Opini

Keluarga sebagai Basis Pendidikan Karakter

(Muhammad H. Abubakar)

Seorang filosof klasik China bernama K’uan-Tzu (551-479 SM), pernah berujar, “Jika Anda merencanakan sesuatu untuk dipanen dalam setahun, maka tanamlah biji. Jika untuk sepuluh tahun, tanamlah pohon, jika untuk seratus tahun didiklah manusia. Ketika Anda menabur sebiji benih, Anda akan memanen sekali. Tetapi, ketika Anda mendidik satu orang, Anda akan memanen seratus generasi”.  Betapa bijaknya kata-kata bijak ini. Suatu ungkapan analogis,tetapi mengandung pesan kuat tentang pentingnya pendidikan, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan  merupakan “tanaman keras” yang baru dapat dilihat hasilnya setelah berbilang masa, tetapi dapat dinikmati berulang kali.

Namun,kata-kata filsafat itu dapat juga dipersepsi terbalik. Ketika “tanaman” pendidikan tidak dilaksanakan sesuai fungsinya, dalam arti tanpa diikuti perawatan, pemupukan serta perhatian yang semestinya, maka alih-alih dipetik hasilnya, malah tanaman itu didapati dalam situasi hidup enggan matipun tidak mau. Atau mungkin layu sebelum berkembang.

Pendidikan merupakan institusi kehidupan yang sama tuanya dengan sejarah manusia. Semua orang, baik pada latar budaya besar atau kecil, primitif atau modern, pasti mengalami pendidikan yang pertama dan utama di dalam lingkungan rumah-tangga atau keluarganya. Pada mulanya orangtua yang berfungsi sebagai pendidik anak-anaknya. Berbagi peran telah terjadi dalam kesadaran serta kebijakan yang mungkin masih sangat terbatas dan sederhana, tetapi penuh tanggung jawab. Ayah mendidik anak laki-lakinya bertani atau nelayan, sedangkan ibu melatih anak gadisnya mengerjakan keterampilan domestik. Di sela kesibukan itu,terselip juga pendidikan budi pekerti. Karya orangtua dahulu, betapapun, telah menghasilkan sebagian terbesar dari generasi yang mengaku diri moderen, post-modernism, atau post-structuralism seperti sekarang ini. Namun, realitas kehidupan dan waktu membatasi peran tradisional pendidikan itu. Sekarang anak harus masuk sekolah, bahkan lebih dini lagi, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-Kanak (TK).

Melalui pendekatan pendidikan formal atau sekolah, segala tuntutan pengetahuan, sikap dan keterampilan dapat diselenggarakan dan dipenuhi. Model pendidikan ini pada hakikatnya meluaskanperan yang tidak mungkin dipenuhi semuanya oleh orangtua,betapapun itu menjadi tanggung jawab kodratnya. Kebijakan pendidikan sekolah lahir karena komitmen dan tanggung jawab bersama dalam pendidikan untuk kepentingan membangun generasi. Sayangnya, komitmen itu tidak sepenuhnya dapat dipatuhi, atau tepatnya tidak dioptimalkan. Para orangtua cenderung berasumsi bahwa tugas pendidikan memang tugas dan tanggung jawab negara (pemerintah), penerima mandat dari masyarakat. Baik buruknya pendidikan anak-anak mereka adalah indikator keberhasilan pemerintah (sekolah) di sektor ini. Orangtua telah terbebani pekerjaan dan profesi masing-masing yang cukup menyita waktu. Pihak manajemen sekolah berargumen bahwa waktu pelayanan yang tersedia bagi peserta didik rata-rata hanya tujuh jam waktu efektif per hari di sekolah. Alasan ini mengisyaratkan bahwa waktu buat anak-anak justru jauh lebih besar berada pada jangkauan orangtua mereka.

Mari tidak melanjutkan polemik ini. Prinsip utama yang perlu dimenangkan adalah meningkatkan kerja sama dan berbagi tanggung jawab secara proporsional dalam melaksanakan tugas serta fungsi masing-masing di antara dua komponen pendidikan, guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Jika ditilik dari saripatinya, tujuan pendidikan nasional itu untuk mengembangkan potensi peserta didik dari aspek kecerdasan, kepribadian dan akhlak. Mungkin dari aspek pengembangan kecerdasan intelektual, sebagian orangtua memiliki keterbatasan, tetapi untuk membentuk kepribadian dan mendidik akhlak merupakan bagian yang imperatif dan berbasis pada keluarga. Disinilah titik temu peran kedua komponen pendidikan itu,yakni dalam menautkan antara kepentingan pengembangan intelektual dan pembangunan karakter. Penyatuan dua sisi ini merupakan tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya, yaitu kecerdasan yang berkarakter.

Sebagai bentuk responsterhadap keresahan masyarakat tentang kondisi bangsa yang memrihatinkan akhir-akhir ini, pemerintah kembali menggaungkan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Tambahan pula hal ini diminta untuk percepatan, penguatan dan menjadi skala prioritas dalam menghadapi persaingan global. Ini dapat dirasakan, karena gempuran persaingan global dan image bangsa sedang menjadi pertaruhan semua bangsa-bangsa di dunia ini tanpa kecuali. Dalam kondisi yang wajar, transformasi budaya ataupun penguatan karakter memang sudah inheren dengan pendidikan dalam bentuk apapun dan dalam lingkungan manapun. Oleh sebab itu, sudah harus disemaikan sejak dini dalam bentuk pendidikan informal di lingkungan keluarga, kemudian bersinergi dengan pendidikan formal di sekolah dan akhirnya mendapatkan ujian dan pengakuannya dalam kehidupan sosial yang luas.  

Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang plural, yang memiliki beragam adat-budaya, agama, etnis, dan suku. Keanekaragaman itu jarang dimiliki oleh bangsa lain. Secara internal keanekaragaman itu berpotensi baik dan juga buruk, peluang sekaligus tantangan. Jika disatukan semua potensi itu akan menjelma menjadi kekuatan dahsyat, tetapi secara empirik tidak jarang terjadi konflik yang justru dipicu oleh perbedaan itu dan sering kali didalangi oleh tokoh intelektual. Ini adalah persoalan karakter.

Kelemahan karakter ini mencerminkan disintegrasi kepribadian yang secara ekstrim berdampak pada patologi sosial (penyakit sosial) yang bisa berwujud penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif, kekerasan, eksploitasi perempuan dan anak, kejahatan, terorisme, korupsi, kriminalitas, diskriminasi, isolasi, stigmatisasi dan pelanggaran HAM. Sejatinya ini semua adalah fenomena yang terjadi secara global. Masalah yang melampaui batas dan dapat menyebar seperti penyakit.

Oleh sebab itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa tersebut tidak seharusnya hanya dilihat sebagai masalah “persaingan” dalam arti sempit, tetapi harus diletakkan dalam proporsi kemanusiaan secara utuh dan total. Artinya, upaya memperkuat karakter bangsa harus disertai dengan usaha prefentif agar terbentuk nasionalisme yang luas, imun dan sehat. Dengan demikian,dapat membendung epidemi berbagai penyakit sosial tersebut, bahkan secara tidak langsung mobilisasi ini ikut menyehatkan masyarakat dunia.

Dalam komteks itu, menjelmakan pribadi yang berkarakter bukan hal yang mudah. Berkarakter tidak cukup hanya mengetahuimana baik dan mana buruk. Itu tidak cukup kuat mendorong orang melakukan yang baik dan menghindari yang buruk. Kecuali sudah tumbuh kesadaran dalam diri bahwa melakukan kebaikan dan membenci keburukan merupakan kebutuhan baginya, kemudian menjelma menjadi suatu kebiasaan berperilaku dalam kehidupannya.

Proses menuju kondisi karakter ideal ini memerlukan waktu lama dan ruang yang luas. Menurut Ki Hadjar Dewantara, anak usia 1-7 tahun mulai diberikan contoh atau teladan dan pembiasaan; anak usia 7-14 tahun diberikan pengajaran dan perintah, hukuman, dan paksaan; anak usia 14-21 tahun adalah masa terbentuknya karakter secara intrinsik (berkesadaran), maka perlu dipupuk disiplindiri dan kekuatan moral. Berdasarkan tradisi kebanyakan masyarakat Indonesia, rentang usia manusia tersebut umumnya masih berada dalam pengasuhan orang tua. Oleh sebab itu, meskipun aksentuasi dan intensitas yang diberikan mungkin berbeda, namun penanaman pendidikan karakter anak tetap diharapkan menjadi perhatian orangtua atau keluarga.

Sehubungan dengan uraian tersebut, pendidikan keluarga tidak dapat dipandang remeh. Sebab, segala sesuatu yang baik dan yang buruk berawal dari sini. Sebagaimana pepatah Barat: all things begin from home. Itulah sebabnya mengapa pendidikan keluarga disebut pendidikan pertama dan utama bagi manusia. Tidak berlebihan jika dikatakan tarbiyah bagi dunia ditentukan oleh dunia yang terkecil, yaitu keluarga. Seorang manusia yang “ditanam” dengan baik oleh keluarga, sejuta generasi menjadi “panenan” yang baik pula. Untuk menutup tulisan ini ada baiknya dikemukakan pandangan berikut: 

Keluarga merupakan peran kelompok sosial yang paling nyata. Berurusan dengan kehidupan manusia muda dalam ikatan darah dan kesamaan untuk tujuan pengembangan karakter pribadi. Keluarga memiliki peran pendidikan yang paling mendasar. Mengingat bahwa ‘pendidikan’ adalah pengem-bangan kekuatan hidup yang teratur, maka keluarga diyakini memiliki kemampuan untuk mewujudkan maksud tersebut, terutama kemampuan untuk mengembangkan pribadi, kehidupan manusia muda, yang memiliki potensi, visi, kebiasaan-kebiasaan serta pengalaman untuk hidup di atas tingkat hewani. Keluarga adalah institusi pendidikan yang berurusan dengan kehidupan anak dalam pertumbuhan sepenuhnya dan dalam merealisasikan diri, terutama pada penguatan karakter. Fungsi pendidikan mengesankan potret kehidupan keluarga yang melaksanakannya dengan baik dan berusaha melestarikannya. Berbagai peristiwa insidental bisa saja berlalu, tetapi esensi hubungan manusia dan pengalamannya untuk mengembangkan kehidupan dan karakter harus dipertahankan dengan biaya apapun. (http://www.freefictionbooks.org/).

 Penulis adalah Lektor Kepala pada STKIP Bima.

 

   

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top