Opini

Asi dan BO Mbojo: Refleksi Integritas Dou Labo Dana Mbojo

(Muhammad Adlin Sila)

Asi dan BO adalah representasi identitas Dou Mbojo. Keduanya iba­rat dua sisi koin emas. Jika salahsatunya cacat, maka hilanglah nilai koin itu. Asi adalah simbol integritas sebuah bangsa, sedangkan BO adalah rekaman tertulis perjalanan Dou Labo Dana Mbojo. Tanpa keduanya, integritas Dou Mbojo dipertanyakan. Saya kira Ina Kau Mari atau Dr. Hj. Siti Maryam sadar hal itu, sehingga tetap berdedikasi melestarikan Asi dan BO, meski usianya tidak lagi muda. Tentunya tanpa dukungan Pemerintah Kota dan Kabupaten Bima, itikad itu mustahil dapat terpenuhi.

Bagaimana dengan generasi muda Dou Mbojo? Apakah memiliki kepedulian yang sama? Pertanyaan ini memang tidak untuk dijawab, karena tujuannya hanya ingin mengajak untuk refleksi kolektif. Pertanyaan lain adalah, jika ditanyakan berapa jumlah Asi (istana) di Bima kepada kebanyakan Dou Mbojo, mereka umumnya menjawab dua, Asi Mbojo dan Asi Bou. Mengapa? Karena itulah yang tampak terlihat ketika berkunjung ke Museum Asi Mbojo. Konstruksi Asi Mbojo permanen, sedangkan Asi Bou berbahan kayu atau disebut Uma Ceko (siku). Keduanya memiliki Sambulayang (timpalaja, Bugis) atau atap bersusun tiga pada kedua sisi bangunan. Di pintu masuk terdapat Lare-Lare, atau bangunan kayu berlantai dua dan bersegi enam.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui kalau masih ada Asi selain kedua Asi yang disebutkan tadi. Asi itu bernama Asi Kalende, berbahan kayu juga, tapi berbentuk Uma Pa’a (pahat). Asi Mbojo yang permanen awalnya terbuat dari kayu pada zaman Sultan Ibrahim, kemudian dipugar dan dibangunlah Asi Mbojo sekarang oleh Sultan Muhammad Salahuddin. Asi Bou (baru) disebut ceko karena setiap tiangnya ditopang oleh kayu balok bersiku. Asi Kalende disebut pa’a karena tiangnya dipahat tempat balok penyangga tiang. Letak Asi Mbojo di Kelurahan Paruga, sebelah Utara Masjid Sultan Muhammad Salahudin dan sebelah Timur  lapangan Merdeka. Lokasi Asi Kalende berada di Kelurahan Pane, tidak jauh dari kompleka Pemakaman Bata, Raja Bicara, dan diapit oleh jalan Datuk Dibanta dan jalan Patimura. Jika Asi Mbojo semakin memercantik diri, Asi Kalende semakin mengenaskan kondisinya, untuk tidak mengatakannya terbengkalai.

Keberadaan Asi Kalende terkait dengan Bicara Quraish. Bicara atau Mangkubumi ini berkuasa di zaman Sultan Ibrahim. Bicara Quraish bertempat tinggal di Asi Kalende sedangkan Sultan Ibrahim di Asi Mbojo. Konon, Asi Kalende, istana Bicara, diyakini sebagai istana pertama. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan  patung Naga yang terbuat dari kayu dan masih terpasang di ujung atap teras istana. Kalau menelisik kembali sejarah, lambang bendera Bima pada zaman pra-Islam adalah Naga. Kalau tidak percaya, datanglah ke lantai dua Museum Asi Mbojo untuk melihat bendera kerajaan Bima yang terpajang di dinding ruang tamu. Sementara itu, istana Sangaji (Asi Mbojo) memiliki simbol burung garuda berkepala dua yang terkait dengan cerita mitos asal-usul Keris La Gunti Rante. Tetapi saat ini, simbol burung Garuda berkepala dua menjadi simbol kerajaan (kesultanan) Bima.

Apa makna keberadaan Asi Mbojo dan Asi Kalende ini bagi Dou Mbojo (orang Bima)? Maknanya adalah bahwa Asi inilah yang menjadi simbol budaya pembelahan sosial (social classification) Dou Mbojo, yaitu Sangaji atau sultan di zaman Islam dan Bicara atau Mangkubumi. Sangaji adalah keturunan Manggampo Donggo dan Bicara adalah keturunan Bilmana. Keduanya adalah adik kakak. Anak keturunan Manggampo Donggo atau Sangaji bertempat tinggal di Asi Mbojo sementara anak keturunan Bilmana berdiam di Asi Kalende. Tadinya, Bilmana duduk sebagai Sangaji. Tetapi, karena suatu dan lain hal, Bilmana menyerahkan tahtanya kepada adiknya Manggampo Donggo. Lahirlah kemudian ikrar sumpah yang harus dipatuhi oleh anak-cucu keduanya kelak yang kemudian dikenal dengan “Sumpah Bilmana”. Hingga berakhirnya masa kekuasaan Sultan Muhammad Salahuddin tahun 1951, pembelahan sosial ini masih berlaku sampai sekarang.

