Connect with us

Ketik yang Anda cari

Sudut Pandang

Ramadan dan Syawal: Ekspresi Kehilangan dan Kebebasan Reguler

                                                                                  (Muhammad Fikrillah)

Selama Ramadan 1433 Hijriyah, tiga kali saya ditodong cuap-cuap tausiyah sebelum shalat tarawih di mushala mungil lingkungan Santi Kota Bima. Tidak ada jadwal tetap. Jamaah yang ditunjuk mesti siap tampil. Tidak ada lagi kesempatan mengelak, sebagian jamaah yang dianggap bisa ngomong mesti unjuk bicara.

Semua jamaah menyadari bahwa momentum ‘kuliah tujuh menit’ itu hanyalah forum untuk saling mengingatkan dan merefleksi diri. Sederhananya saling ber-watashaw bil haq, watawashaw bis-shabr. Memenuhi sebagian panggilan suci agama, yaitu menyampaikan walau hanya satu ayat saja. Terakhir, saya cuap-cuap soal menggairahkan ibadah dan amal shaleh, kemudian bagaimana sebaiknya ujung Ramadan disikapi.
Ya, Ramadan mesti diekspresikan dengan amal ibadah. Bukankah dengan bergembira saja terhadap datangnya Ramadan diganjar dengan pahala? Menggairahkan ibadah itu diekspresikan dengan menambah frekuensinya dari yang selama ini dilakukan. Gairah ini bisa dilakukan dengan memakmurkan masjid, berinfak dan bersedekah. Ramadan adalah lahan garapan untuk menangguk pahala sebanyak mungkin. Ibadah sunnah dinilai layaknya ibadah wajib, sehingga amatlah mengherankan jika masih ada sebagian Muslim yang berleha-leha dan melalaikannya.
Dalam Al-Quran, terdapat sejumlah ayat yang menggabungkan perintah shalat berbarengan dengan berzakat, bersedekah atau berinfak. Antara lain dalam surah Al-Baqarah ayat 3 “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendiirkan shalat dan menginfakkan sebafian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. Perintah shalat kerap disambungkan dengan perintah berzakat dan berinfak. Mengapa demikian?
Dalam buku Sesegar Telaga Kautsar (Tadabbur Kreatif 30 Ayat Motivasi) karya Hudzaifah Ismail dijelaskan bahwa shalat hanya lima kali sehari dengan durasi sekitar sepuluh menit setiap mengerjakannya. Sisanya digunakan untuk hal-hal lain, antara lain ibadah, mencari rezeki dan aktivitas lainnya. Nah, menginfakkan sebagian rezeki kepada yang kurang mampu atau kepentingan dakwah adalah pembuktian dari kebenaran shalat yang dilakukan. Apakah sudah benar atau belum. Melalui perintah infak, Allah menawarkan kesempatan bagi yang kelebihan rezeki agar tidak merasa puas dengan ‘ibadah ritual’ saja, tetapi harus ada juga ‘ibadah finansial’. Muslim mesti mampu menyelaraskan dua hal itu. Semoga kita aman dalam memerankan dua posisi itu.
Sisi lain yang dijelaskan saat cuap-cuap singkat itu adalah kecenderungan umat Islam pada akhir Ramadan dan Idul Fitri. Ada dua kecenderungan yang bisa disaksikan dari sikap umat Islam saat guliran Ramadan mendekati akhir. Ada yang merasakan kehilangan besar karena sejumlah keutamaan Ramadan berlalu. Masa panen amal shalih berlalu dalam siklus lintasan. Ada yang mengisahkan para sahabat Nabi dulu menangis tersedu-sedu melepas kepergian Ramadan. Sama pada awal kedatangannya, bahkan dikisahkan mereka sudah berteriak “pertemukan kami dengan Ramadan” sejak enam bulan sebelumnya. Bulan penuh berkah yang menjadi momentum bagi kaum beriman meraih keutamaan sebanyak-banyaknya. Kerinduan terhadap Ramadan, karenanya membuncah hebat.
Namun, ada pula yang mengulum senyum penuh makna, karena bayang-bayang ‘kebebasan reguler’ pasca-Idul Fitri menari-nari di depan mata. Bagi mereka yang kebablasan soal ekspresi konsumtif ini, melampiaskan hasratnya melahap apa saja saat berbuka puasa. Semacam balas dendam setelah sehari perut dalam kondisi kosong. Apakah ekspresi umat Islam yang memenuhi lokasi wisata dan tempat lainnya pasca-Idul Fitri adalah sinyal mereka menikmati ruang waktu yang tidak lagi terikat aturan Ramadan? Semoga saja tidak semuanya mengental di situ. Tetapi, ada ruang reflektif yang dilakukan untuk me-muhasabah-i detik-detik Ramadan.
Kini, momentum Syawal–yang berarti peningkatan itu–sudah membaluti hari-hari. Ini arena pembuktian. Gugatannya adalah apakah semua  atau sebagian kegiatan ibadah saat bulan Ramadhan akan ditradisikan dan dikonsistensikan di luar Ramadhan. Ataukah sama sekali tidak tampak. Masih harus ditunggu pembuktiannya apakah level kegairahan beribadah selama Ramadan mampu dipertahankan. Apakah semangat memakmurkan masjid hanya karena memenuhi shalat tarawih saja. Apakah kaum dhuafa bisa lebih lama tersenyum, lantaran persoalan mereka terselesaikan karena munculnya kelompok yang semakin sadar membayar infaq dan sedekah.
Syawal mengingatkan bahwa seharusnya setelah menjadi bertaqwa sebagaimana tujuan berpuasa, maka seseorang harus menampakkan diri dalam kualitas kehidupan keberagamaannya yang lebih tinggi. Dalam bahasa lain, kesalehan pribadi mesti dilanjutkan dengan kesalehan sosial agar esensi pesan moral Ramadan kaya makna. Jangan sampai, ekspresi ber-Syawal kita kembali dalam rutinitas ‘kebebasan reguler’ tanpa mampu mengelaborasi atau gagal mengeksplorasi makna kehilangan Ramadan.

(Dalam balutan Syawal di Permata Asri 112 Kota Bima)

Pernah dimuat di lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/08/23/ramadan-dan-syawal-ekspresi-kehilangan-dan-kebebasan-reguler/

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Ekonomi

Kota Bima, Bimakini.-  Komunitas Tangan di Atas (TDA) Bima, berbagi ”Bahagia Bersama Anak Yatim dan Kaum Dhuafa dalam Bingkai Ramadan” kembali digelar. Kali ini...

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.- Maraknya penjual petasan saat  bulan Ramadan   menjadi atensi aparat Kepolisian. Selain meresahkan masyarakat yang sedang beribadah, juga membahayakan.

Dari Redaksi

Publik Mbojo kembali dikejutkan oleh sejumlah kejadian yang muaranya mengindikasikan kegagalan memaknai inti pesan Ramadan. Antara melalui ekspresi dua kubu yang selama ini terlibat...

Peristiwa

Bima, Bimakini.com.- Dalam Rangkaian Bhakti Ramadhan Komunitas Pramuka Peduli kembali menyalurkan bantuan Al – Quran. Bantuan Al – Quran yang diserahkan secara langsung oleh...

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.-  Kontroversi pembagian los pasar Tente semakin meruncing saja. Pembahasan yang berkali-kali dilakukan, belum menemukan titik temu penyelesaian. Aksi demo saling menyuarakan aspirasi...