Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini & Sudut Pandang

Dahlan Iskan dan Nasi Sisa

Oleh: Khairudin M. Ali

MEMBICARAKAN sosok Dahlan Iskan, mungkin tidak habis-habisnya. Bukan sekadar ikut-ikutan, apalagi saat ini Dahlan Iskan sudah menduduki jabatan menteri BUMN. Bagi saya, seorang Dahlan Iskan merupakan sosok inspiratif yang sudah cukup lama saya kenal. Jauh sebelum banyak media menulis tentang sepak terjangnya ketika menjadi Dirut PLN atau ketika membuka paksa pintu tol setelah menjadi menteri BUMN. Atau karena perilaku spontan yang tidak lazim sebagai pejabat negara. Misalnya naik ojek atau makan di warung pinggir jalan yang tidak mungkin dilakukan oleh menteri kelas atas lainnya.

Foto bersama Dahlan Iskan saat Loka Karya di Pendopo Jawa Pos, 21-26 Juli 1997.

Foto bersama Dahlan Iskan saat Loka Karya di Pendopo Jawa Pos, 21-26 Juli 1997.

SAYA mengenal Dahlan Iskan ketika  menjadi wartawan Lombok Post, sebuah media yang terbit di NTB,  jaringan di bawah manajemen Jawa Pos Group. Kendati Dahlan Iskan tidak mengenal saya secara pribadi, tetapi beberapa kali bersentuhan dengannya membuat saya memiliki banyak kesan baik yang bisa saya jadikan sebagai inspirasi bagi perjuangan saya untuk bisa mengangkat wajah menghadapi dunia. Jadi tidak mengherankan kalau tokoh isnpirasi buat saya di facebook, mencantumkan nama Dahlan Iskan, dan itu jauh sebelum dia menjadi menteri seperti sekarang ini.

Sentuhan dengan Dahlan Iskan, tidak sering, juga tidak lama. Karena Dahlan Iskan bukan sosok yang biasa betah berlama-lama di suatu kota ketika mengunjungi media di bawah Jawa Pos. Pun kalau dia menginap, saya yang hanya berposisi sebagai redaktur, tentu tidak memiliki peluang untuk menemaninya berlama-lama, kecuali pada saat briefing singkat yang dilakukannya.

Seingat saya, Dahlan Iskan akan ke daerah hanya ada dua alasan. Pertama karena ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di daerah, atau kedua karena ada masalah yang dibawanya dari Surabaya untuk segera dilaksanakan di daerah.

Ketidakbetahan Dahlan Iskan berlama-lama di daerah pernah terjadi juga ketika mengunjungi Mataram. Karena ada masalah dengan mesin cetak yang baru saja dipasang, dia terbang dari Surabaya ke Mataram. Seperti biasa, dia tidak pernah jauh dari tampilan lumrahnya yaitu bersepatu kets dan kaos oblong sambil menenteng tas kresek. Begitu tiba, langsung melakukan pertemuan singkat dan memberikan banyak solusi atas masalah yang tadinya tidak bisa diselesaikan oleh orang-orang di Mataram. Saya terkesima memperhatikan cara dia secara spontan memberikan banyak alternatif jalan keluar atas masalah itu. Kesan mendalam pada pertemuan pertama ini rupanya tertanam dalam benak saya. ”Hebat sekali.” kata saya dalam hati.

Tetapi jujur apa yang disampaikan Dahlan Iskan, sesungguhnya sebagian di antaranya sudah saya sampaikan pada kru Lombok Post ketika itu. Tetapi karena yang berbicara bukan Dahlan Iskan, tentu nilainya berbeda dan tidak mau didengar. Bagi saya tidak masalah, yang terpenting adalah cara berpikir CEO Jawa Pos, paling tidak bisa saya raba-raba.

Begitu rapat selesai, solusi sudah disampaikan, Dahlan Iskan minta balik lagi ke Surabaya hari itu juga. Penerbangan dari Bandara Selaparang pada tahun 1995 masih relatif jarang. Tiket sulit diperoleh apalagi dicari secara mendadak.

Pertemuan dengan Dahlan Iskan masih terus terjadi, termasuk ketika membawa konsultan Jawa Pos Group, Mr John Moon. Belakangan baru saya tahu ternyata John Moon adalah pengusaha media di negara bagian Kansas Amerika Serikat. Di sinilah putra Dahlan Iskan yang kini menjadi CEO Jawa Pos, Asrul Ananda dikenalkan dengan dunia koran oleh bapak angkatnya itu, ketika mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Asrul rupanya lebih sering bermain ke kantor redaksi koran bapak angkatnya itu, ketimbang bermain dengan bapaknya ke Jawa Pos yang saat itu masih di Karah Agung Surabaya.

Pertemuan terakhir yang benar-benar sulit saya lupakan adalah ketika para redaktur Ekonomi dan Bisnis Jawa Pos Group mengikuti lokakarya di Pendopo Jawa Pos di Karah Agung tahun 1996, dua tahun sebelum terjadinya peristiwa reformasi pada tahun 1998. Ketika itu, seperti layaknya lokakarya yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga manapun, kami mengikuti setiap materi yang disampaikan nara sumber. Nara sumbernya tidak seluruhnya berasal dari internal Jawa Pos seperti mas Elman, yang saat itu menjadi Redaktur Ekonomi dan Bisnis di Harian Jawa Pos, tetapi juga menghadirkan nara sumber dari luar seperti pengamat ekonomi dari Surabaya yang kerap menjadi nara sumber untuk berita-berita bisnis di Jawa Pos.

