Hukum & Kriminal

Mengaku Diancam Bupati, Mahasiswa Lapor Polisi

foto:ist

Bima, Bimakini.com.- Pemuda asal Desa Doro O’o Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima, Sudirmasin, melaporkan Bupati Bima, H. Ferry Zulkarnain dan ajudan Bupati, Ruslan dalam kasus dugaan penganiayaan dan pengancaman ke Polres Bima Kota, Senin (2/7). Berdasarkan laporan oknum mahasiswa itu, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (1/7) sekitar pukul 20.00 WITA di Doro O’o.

Dalam laporan itu pula, Sudirmasin  mengaku bersama Syamsudin ditodong oleh Bupati Ferry Zulkarnain dengan pistol dan diancam akan dibunuh. Laporan itu dilakukannya sendiri  karena rekannya Syamsudin, masih trauma setelah  mendengar ancaman.

Masih berdasarkan surat laporan pengaduan itu, Sudirmasin mengaku akibat terkena berbagai pukulan mengalami luka memar pada bagian muka, sedangkan Syamsudin merasakan sakit pada bagian dada.  Kepada wartawan, dia juga mengaku sudah menjalani visum. Namun, hasilnya tidak ditunjukkan kepada wartawan.

Kemarin, Sudirmasin diperiksa oleh penyidik Kepolisian untuk kepentingan berita acara pemeriksaan (BAP). Hingga Senin sore, pihak Kepolisian belum menyampaikan penjelasan resmi berkaitan dengan laporan mahasiswa itu. Penyidik masih berkonsentrasi membuat BAP, sedangkan Kasat Reskrim Polres Bima Kota masih berada di luar daerah.

Bagaimana versi Sudarmasin soal kejadian itu? Kepada wartawaan  sebelum diperiksa penyidik di Sat Reskrim Polres Bima Kota, Senin, dia mengaku awalnya bersama sejumlah rekannya dari  Forum Solidaritas Pemuda Pelajar Doro O’o mendatangi Bupati Bima yang sedang melaksanakan Bulan Bakti Gotong-Royong (BBGR) di Kecamatan Langgudu untuk mengajukan proposal bantuan komputer dan peralatan lainnya.

Namun, diakuinya, proposal itu ditolak dan dikembalikan oleh Bupati. Alasannya tidak ada anggaran khusus untuk itu dan tidak sesuai program Pemerintah Kabupaten Bima.

Masih menurut Sudirmasin, rekannya Syamsudin saat itu menyobek proposal tersebut di depan Bupati, karena menganggap tidak ada gunanya lagi. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba, Bupati Bima, Ruslan, dan beberapa orang lainnya naik pitam dan mengeroyok Syamsudin di depan warga.

Masih berdasarkan pengakuan Sudirmasin, saat itu berusaha melerai, namun justru ikut dikeroyok dan dipukul berkali-kali. Bupati Bima pun mengeluarkan pistol dan menodong sambil mengancam membunuhnya bersama rekan lainnya. “Saya ditodong dengan pistol oleh Bupati dan mengancam akan membunuh,” ceritanya.

  Melihat kondisi itu, katanya, mereka menghindar dan mengamankan diri. Namun, beberapa personel Sat Pol PP ikut mengejar hingga ke rumah keluarga Syamsudin, tetapi tidak mendapatinya. Hanya saja, saat itu anggota Pol PP mendobrak paksa pintu dan mengobrak-abrik isi rumah.

  Hingga kini, jelasnya, Syamsudin masih bersembunyi karena trauma diancam seperti itu, sehingga hanya dirinya yang datang melaporkan kejadian itu ke Polres Bima Kota.

  Pengakuan senada disampaikan Ikhsan, mahasiswa asal Desa O’o, mengaku Bupati Bima dan ajudannya terlibat dalam pengeroyokan dan pemukulan terhadap rekannya Syamsudin dan Sudirmasin. Pengancaman diduga juga dilakukan Bupati dengan cara menodongkan pistol kepada mereka.

  Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Drs. Aris Gunawan, yang dikonfirmasi mengenai kejadian itu mengaku sama sekali tidak mengetahui informasi jika ada tindakan penganiayaan dan pengancaman yang dilakukan Bupati Bima dan ajudannya, seperti kabar yang berkembang.

  Diakuinya, saat kunjungan BBGR di Kecamatan Langgudu tidak ikut bersama rombongan, sehingga hanya menerima informasi bahwa sejumlah mahasiswa datang menemui Bupati Bima dan menyobek proposal, karena tidak dikabulkan. Selebihnya, tidak mengetahui lebih jauh soal insiden itu.

  “Saya akan cross check dulu informasi ini, karena tidak ikut saat kunjungan sehingga tidak mengetahui lebih jauh,” ujarnya melalui telepon seluler.

  Aris menjanjikan akan memfasilitasi wartawan bertemu dengan Bupati secepatnya untuk mengelarifikasi informasi yang berkembang seputar kejadian itu.

  Di tempat terpisah, Camat Langgudu, Burhanuddin, membenarkan penyobekan proposal oleh mahasiswa dan pemuda di depan Bupati saat malam itu. Namun, tidak mengetahui tindakan penganiayaan, apalagi melibatkan Bupati Bima.

  Mengenai informasi beberapa Pol PP yang mendatangi rumah Syamsudin, dibenarkannya. Diakuinya,  Pol PP saat itu berniat memberikan pengertian kepada mereka dan jika memungkinkan langsung menjemputnya. Tetapi, tidak ada di tempat.

  Berkaitan dengan perusakan yang dilakukan Pol PP, katanya, diakui mungkin saja bisa terjadi karena kondisi lapangan saat itu. (BE.20)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top