Dari kedua kelompok sosial itu, terdapat kelompok lain yang disebut ma kalosa weki (atau orang yang memisahkan diri). Kelompok ini berasal dari Sangaji atau anak keturunan Manggampo Donggo. Mereka memisahkan diri dari kerajaan, karena ada kebijakan yang tidak disetujui. Akhirnya keluarganya itu digiring keluar, meski masih sah secara darah keturunan. Keturunannya yang paling terkenal adalah Daeng Pabeta dan Daeng Manasa.

Bagaimana dengan naskah BO. Naskah kuno beraksara Pegon atau Jawi yang bernama BO itu jumlahnya juga ada dua; BO SANGAJI KAI dan BO BICARA KAI, yang pertama ditulis oleh Sultan, sementara yang kedua oleh Bicara. Naskah pertama berkaitan dengan surat menyurat Sultan dengan pihak luar seperti dengan kerajaan atau kesultanan lainnya di Nusantara, atau dengan pihak Belanda. Misalnya, surat-menyurat Sultan Ibrahim dengan Kerajaan Belanda yang termuat dalam buku “Iman dan Diplomasi”. Naskah yang kedua lebih banyak berkaitan dengan masalah rumah tangga Kesultanan Bima.

BO itu sebenarnya kumpulan catatan-catatan yang terpisah-pisah dalam bentuk lembaran. Kitab BO SANGAJI KAI yang tebalnya setebal 712 halaman itu sumbernya berasal dari lembaran-lembaran yang terpisah lalu dikompilasi menjadi satu buku. BO ini kemudian ditransliterasikan ke huruf latin oleh Professor Henry Chambert-Loir dan Hj. Siti Maryam yang keberadaannya dapat kita akses dengan mudah di Perpustakaan Pemerintah Kota dan Kabupaten Bima. Tetapi, perlu dicatat bahwa naskah BO yang terbit itu baru sebagian kecil dari naskah yang dimiliki oleh kelompok Sangaji. Pada zaman kesultanan, setiap pejabat yang memiliki gelar pasti menyimpan BO, misalnya Lebe Na’e (imam besar di masjid agung) memiliki BO yang isinya tentang nika ra neku (catatan pernikahan-pernikahan di masyarakat). Terkadang pejabat lain menulis BO di tiang-tiang rumah kayu. Dengan begitu, BO SANGAJI KAI adalah semacam laporan pertanggungjawaban setiap jeneli (lecamatan) kepada Sultan. Sedangkan waktu pengumpulannya dilakukan pada tanggal 17-18 Ramadhan setiap tahun. Mengapa dalam bulan Ramadhan? Agar setiap jeneli memberikan laporan yang jujur, tidak berani berdusta (fiktif) dan tidak mengada-ada (mark up).

BO BICARA KAI ditulis oleh Sakuru yang juga adalah adik Bicara. karena bertanggungjawab dalam masalah dalam negeri, aspek yang ditulis dalam naskah ini sangat luas mulai dari masalah agama, perayaan Hanta U’a Pua, hukum dan adat istiadat Dou Labo Dana Mbojo. Karakteristiknya sama yaitu berupa lembaran-lembaran terpisah dan dimiliki beberapa orang keturunan Bilmana. Hanya saja, keberadaannya belum terkompilasi dengan baik seperti BO SANGAJI KAI.

Pernah seorang filolog (ahli naskah) dari Bandung, namanya Helius Syamsuddin, melakukan inventarisasi naskah BO BICARA KAI dengan merujuk pada naskah yang dimiliki Lalu Maisir Abdullah. Tetapi, keberadaan inventarisasi tersebut tidak pernah diketahui dengan pasti, karena tidak dipublikasikan.

Kesimpulannya, meski sempat dikritik keberadaannya terutama oleh kelompok yang anti dengan perilaku-perilaku feodal dan anak keturunan bangsawan,  Asi dan BO sudah menjadi milik masyarakat dan bukan semata-mata milik Sangaji maupun Bicara. Terdapatnya dualitas dalam klasifikasi keduanya tidaklah terlalu fatal sifatnya, karena keduanya saling melengkapi dalam merepresentasi integritas segenap Dou Labo Dana Mbojo. (*)

 

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top