Puluhan redaktur bisnis mulai dari Cenderawasih Pos hingga Riau Pos itu dengan tekun mengikuti setiap paparan dan diskusi saat lokakarya pada 21-26 Juli 1997 di Pendopo Jawa Pos Karah Agung itu. Seperti biasa, kami makan nasi kotak dan selalu disertakan sayur atau soup kikil yang dibungkus dengan plastik karena ada kuahnya.

Pada hari-hari menjelang lokakarya usai, kami masih melakukan hal yang sama. Menerima materi, diskusi, dan praktik, istirahat, makan. Sampai akhirnya terjadilah pemandangan yang benar-benar membuat saya terkesima. Kejadiannya demikian cepat,  di depan semua peserta lokakarya. Pada saat itu, seorang kawan dari Riau Pos (saya lupa namanya, semoga dia membaca tulisan ini dan bisa memberikan tanggapan)  pada saat makan malam,  terlihat ogah-ogahan menghabiskan jatah makannya. Entah karena sudah bosan dengan menunya atau sedang tidak enak makan, dia menyisakan lebih dari separuh makanan di dalam kotak yang sudah dia campur dengan soup kikil.

Dia meninggalkan makanannya di lantai, tempat kami juga makan. Kami semua juga tidak peduli dengan kotak yang masih disimpan di lantai itu, karena sebagian besar kami sudah selesai makan dan telah membuang kotak makanan ke dalam bak sampah. Entah dari mana munculnya, tiba-tiba saja Dahlan Iskan sudah duduk bersila  sambil mengangkat kotak nasi sisa tadi dan memakannya. Kami semua tercengang karena dia begitu lahap menghabiskan semua makanan sisa itu di depan kami semua, termasuk kawan dari Riau Pos, si empunya nasi sisa itu. Nasi kotak sisa yang sudah dicampur kuah soup kikil itu habis, tidak ada yang tersisa. Ya, Dahlan Iskan memakan nasi sisa dari kawan kami itu di depan kami semua.

Betapa malunya kawan yang punya nasi kotak sisa tadi. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya merah menahan malu. Kami semuanya melihat aksi CEO Jawa Pos itu tidak bisa berkata apa-apa juga. Tidak ada komentar, semuanya hening. Bahkan setelah Dahlan Iskan meninggalkan kami yang masih bingung, tidak berkata apa-apa juga. Kami juga sama sekali tidak mendiskusi kejadian itu karena tidak enak dengan kawan yang punya nasi sisa yang dimakan Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan rupanya sedang memberikan pelajaran berharga bagi kami semua. Pelajaran  itu begitu kuat tertanam dan berpengaruh pada perjalanan hidup saya selanjutnya. Entahlah dengan kawan-kawan yang lain yang datang dari Papua hingga Sumatera itu. Bisa jadi, ini publikasi pertama tentang kejadian yang telah saya simpan sejak 22 tahun lalu itu. Hingga sekarang, saya tidak pernah lagi menyisakan makanan setiap kali saya makan nasi.

Entah apa maksudnya Dahlan Iskan. Saya tidak perlu menebak macam-macam, termasuk menudingnya mencari popularitas seperti yang banyak dituduhkan padanya di hari-hari belakangan ini.  Yang jelas saya hanya berpikir lebih dari sekadar yang bisa dipertontonkan oleh Dahlan Iskan. Seorang CEO sebuah perusahaan besar mau makan nasi sisa orang yang belum tentu ia kenal. Dilakukan terbuka depan banyak orang, tentu alasannya bukan karena sekadar lapar, tetapi lebih dari itu. Itulah bagian kecil dari sosok Dahlan Iskan yang saya kenal.

Sampai saat ini saya masih mengikuti perjalanan Dahlan Iskan yang memperoleh kesempatan hidup kedua setelah Ganti Hati. Ceo Note (Dua Tangis Ribuan Tawa) ketika menjadi Dirut PLN pun saya ikuti, demikian pula dengan Catatan dari Tiongkok, cerita miskin di Sepatu Dahlan, dan sepak terjangnya sebagai menteri BUMN yang banyak menimbulkan kontroversi. Terlepas dari banyak kontroversi yang dilakukannya, bagi saya sikapnya spontan adalah gambaran sikap rakyat jelata yang butuh penyelesaian cepat dari setiap masalah yang sedang mereka hadapi.  Apa motivasi tulisan ini? Bukan sekadar ikut-ikutan apalagi politis, tetapi sekadar berbagi pengalaman. Bagaimana pendapat Anda? (*)

*)pernah dimuat http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/07/dahlan-iskan-dan-nasi-sisa/

 

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

WARTAWAN senior Dahlan Iskan menulis skala kekecewaan pakar komunikasi yang juga pengajar Ilmu Jurnalistik, Effendi Gazali. Angkanya fantastis, 9.5 pada skala 0-10. Nyaris sempurna...

NTB

Surabaya, Bimakini.- Dalam kunjungan kerja di Provinsi Jawa Timur, Sabtu, 22/7/2017, Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi, bertandang ke rumah mantan Menteri BUMN...

Politik

Bima, Bimakini.com.- Pendukung pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Bima, Indah Damayanti Putri dan Dahlan M Noer, memadati arena  rapat terbuka di lapangan...

Politik

Bima, Bimakini.com.-      Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bima, Bima, Indah Damayanti Puri-Dahlan  dalam upaya memajukan taraf ekonomi rakyat akan menggenjot pembangunan infrastruktur, pertanian, dan...