Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Larantuka dan Negeri di Awan

Oleh: Kaharuddin

Ketika mengetahui ada kesempatan  mengunjungi Kabupaten Larantuka di Flores Timur NTT dalam rangka Comparative Study Disaster Risk Reduce (DRR) atau Studi Perbandingan Pengurangan Risiko Bencana, saya merasa sangat exciting. Hati berdebar-debar, dari ujung kaki dan ujung tangan. Terasa dingin. Maklum, membayangkan pengalaman yang sama sekali baru. Selama ini, kalau keluar daerah ke arah Barat Indonesia, sudah sering saya lakukan dan bukanlah sesuatu yang special. Namun, ke arah Timur dari Pulau Sumbawa, it’s the first time.

Perjalanan sungguh terasa berbeda. It’s so amazing. (Stop..! Kalimat terakhir harus anda baca sambil menirukan gaya Tukul Arwana pada salahsatu siaran televisi. Kalau sudah,  Anda boleh melanjutkan membaca paragraf selanjutnya).

Pada 15 April 2012, pukul 11.00 Wita rombongan berjumlah enam orang sudah berkumpul di Bandar Udara Muhammad Salahuddin Bima. Rencananya, perjalanan ke Larantuka akan  melewati rute Bima-Denpasar-Maumere-Larantuka. Sebenarnya perjalanan akan lebih dekat kalau ada penerbangan langsung dari Bima ke Larantuka. Namun, apa boleh buat, rute itulah satu-satunya rute yang paling memungkinkan saat ini.

Kami sampai di Bandara Ngurah Rai Bali sekitar pukul 13.00 Wita dan langsung bergegas ke restoran siap saji (restoran ini dipilih karena relatif aman dan masuk kategori halal) untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Kami bergegas dengan waktu, karena jadwal penerbangan berikutnya ke Bandara Frans Seda Maumere pukul 13.45 Wita. Masalah ‘makanan halal- haram’ ini menjadi pengalaman unik tersendiri, karena kami yang Muslim diharuskan mengonsumsi makanan halal. Apalagi daerah yang kami kunjungi relatif ‘bukan daerah Muslim’. Perjalanan menuju Maumere ditempuh selama 2 jam.

Dari Bandara Frans Seda Maumere, kami langsung menuju Larantuka dengan mobil carteran. Perjalanan ini kami tempuh sekitar 3,5 jam. Menurut supir, jarak yang  akan ditempuh sekitar 147 Km. Kami sempat berhenti di Desa Boru Kecamatan Wulanggitang untuk mengisi ‘tanki di bawah dada sedikit yang ramai berkukuruyuk’. Daerah ini merupakan daerah perbatasan Maumere-Larantuka dan biasa menjadi tempat istirahat bagi penumpang dan supir yang menuju arah Larantuka atau sebaliknya.

Kesan pertama saya memasuki daerah ini, sungguh berbeda dengan yang saya bayangkan sebelumnya. Jika sebelumnya saya membayangkan akan memasuki daerah kering dan gersang, sebaliknya malah sepanjang perjalanan pohon-pohon besar berlarian di sisi jalan. Hutan tampak dipelihara. Gunung Ile Mandiri yang tegak nun jauh dari tempat saya memandang tampak hijau dengan pepohonan besar dan kukuh,  tanda masyarakatnya masih menghargai dan bersahabat dengan lingkungan sekitarnya.

Belakangan saya mengetahui bahwa sejumlah hutan di daerah ini masih terpelihara, karena hukum adat masih dijunjung tinggi oleh masyarakat. Di sini saya merasa seperti berada di daerah Jawa Barat yang sejuk dan asri.

Berbeda dengan daerah Bima NTB, yang meskipun hukum adat masih ada, namun sudah tidak lagi memegang peranan penting dalam perikehidupan masyarakatnya. Masyarakat  Bima banyak yang sudah tidak menghargai lagi hutan. Sejauh mata memandang yang tampak hanya gunung-gunung  yang meranggas dan panas. Hutan yang dulunya lebat, sekarang tergantikan dengan ladang jagung, padi, kacang tanah, dan berbagai komoditas lainnya..

Kembali ke soal makanan, praktis hari pertama kami cukup ‘menderita’ karena hanya sedikit makanan yang bisa masuk ke perut. Namun, hari kedua masalah ini sudah bisa sedikit teratasi, karena ternyata ada warung yang dikelola oleh ustadz yang terjamin kehalalannya. Jadi, kami bisa makan enak hari itu. Apalagi, kami sempat memancing ikan di atas kapal yang memang disediakan oleh pihak hotel untuk para tamu (hotel tempat kami bermalam berada di pinggir pantai).

