalu malas sehingga tidak bisa hidup dengan kekayaan sekitar.

Belajarlah dari semangat tokoh pendiri kita, begitu inginnya Indonesia diakui oleh bangsa-bangsa lain. Dan keinginan mereka itu, baru terwujud 1945. Mereka bersatu, menyatukan visi dan misi yang sama, meninggalkan rasa kesukuan, ras, bangsa, agama dan daerah demi Indonesia. Akan tetapi kalau semangat itu dicederai, tentu mereka tidak rela andai mereka tahu. Dosen saya pernah mempunyai pemikiran, kenapa Pembukaan UUD 1945, Soekarno dan perumus Pembukaan UUD 1945 dulu, mengatakan “sampailah pada gerbang kemerdekaan” bukan di dalam, tetapi gerbang. 

Artinya bahwa kita sebagai penerus bangsa ini, tidak dibikin manja. Banyak hal yang harus dilakukan di dalam sana, yakni Indonesia sendiri. dan tokoh-tokoh kita sudah bersusah payah mengantar kita ke gerbang kemerdekaan, seolah-olah mereka ingin mengatakan kepada kita, “lanjutkan!”. Semangat tokoh Pergerakan waktu itu, juga mengajarkan kepada kita, tidak ada kesan saling menonjolkan diri, atau berjuang sendiri-sendiri. Nah karakter bangsa kita yang inilah hendak ingin dikembalikan dalam peringatan Harkitnas saat ini. Bangsa kita sudah lama memimpikan itu semua, memimpikan para tokoh-tokoh politik di atas sana bersatu, saling bahu membahu untuk membenahi keterpurukan yang terjadi, terutama masalah kesejahteraan masyarakat kita.

    Kalau dulu para tokoh kita bersatu memperjuangkan kemerdekaan, nah sekarang setelah kita merdeka tentunya kita juga harus bersatu dalam mengisi bangsa ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 103, “Berpeganglah kamu sekalian kepada tali agama Allah dan janganlah kamu berpecah-belah dan ingatlah akan nikmat Allah…” begitupun juga dalam Surat al-Hujarat ayat 10-11. Pada ayat ini, Allah menegaskan tentang persaudaraan antar sesam ummat Islam dan larangan saling menghina antara laki-laki dengan laki-laki yang lain, begitu juga dengan perempuan yang satu dengan perempuan yang lain. Janji Allah apabila ayat ini kita lakukan, maka kita akan diberikan Rahmat-Nya, sebaliknya kalau kita tidak melaksanakan atau berusuh-musuhan, tidak bersatu dan saling hina, maka Rahmat Allah tentu akan jauh. Na’udzubillahiminzaalik..

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Mpunda Kemenag Kota Bima. Sekretaris Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam Kota Bima.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Jalan-jalan

Tulisan ini merupakan bagian awal dari kisah yang lebih panjang tentang perjalanan Syahrir Idris menjelajah desa dan kota, pedalaman, dan pesisir Amerika. Selain itu, bunga...

Olahraga & Kesehatan

Kota Bima, Bimakini.com.- Kota Bima akan menjadi tuan rumah Penyelenggaraan Tinju Amatir Yunior and Youth Danrem Wira Bhakti.  Kejuaraan ini akan dilangsungkan 10 hHingga...

Olahraga & Kesehatan

Kota Bima, Bimakini.com.- Dalam bulan Februari ini, Kota Bima memiliki sejumlah event nasional dan regional. Salah satunya, Jelajah Alam Bima, yang digelar oleh Bima...

Politik

Bima, Bimakini.com.- Hingga kini, Panitia Pengawas Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bima belum menerima salinan Laporan Awal Dana Kampanye (LADK) pasangan calon Bupati dan...

Pendidikan

Kota Bima, Bimakini.com.- Satu lagi yang membanggakan bagi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Bima, tahun ajaran baru 2015 ini akan menerima program Fulbright...