Olahraga & Kesehatan

Menaklukkan Bima dengan Sepeda (9)

Kami memilih banyak beristirahat, daripada menguras tenaga. Kami menyempatkan istirahat, selain minum juga untuk makan roti isi coklat dan pisang. Sebenarnya ada nasi bungkus yang kami siapkan. Namun mengantisipasi, jika tidak ada makanan di Kabanta, maka snack terlebih dulu dimakan, sekedar mengganjal perut.

Kami berharap di Kabanta aka nada warung kecil yang menjual minuman ion untuk memulihkan tenaga. Karena keringat terus mengucur, air mineral rasanya tak cukup. Kami memang tak menyiapkan bekal yang cukup. Sebaiknya, jika menempuh perjalanan jauh menyiapkan bekal secukupnya.

Saat istirahat di bawah pohon asam, seorang pria, bersama istri dan anaknya berhenti di tempat kami. Mereka hendak ke ladang mengangkut hasil jagung yang di panen.

Dari tempat kami duduk, disisi kiri jalan. Ladang dipenuhi jagung yang telah dipenen. Beberapa saung terlihat dan ada tenda yang dibangun untuk mengumpulkan hasil panen. Fungsi tenda itu juga melindungi jagung agar tidak basah diguyur hujan. Karena harga jagung basah akan lebih murah, sekitar Rp1.250/kg, sedangkan kering antara Rp1.900 hingga Rp2.000/kg.

Sejumlah petani terlihat di gubuk kecil yang dibangun ditengah ladang. Rasanya ingin kesana untuk sekedar berbincang. Namun kami urungkan, karena menuju tempat mereka, harus menapak jalan menurun dan menanjak lagi, sementara perjalanan kami tak jelas ujungnya.

Itu karena tak satu pun dari kami yang pernah kesana. Tapi menurut pria yang sempat berhenti ditempat kami, memeridiksi perjalanan ke Kabanta masih sekitar 4 kilometer lagi.

Kami tak begitu saja percaya, karena prediksi mereka berdasarkan kebiasaan. Empat kilometer bisa saja lebih dari itu. Tapi setidaknya ada gambaran, dari pria yang kami jumpai pertama mengatakan jarak ke Kabanta lebih dari 7 kilometer. Itu artinya, perjalanan kami sudah jauh dan kian dekat dengan perkempungan.

Tempat kami istirahat adalah ujung bawah tanjakan. Itulah mengapa kami memilih mengisi energi dulu, karena akan ada tanjakan berbatu. Setelah cukup beristirahat, kami mengambil ancang-ancang menanjak. Beberapa kali ban tak bisa berputar, karena terganjal batu, bahkan kadang ban bagian depan terangkat.

Tiba di atas tanjakan, kami menjumpai lagi warga yang menjemur jagung dipinggir jalan. Ada juga yang memikul jagung dari ladang. Mereka mendirikan tenda dipinggir jalan. Itu dilakukan, selain mudah menjemur di tanah lapang, juga tak sulit mengangkutnya ketika sudah kering.

Menurut Ibrahim, salah satu diantara mereka, lahan yang digarap adalah pembagian dari pemerintah. Masing-masing mengapling lahan untuk digarap. Tentu lahannya bukanlah seperti sawah atau lahan datar, namun pegunungan dengan kemiringan tertentu.

Lahan itu pun kini dibagi Ibrahim, sebagian untuk anaknya. Menanam jagung menurutunya tak sulit, tapi pupuk yang langka. Karena untuk jagung kebutuhan pupuknya dua kali lebih banyak.

Melihat sepeda yang kami gunakan, nostalgia Ibrahim seolah muncul lagi. Dulu sewaktu muda, mengaku memiliki sepeda dan tentu kuat fisiknya mengayuh. Berbeda dengan kini, namun setidakn ya kenangan indah dengan sepedanya masih terekam hingga diusia senja.

Satu yang patut dicontoh dari Ibrahim, semangatnya bekerja. Kulit yang keriput dan legam oleh sengatan matahari, tak menyurutkan perjuangannya untuk keluarga. Spirit Ibrahim ini pula yang kian memacu semangat kami untuk terus melanjutkan perjalanan menuju Kabanta. Entah berapa lagi jaraknya, kami benar-benar tidak tahu, namun katanya sekitar 2,5 kilometer lagi dari tempat kami bertemu Ibrahim.

Tenaga kian terkuras, peluh kian mengucur. Masih ada tanjakan yang menanti. Matahari kian terik, meski ada awan mendung terlihat. Letih, kembali menghinggapi kami. Pilihan terbaik adalah kembali beristirahat sejenak ditempat teduh.

Lagi kami berjumpa dengan satu keluarga yang sibuk menjemur jagung. Satu tenda tepat berada di jalur yang kami lewati. Api di tungku batu menyala, diatasnya panci. Sepertinya menyiapkan makan siang. Sang remaja putrid duduk di depan tungku, ibu bercengkarama dengan putra bungsu dan suami membalik jagung agar keringnya rata.

Mendung dilangit kian terlihat. Isyarat itu dibaca sang pria, bergegas dengan istrinya mengumpulkan jagung dan menutupnya dengan terpal. Seiring kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Namun disampaikannya ke kami, bahwa perkampungan Kabanta telah dekat, satu tikungan lagi di atas tanjakan. (bersambung)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
To Top