Selesai kegiatan pada ketiga, saya dan seorang teman tanpa direncanakan berkesempatan menjelajahi dan memutari Gunung Ile Mandiri (dalam bahasa Larantuka Ile berarti Gunung). Perjalanan ini dilakukan dengan menyewa bemo (angkutan kota di sana). Selama sekitar 1,5 jam kami memutari gunung itu, banyak pengetahuan yang kami dapat mengenai daerah ini. Melalui penuturan supir bemo yang didaulat sebagai ‘guide’ dadakan, kami juga dibekali dengan nama-nama desa yang dilewati. Memutari gunung ini kita dapat melewati desa/kelurahan yang rumah masyarakatnya tidak terlalu rapat seperti di Bima.

Dari hotel tempat kami bermalam (Kelurahan Weri), kami melewati Desa Watowiti, Desa Muda Keputuk, Desa Lewohala, Desa Riang Kemi’e, Desa Wailolo, Desa Badu, Desa Oka, Kelurahan Lamawalang, Kelurahan Waibalun, Kelurahan Lewolere, Kelurahan Pantai Besar, Kelurahan Sandominggo, Kelurahan Larantuka, Kelurahan Balela, Kelurahan Pohon Siri, Kelurahan Lohayong, Kelurahan Lokea, Kelurahan Posto, Kelurahan Lewerang, Kelurahan Ekasata, Kelurahan Pohon Bao, Kelurahan Gege, Kelurahan Batuata, Kelurahan Lebao, Kelurahan Sarotari untuk  kemudian kembali lagi ke Kelurahan Weri. Petugas hotel yang mendengar cerita kami sampai geleng-geleng kepala. “Saya saja yang orang sini belum pernah memutari gunung itu,” katanya.

Pada siang hari keempat, kami sudah dalam perjalanan pulang menuju kembali ke Maumere dan meninggalkan Larantuka yang memberikan kesan mendalam. Perjalanan kembali ini terasa agak ringan dibandingkan dengan perjalanan menuju Larantuka, karena hari masih siang sehingga kami bisa melihat pemandangan laut dari atas bukit yang indah.

Kami bermalam pada salahsatu hotel di Maumere. Kendala makan relatif tidak menjadi  masalah di sini, karena banyak warung makan yang dikelola oleh orang luar Maumere (kebanyakan dari Jawa dan Padang). Sambil menunggu jadwal penerbangan yang akan membawa kami ke Denpasar, kami menyempatkan diri mengunjungi Danau Kelimutu yang tersohor itu.

Perjalanan dari hotel ke  Danau Kelimutu kami tempuh selama 3 jam dengan kendaraan carteran. Biayanya menurut saya agak mahal, karena harus mengeluarkan kocek seniali Rp750.000. Pukul 02.30 Wita, kami beranjak dari hotel dan perjalanan melelahkan ini kami isi dengan lebih banyak tidur, karena kepenatan perjalanan dari Larantuka rasanya belum hilang. Saya sendiri sebenarnya agak enggan ikut, tetapi daripada diam di hotel sendirian lebih baik nimbrung.  Hitung-hitung bisa melihat negeri orang. Belakangan, saya sangat bersyukur dengan keputusan ini, karena pemandangan di Danau Kelimutu luar biasa.

Jalan yang mendaki dan berkelok menyebabkan tidur selama perjalanan agak terganggu. Apalagi, hawa dingin Gunung Kelimutu terasa menusuk tulang. Saya sempat menyesal juga karena saya hanya mengenakan celana pendek (soalnya belum mandi dan dibangunkan tengah malam buta). Modal saya hanya jaket tipis (dan lemak di tubuh) sehingga dari seluruh rombongan sayalah yang paling tersiksa menghadapi cuaca dingin itu. Apalagi, ketika sampai di pos penjagaan, saya mendapat informasi dari petugas jaga  bahwa di puncak Kelimutu (tempat danau Kelimutu berada) lebih dingin lagi. Saya ngeri juga membayangkannya. Tetapi, syukurlah mentari pagi yang menyapa kami sedikit membuyarkan embun yang menghadang.

