Olahraga & Kesehatan

Menaklukkan Bima dengan Sepeda (10)

Informasi yang diberikan oleh warga yang kami jumpai, bahwa satu tikungan lagi di atas tanjakan, sedikit melegakan, meski ada keraguan. Kami kembali mengayuh sepeda, kadang sesekali turun dan mengayuh lagi.

Benar saja. Setelah melewati tanjakan, terlihat satu atap rumah. Dua atap rumah. Ya, kami telah sampai diperkampungan. Kabanta telah kami taklukkan dengan sepeda. Segera saja, saya memerkir sepeda di pinggir jalan. Beberapa warga melihat ke arah kami yang datang menggunakan sepeda.

Dari raut wajah mereka, sepertinya terbersit rasa penasaran dan heran. Ada yang datang ke kampung mereka dengan bersepeda. Tidak biasanya. Bersamaan kami menyentuh perkampungan Kabanta, gerimis menyambut.

Kami menyapa warga setempat, menyalami dan sambutan mereka pun sangat ramah. Penuh persahabatan dan kekeluargaan. Saat melihat ada air yang mengalir dari pipa kecil, ada hasrat untuk minum.

“Pak boleh saya minum  air ini,” pinta saya.

“Boleh, silahkan,” sahutnya.

Segara saya melapas helm dan menggunakan kedua tangan menadah air yang terasa dingin. “Ini sebagai tanda, bahwa saya telah ke Kabanta dengan meminum air disini,” kata saya.

Sejuk rasanya, ketika air itu mengalir ditenggorokan. Rasa lelah, pegal, seolah terbayar semua. Semua pun ikut menikmati air, agar di tubuh kami ada Kabanta yang tetap terekam.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Kami tak tahu mau berlindung di mana. Untunglah warga setempat menawarkan diri, agar kami berteduh di rumahnya. Tawaran itu pun kami terima.

“Ayo silahkan masuk. Mari duduk di sini,” kata Jumadin memersilahkan kami.

“Bu, ambil tikar lagi. Biar duduknya tidak dingin,” pintanya pada sang istri.

Jumadin memiliki satu putra berusia 2 tahun. Teringat akan si kecil di rumah yang usianya tidak terpaut jauh, 1, 9 bulan.

“Bu, ambilkan air minum untuk tamu kita ini,” pinta Jumadin kepada istrinya. Tidak lama delapan gelas air putih tersuguhkan. saat itu, Pak Khairudin dan Ilham berada di rumah warga lainnya, sementara saya bersama dua crew BimaTV. Tapi mereka tak menggunakan sepeda, tapi motor, agar memudahkan pengambilan gambar untuk acara Lamba rasa di BimaTV setiap Selasa pukul 20.00 Wita.

Kesempatan ini saya manfaatkan untuk menggali informasi lebih banyak tentang Kabanta, sambil menunggu hujan reda. Jumadin bercerita, jika warga Kabanta semuanya petani.  Lahan yang digarap, bukan irigasi, namun tadah hujan. Hujan akan sangat menentukan kehidupan mereka.

Mereka lebih mengutamakan menanam padi. Bukan untuk dijual, namun konsumsi sendiri. Untuk tahun ini, pertama kalinya menanam jagung. Karena ada kabar, jika jagung menjanjijkan dan pemeliharaanya sulit.

Keputusan menanam jagung, kata Jumadin, tentu bukan perkara gampang. Ya, bukan gampang soal menanamnya, tapi modal untuk mendapatkan bibit jagung dan biaya pemerliharaan. “Satu-satunya kami harus mencari pinjaman ke sana ke mari,” tuturnya.

Meminjam tentu bukan hanya menggunakan uang orang lain. Namun ada kewajiban membayar bunga lebih dari pokok pinjaman. “Ada yang minjam di kopersi di kota, ada juga di tetangga. Bunganya tidak terlalu besar,” katanya tanpa menyebut kisaran bunga pinjaman.

Bagaimana hasil penan jagungnya? “Tidak terlalu bagus. Bahkan bagi yang memiliki lahan sedikit rugi. Hanya cukup untuk membayar hutang saja,” ungkapnya.

Buruknya hasil panen, kata dia, lantaran sulitnya mendapatkan pupuk, sehingga pertumbuhan jagung tidak sesuai harapan. Malah pupuk diperoleh setelah dua bulan masa tanam, itu pun dengan harga lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET).

Harga jagung saat ini, kata dia, untuk basah Rp1.200/kg dan kering Rp1.900 hingga Rp2.000/kg. “Yang banyak lahan saja, yang bisa dapat untung sedikit,” katanya. (bersambung)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top