Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Video Panas “Ora Ari, Ora…”

Oleh: Muhammad Fikrillah

Saat pulang kampung ke Kecamatan Sape, ujung Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pekan lalu, saya mendengar teriakan kaum remaja pada sejumlah sudut. Di pasar, di tengah jalanan, bahkan di lingkungan sekolah. Teriakannya sama dan mengacu pada maksud yang sama pula. Terakhir, Selasa lalu, saya juga mendengar ucapan yang masih mengakrabi kuping. Sama seperti kaum remaja di Sape dan Lambu itu. Kali ini di terminal Dara Kota Bima.

Ketika itu ada seorang wanita yang turun dari bus AKAP Rasa Sayang, penumpang wanita berkaos putih dan ber-jeans biru tua. Berkacamata. Saya tidak tahu apakah dia asli Sape ataukah memang tujuannya ingin melanjutkan perjalanan ke Provinsi NTT. Dia memilih naik ojek dengan tawaran Rp25.000.

Saat menyatakan ingin ke Sape, sebagian pengojek mengucapkan “ora ari, ora…” Memecah kesunyian dini hari itu. Caption itu dilekatkan dan menjadi ‘trade mark’ wilayah Sape dan Lambu. Mau tahu artinya kan? “Teriaklah Dik, teriaklah…” Padanan kata ‘ora’ dalam bahasa Bima hampir sama artinya dengan ‘kanggica’. Kuping saya pun terasa gatal. Plus rasa penasaran membuncah.

Ucapan itu mengacu pada dua video porno yang beredar luas di tengah masyarakat. Durasinya 02.46 dan 02.38 menit. Kabarnya, masih ada satu segmen lagi. Informasi yang dihimpun, video itu direkam paksa beberapa hari sebelum peristiwa berdarah di pelabuhan Sape yang menewaskan dua remaja massa antitambang emas dan menasional itu. Kasus esek-esek itu tertutup oleh gaung penolakan tambang emas.

Dari cuplikan video itu, dua pemuda memergoki pasangan yang berpacaran di areal wisata pantai Papa Kecanatan Lambu. Dua pemuda membungkam sang pria dan membuatnya tidak berkutik. Pacarnya “dikerjain” dan dipaksa melayani nafsu bejatnya.

Dari gambar yang terlihat, hanya satu orang yang memompa hasrat setan di pinggir laut dan sisi karang itu. Satu orang lainnya merekam. Sesekali yang wanita meminta agar adegan itu dihentikan, namun tidak berdaya. Pemberontakannya tidak terlalu kuat, layaknya mereka yang berusaha menjaga kesuciannya. Tapi, yang jelas dibawah ancaman serius. Antara lain ancaman ditimpuk dengan batu. Perekam pun meminta agar sang wanita berteriak (ora).

Nah, kata-kata itulah yang kini populer di kalangan anak-anak, remaja, bahkan kaum dewasa. Caption ‘ora ari, ora…’ itulah yang kini membumi. Fakta ironis lainnya, jika ada wanita yang berjalan sendirian, kata-kata itu pula dengan semangat diucapkan kelompok laki-laki. Tidak peduli apakah dipahami atau tidak.

Persoalannya kemudian bukan hanya sekadar ucapan, video itu merusak moralitas, karena menjadi sumber tontonan gratis. Jika saja pihak sekolah di Sape dan Lambu mengetatkan razia mendadak, saya sangat yakin ada yang mengoleksinya di telepon seluler. Tampaknya pihak sekolah perlu mengadakan razia kejutan seperti itu setiap saat.

Kemajuan teknologi informasi dan teknologi memang memudahkan berbagai aspek kehidupan. Banyak hal-hal yang dulu sulit didapatkan dalam waktu relatif cepat, kini bisa diakses dalam hitungan detik. Namun, sisi ganda informasi dan teknologi sangat meracuni bagi yang gagal mem-filter diri. Contohnya adalah kita seringkali dikagetkan dengan kemunculan heboh video porno yang dibuat oleh pasangan kekasih atau selingkuhan. Tidak hanya di Bima, di daerah lain pun demikian. Kasus Luna Maya, Cut Tari, dan Ariel adalah fakta bagaimana teknologi meracuni moralitas kehidupan, karena video esek-esek mereka dengan mudah bisa digandakan. Anda pernah menontonnya kan?

Kasus video “Ora Ari, Ora…” itu juga dikoleksi sejumlah remaja dan pelajar di Bima. Remaja mendapatkan “pendidikan seks” gratis audio visual yang meletupkan libido setiap saat. Jika saja ditonton bersama oleh pasangan kekasih, maka agenda lanjutannya bisa dicurigai ketika menyudut atau memasuki ruangan tertentu. Mereka bisa tergoda memraktikkannya secara sembunyi, karena ada potensi setan di antaranya. Efek paling mungkin adalah lintasan hari-hari remaja galau, pikiran melayang-layang. Galau menyergap setiap inci pergerakan. Seperti lagu Ingat Kamu-nya Dina Mariana “Aku mau makan, ingat kamu (video panas itu). Aku mau tidur, ingat kamu. Aku mau belajar, ingat kamu…”. Runutannya adalah maksimalisasi pemahaman materi belajar kececer.

Pengetatan pengawasan dan pemblokiran situs-situs porno atau gambar vulgar oleh Kemenkominfo RI yang diunggah di internet sejak beberapa waktu lalu mesti diapresiasi. Sebagai bentuk antisipasi, langkah itu sangat tepat, karena memenggaruhi moralitas anak bangsa. Kebebasan berekspresi memang diakui bagian dari hak asasi manusia. Tetapi, mengumbar pornografi yang kebablasan ke ruang publik, memerlukan intervensi Negara. Negara mesti sigap “membumihanguskannya”. Saya setuju itu. Bagaimana menurut Anda?

(Pernah dimuat di http://sosbud.kompasiana.com/video-panas-ora-ari-ora/)

 

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini. – Menanggapi video viral pelajar yang berdebat dengan anggota Sat Lantas saat ditilang, Kasat Lantas Polres Bima Kabupaten, IPTU Caka Gde Putu,...

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.com.- Kasus video tarian bugil (striptease) yang diduga diperankan pelajar SMAN 3 Kota Bima dan beredar beberapa waktu lalu, hingga kini masih...

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.com.- Kepolisian Resort (Polres) Bima Kota hingga kini masih menyelidiki penyebaran video mesum yang diduga melibatkan oknum Polisi dengan wanita asal Kelurahan...

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.com.-  Puluhan  massa gabungan dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Immawati Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bima, Sabtu lalu, menyuarakan tuntutan moral....

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.com.- Pihak Kepolisian diminta tidak ‘tebang pilih’ dalam proses hukum kasus video mesum, sekalipun melibatkan oknum anggotanya. Penanganan kasus tersebut mesti transparan agar...