Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Doa Bola: Ritual Penyucian Diri pada Bulan Sya’ban

(Muhammad Adlin Sila)

Ramadhan 1433 Hijriyah sudah tiba. Bulan dimana syaitan dibelenggu agar tidak menggoda manusia. Pada bulan sebelumnya yaitu Sya’ban, ummat Muslim  di Indonesia telah menyiapkan diri menyambut Ramadhan dengan berbagai ritual, seperti Nisfu Sya’ban.

Namun, cara merayakannya berbeda pada satu masyarakat Muslim dengan lainnya. Misalnya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Muslim di Bima merayakan Sya’ban dengan menggelar ritual Doa Bola.

Masih teringat ketika bulan Sya’ban, hampir setiap usai shalat Maghrib atau Isya, saya menerima undangan untuk menghadiri ritual Doa Bola dari tetangga. Malam Jumat yang paling sering karena diyakini paling afdhal. Pada tanggal 5 Juli usai shalat Maghrib di Masjid Al-Muwahidin, tepatnya di Kelurahan Pane, tempat saya tinggal, saya menerima kurang lebih 10 undangan Doa Bola secara bersamaan. Biasanya hanya 1 atau 2 undangan pada hari lain. Penyebabnya adalah karena tanggal 5 Juli itu bertepatan dengan pertengahan bulan Sya’ban, dan juga malam Jumat. Saya mulai dengan menghadiri undangan pertama dari Pak Ahmad (nama samaran).

Waktu itu, sambil berdiri di pintu keluar masjid, Pak Ahmad dengan senyum mengulum mengundang setiap jama’ah  agar mampir ke rumahnya menghadiri ritual Doa Bola. Seorang yang wajib hadir adalah imam masjid. Pak imam inilah yang memimpin Doa Bola. Setiba di rumah Pak Ahmad, imam memulai dengan membaca Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falakn dan An-Nash, lalu kemudian membaca Surat Yasin. Setelah itu ditutup dengan doa.

Usai pembacaan doa, para jama’ah menunggu momentum yang paling ditunggu-tunggu, yaitu pembagian bungkusan plastik yang disebut jangko. Tetapi, saya tidak akan membahas itu secara detail, melainkan lebih mengulas jangko secara deskriptif dan filosofis.

    Namun, sebelum itu, saya akan menjelaskan apa itu Doa Bola. Ritual khas Bima yang juga disebut atau Wura Bola ini bermakna bangun untuk berdoa. Ritual ini biasa dilakukan oleh masyarakat Muslim di Bima selama bulan Sya’ban. Tujuannya sama dengan masyarakat Muslim lain di Indonesia, yaitu membersihkan diri atau menyucikan diri sebelum datangnya bulan Ramadhan. Bedanya, jika masyarakat Muslim lain mulai melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat sunnat dan puasa pada pertengahan bulan Sya’ban atau dikenal dengan Nisfu Sya’ban, Muslim di Bima melakukannya sejak 1 Sya’ban hingga menjelang Ramadhan.   

Dalam ritual Doa Bola, jama’ah hanya membaca Surat Yasin. Hal yang menarik pada ritual Doa Bola adalah keberadaan jangko. Usai mengikuti pembacaan Surat Yasin yang berjumlah 83 ayat itu dan ditutup dengan doa panjang dari Pak Imam, jama’ah disuguhi jangko. Terdapat beberapa panganan yang harus ada dalam jangko yang biasa disebutbesek ini pada masyarakat Betawi di Jakarta. Tetapi, yang utama adalah Oha Mina (atau nasi minyak) dan kalo (pisang raja).

Oha Minaterbuat dari beras ketan dengan campuran minyak kelapa. Setelah jadi, Oha Mina ditaburi bawang goreng dan kara’ba (gorengan padi). Kara’ba berasal dari gabah atau padi yang masih ada kulitnya. Gabah digoreng tanpa minyak di atas wajan hingga padinya mengembang seperti pop corn.

Selain Oha Mina, beberapa jajan (kue) khas Bima, seperti kalo (pisang raja), pangaha bunga (kue kembang), ponte kalo (fla atau kolak yang dibungkus daun pisang), range (terbuat dari kelapa dan tepung beras) dan tarakeli (kue kering dengan taburan gula pasir) menjadi kue pendamping Oha Mina. Semuanya dimasukkan dalam wadah kertas karton atau baskom ukuran kecil.

