Dari Redaksi

Makna 372 Tahun Bima

GULIRAN waktu telah membawa biduk Bima pada angka 372 tahun. Sudah sepuh memang. Bima telah mengalami beragam dinamika dan pengalaman panjang yang sejatinya mampu membingkai kedewasaan, ya dalam warna kehidupan daerah  dan perilaku kita memaknainya. Durasi waktu selama ini mesti terus dipertanyakan sejauhmana dampak positifnya bagi daerah.

Menandai puncak peringatan Hari Jadi Bima tahun ini, buncahan harapan muncul dari berbagai pihak. Pada intinya, bagaimana laju pembangunan dipercepat dan memastikan bahwa  keseluruhan bidang dikelola secara maksimal. Periode  ini mesti lebih baik dari sebelumnya. Tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga nonfisik. Mendikotomikan dua aspek ini akan menyebabkan pembangunan kehilangan ruhnya.

  Sebagian pihak menguatirkan terjadi degradasi moralitas dan karakter yang melingkupi Dou Mbojo. Indikasinya  bisa dirunut dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Sebut saja dua contoh, kasus pembakaran kantor Pemerintah Kabupaten Bima dan fenomena penyakit sosial yang merambah sebagian masyarakat.  Dua sisi itu tidak boleh diremehkan, karena pesan simboliknya sangat jelas. Ketika moralitas dan karakter masyarakat tereduksi secara masif, maka sesungguhnya bisa menjadi embrio “kekalahan peradaban”.     

  Kita mengharapkan momentum Hari Jadi tahun ini dijadikan titik berangkat baru untuk melesat jauh, menoleh sejenak untuk mengambil  jeda nafas baru, selanjutnya merangsek maju hingga batas terjauh.  Tidak menjadikannya hanya sebatas seremonial dan agenda formalitas membosankan, tetapi mendalami inti pesan simboliknya dan diaplikasikan dalam medan kehidupan atau pengabdian.

  Seperti letusan pistol dari bintang film Koboy, gaung Hari Jadi Bima tahun ini mesti semakin menghentak kesadaran baru Dou Mbojo agar merefleksi posisi (maqam) dalam konfigurasi tata dunia global yang kian menantang. Menggali kembali kearifan lokal dan  nilai-nilai luhur  nenek-moyang. Menegaskan amanah menyejahterakan rakyat. Selain itu, aspek penting lainnya adalah keteladanan para pemimpin.

  Tanpa keseriusan reflektif seperti itu, maka percaya saja, rutinitas perayaan  setiap tahun akan kehilangan makna fundamentalnya. (*)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top