Memasuki kawasan ini, pengunjung  cukup merogoh kocek senilai Rp.5.000/orang di pos penjagaan. Dari pos penjagaan ini, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 20 menit menuju tempat parkir yang sudah disediakan. Dari sini, perjalanan menuju Danau Kelimutu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 30 menit. Perjalalanan mendaki dan melelahkan ini  terbayar dengan keindahan hutan lindung  yang banyak ditumbuhi pepohonan pinus dan cemara yang  tumbuh disekitar jalan setapak yang kami lewati. Kokok ayam hutan dan  riuh rendah kicauan burung menyebabkan telinga kami yang terbiasa dengan keriuhan kota dimanjakan oleh keadaan ini.

Ketika sampai di puncaknya, kita serasa memasuki negeri di atas awan, karena beberapa awan tampak berada di bawah kita. Puncak-puncak gunung berderet indah sepanjang mata memandang. Saya teringat cerita-cerita silat karya Kho Ping Hoo yang dengan sempurna menceritakan keadaan di puncak gunung, dimana di sekelilingnya terdapat awan yang menghalangi pandangan ke bawah. Pada  suatu dataran yang cukup luas tampak seorang kakek-kakek berjanggut putih panjang sedang memberi wejangan pada muridnya yang duduk takzim di depannya.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari Keli yang berarti gunung dan Mutu yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing.

Ada tiga danau (tiwu) yang ada di tempat ini. Tiwu Ata Bupu dipercaya sebagai tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orangtua yang telah meninggal. Danau kedua yang disebut dengan Tiwu Kofay Nuwamore  merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal.  Tiwu Ata Polo merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung.

Menurut masyarakat sekitar,  pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan keindahan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya pemandangan Danau Kelimutu akan terhalang kabut tebal.  Kami tidak sempat berada di sana untuk membuktikan hal itu, karena pukul  08.00 Wita sudah dalam perjalanan pulang. Sekitar pukul 12.30, kami sudah sampai kembali di hotel. Saya langsung mandi dan tidur sepuasnya sampai penat terasa agak mereda.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang perjalanan kembali.  Keesokan paginya kami sudah dalam perjalanan menuju Denpasar. Tidak ada penerbangan yang ‘connect’ dengan jadwal penerbangan kami untuk sampai kembali ke Bima.  Terpaksa harus rela menginap lagi semalam pada salahsatu hotel di sekitar Pantai Kuta, selanjutnya  kemudian kembali ke Bima keesokan harinya. Di sini, kami sempatkan berjalan-jalan sepanjang pantai kuta yang dipadati bule. Astaghfirullah, pemandangannya erotis, mereka berjalan di sepanjang pantai hanya memakai bikini. Bahkan, tidak jarang ada yang tidak lagi memakai, maaf, pelindung dada alias topless.

Pukul 05.00 Wita sebelum pulang, kami menyempatkan diri menengok lagi Pantai Kuta. Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, kami akhirnya sampai juga di ‘tanah air beta’. Ya, kami kembali larut dalam dinamika daerah Bima.

Penulis pernah menjadi Community Facilitator pada Program Disaster Risk Reduce kerjasama LP2DER Bima dengan Oxfam Great Britain. Sekarang tinggal di Kelurahan Tanjung.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Pendidikan

Bima, Bimakini.com.- Selain bertugas mengatur lalulintas, Sat Lantas Polres Bima juga peduli  terhadap  kegiatan lainnya. Seperti saat ini,  dalam kegiatan Polisi Peduli Pelajar. Mereka...

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.- Maraknya penjual petasan saat  bulan Ramadan   menjadi atensi aparat Kepolisian. Selain meresahkan masyarakat yang sedang beribadah, juga membahayakan.

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.-  Kontroversi pembagian los pasar Tente semakin meruncing saja. Pembahasan yang berkali-kali dilakukan, belum menemukan titik temu penyelesaian. Aksi demo saling menyuarakan aspirasi...

Peristiwa

Perairan laut selatan, khususnya di Kecamatan Langudu menyimpan daya tarik luar biasa.  Pantai Pusu Desa Pusu, memang sebelumnya cukup terisolir. Menjamah tempat ini, jalurnya...

Opini

 Oleh: Musthofa Umar, S. Ag, M.Pd.I (Tulisan ini disampaikan pada Tausiyah PC PMII Bima di Masjid Al Anshor Penatoi – Kota Bima)  Berdasarkan tinjauan...