Bahan yang disiapkan untuk membuat Oha Mina adalah sebagai berikut: beras ketan, kelapa, bawang merah, merica, ketumbar, daun sereh, lengkuas, minyak kelapa, jeruk nipis, garam, gabah padi, dan hati kambing. Cara membuatnya adalah dengan memasaknya tiga kali; beras ketan dimasak hingga matang, setelah itu dimasak lagi dengan santan, dan yang terakhir dimasak dengan minyak dan rempah-rempah yang telah disiapkan. 

     Tidak sembarang orang yang boleh memasak Oha Mina. Tetapi, satu yang pasti adalah harus perempuan. Biasanya perempuan yang sudah berusia paruh baya atau lebih. Terdapat nasehat orangtua bahwa perempuan yang menyiapkan Oha Mina tidak boleh dalam keadaan datang bulan atau haid. Makanya yang diutamakan adalah perempuan tua yang sudah menopause. Dia juga harus melakukan wudhu sebelum menyentuh bahan-bahan yang telah disiapkan untuk membuat Oha Mina.

      Pada tetangga sebelah, Ummi Doji (Khadijah), seorang janda dan sudah berusia 60 an tahun, yang menyiapkan Oha Mina. Dia sudah berhaji, makanya dipanggil Ummi, shalatnya rajin, dan sudah menopause alias tidak haid lagi. Ummi Doji paling memenuhi syarat untuk itu.

Sekitar pukul 8 pagi, saya melihat Ummi Doji menapis beras ketan sampai yang tersisa hanya berasnya. Dari pengamatan saya, Ummi Doji memulai dengan membaca Bismillah kemudian shalawat lalu membaca Surat Maryam sebelum mencuci beras ketan sebanyak tujuh kali dengan air. Setelah itu, beras ketan dimasak hingga matang kemudian dicampurkan santan dan minyak kelapa sambil Ummi Doji kembali membaca Surat Maryam.

Ketika saya menanyakan makna pembacaan Surat Maryam dalam proses pembuatan Oha Mina, Ummi Doji menjelaskan bahwa pembuatan Oha Mina mengajarkan ibu-ibu dan para gadis yang belum menikah cara menyiapkan makanan buat suami atau bakal suami kelak. Proses pembacaan do’a dimulai ketika mengambil beras di wadah penyimpanan beras hingga menanak nasi dan menghidangkannya di meja.

Ummi Doji meyakinkan bahwa nasi yang dihidangkan dengan melalui proses pembacaan doa mulai dari menghambil beras, mencuci dan menanaknya akan menyebabkan suami betah di rumah dan tidak berfikir selingkuh dengan perempuan lain, atau dalam istilah Bimanya, kamidi kai rahi.

Ummi Doji bercerita bagaimana suaminya yang dimutasi ke Dompu selama 5 tahun hanya dijalaninya selama 2 tahun. Selama 2 tahun itu, sang suami hanya betah berada di Dompu selama 2 hari dalam seminggu, sisanya dihabiskan di Bima. Ummi Doji begitu sumringah menceritakan pengalaman berumah-tangga dengan suaminya yang sudah almarhum itu.

Makna filosofis ritual Doa Bola mengingatkan kita bahwa kebahagiaan rumah-tangga itu letaknya di rumah dan bukan di tempat lain. Doa Bola tidak hanya bermakna teologis tentang bagaimana menyiapkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan, tetapi juga menyucikan diri dari hal-hal yang merusak dalam kehidupan rumah-tangga (misalnya, selingkuh).

Semoga kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Sya’ban tahun depan dan kembali merayakan ritual Doa Bola. Selamat berpuasa.

Penulis adalah kandidat Doktor bidang Antropologi  pada Australian National University (ANU)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

SEMPAT meneteskan air mata ketika menyaksikan Palu yang porak poranda dari kaca pesawat sebelum mebdarat di kota itu. Hari pertama tiba, langsung menangani pasien...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.com.- “Kita harus prihatin kepada generasi selanjutnya. Sebab, daerah Bima sudah telanjur dicap sebagai daerah penganut faham radikal, pencipta teroris, dan perang...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.com.- Pelajar SMAN 1 Belo, Nur Titin Puspita Sari, meraih dua juara pertama, yakni Lomba Penulisan Cerpen dan Puisi pada Pekan Budaya...

Politik

Bima, Bimakini.com.- Blusukan tahap kedua dilakukan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bima, Ady Mahyudi-A Zubair di Kecamatan Palibelo, Selasa (27/10/2015). Mereka menyambangi tiga...

Olahraga & Kesehatan

Kota Bima, Bimakini.com.- Arif Rahman, petenis muda berbakat lebih dulu memastikan diri mewakili NTB di kancah multi even Pekan Olah Raga Nasional (PON) Jawa...