Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

SMAN 1 Kota Bima Menuju Sekolah Bertaraf Internasional, Mungkinkah?

 Oleh: Drs. Anwar, M.Pd

 Sampai sekarang masih ada yang memertanyakan apa sih (Rintisan) Sekolah Bertaraf Internasional (R) SBI itu? Apa urgensinya sekolah RSBI? Lantas apa bedanya dengan sekolah pada umumnya? Pertanyaan ini muncul lantaran masyarakat (awam) melihat sepertinya tidak ada perbedaan pengelolaan sekolah yang menyandang stigma (R) SBI, semisal SMAN 1 Kota Bima dengan SMA lainnya.

Munculnya pertanyaan dan dugaan-dugaan seperti ini wajar, lantaran sampai hari ini sosialisasi tentang (R) SBI ini pada masyarakat masih kurang. Disamping pengelolaan sekolah yang berpredikat (R) SBI itu belum benar-benar sesuai aturan yang sudah dibuat dalam pedoman pengelolaan (R)SBI tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah pengelolaan sekolah berstatus RSBI (SBI) belum sesuai aturan dan pedoman? Hal inilah yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

       Seorang teman penulis yang sempat melanujutkan S2 di Australia dan sempat tinggal bersama dua anaknya hampir tiga tahun di sana begitu kembali ke Bima bingung, anaknya mau dimasukan SD mana di Kota Bima ini. Kebingungan teman ini lantaran takut jika dimasukan pada SDN di Kota Bima, anaknya yang hanya bisa Bahasa Inggris itu akan bingung berkomunikasi dengan teman dan gurunya yang menggunakan Bahasa Bima dan Indonesia. Anaknya hanya bisa berbahasa inggris. Kekuatiran teman ini yang lebih besar bahwa jika anaknya masuk SD di Kota Bima ini, akan berisiko akan lupa Bahasa Ibuinya di Australia (Bahasa Inggris) itu, dan membutuhkan waktu yang relative lama lagi,  minimal 6 sampai 10 tahun lagi untuk belajar Bahasa Inggris. Hal itu karena siswa di Indonesia (Bima) walaupun sudah belajar bahasa Inggris 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, satu semester di PT (bagi jurusan non-Bahasa Inggris) masih kesulitan berkomunikasi aktif dengan bahasa internasional ini.

       Sayang anak yang sudah terbiasa berinteraksi menggunakan bahasa Inggris ini kemudian lupa dan kembali menggunakan Bahasa Bima atau Bahasa Indoensia. Lantas saya teringat bahwa di Kota Bima ini sudah ada 1 SD, 1 SMP, dan 1 SMA yang oleh Pemkot Bima diberi predikat sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

       Kalau saja 3 jenjang sekolah itu serius mengapresiasi dan mengimpelentasikan  keberadaannya sesuai dengan predikat yang disandangnya sebagai RSBI, maka anak teman tadi tidak perlu kuatir bahasa Inggris-nya akan dilupakan. Sebab anaknya bisa langsung dimasukan di SDN 55 (karena Pemkot Bima telah menentukan SDN tesebut sebagai RSBI). Kalau SMP dimasukan ke SMPN 1 Kota Bima, dan jika SMA masuk di SMAN 1 Kota Bima.

       Kok biasa? Ya iya, sebab sekolah-sekolah yang disebutkan itu guru-gurunya menggunakan sistem bilingual (dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) dalam proses pembelajarannya, walaupun masih terbata-bata (idealnya lancar), sehingga siswa Asing dapat mengikuti pelajaran, walaupun di Kota Bima. Bukan tidak mungkin suatu saat pada era global ini akan banyak orang Asing datang ke Bima. Siapa tahu Pemkot Biam akan terlibat penandatanganan nota kesepahaman (MOU) dengan Amerika, Malaysia, Inggris dan lainnya ntuk mengelola kekayaan alam berupa tambang emas, selanjutnya akan tinggal lama-lama di Kota Bima bersama anak-anaknya yang masih sekolah. Itulah salahsatu rasionalisasi dan visionernya pemerintah  melalui UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat 3 menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang Bertaraf Internasional.

       Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional merupakan Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salahsatu negara anggota Organization for Economic  Co-operation anf Development (OECD) dan/ atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya saing di forum internansional.

       Dengan demikian, diharapkan SBI harus mampu memberikan jaminan bahwa dalam penyelenggaraan maupun hasil-hasil pendidikannya lebih tinggi standarnya daripada SNP. Penjaminan ini dapat ditunjukkan kepada masyarakat nasional maupun internasional melalui berbagai strategi yang dapat dipertanggungjawabkan.

       Untuk dapat memenuhi karakteristik dari konsep SBI tersebut, maka sekolah dapat melakukan antara lain dengan dua cara, yaitu: (1) Adaptasi, yaitu pengayaan/pemdalaman/penguatan/perluasan /penyesuaian unsur-unsur tertentu yang sudah ada dalam SNP dengan mengacu (setara/sama) dengan standar pendidikan salahsatu negara OECD dan/atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memilki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. (2) Adopsi, yaitu penambahan dari unsur-unsur tertentu yang belum ada diantara delapan unsur SNP dengan tetap mengacu pada standar pendidikan salahsatu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

       Seperti telah dijelaskan sebelumnya, satuan pendidikan yang dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional disebut juga dengan rintisan SBI. Dikatakan sebagai rintisan adalah sekolah tersebut disiapkan secara bertahap melalui pembinaan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholders), dalam jangka waktu tertentu yaitu empat tahun diharapkan sekolah tersebut mampu dan memenuhi kriteria untuk menjadi SBI.

       Tahap pengembangan Rintisan SMA Bertaraf Internasional ada 3 tahap, yaitu: (1) tahap Pengembangan (3 tahun pertama); (2)  tahap Pemberdayaan (2 tahun; tahun ke-4 an 5); dan (3) tahap Mandiri (tahun ke-6). Dalam klasifikasi tersebut SMAN 1 Kota Bima memasuki tahun pelajaran 2012/2013 ini berada pada fase/tahap pemberdayaan tahun ke empat (butuh 2 tahun sampai tahun pelajaran 2013/2014) untuk selanjutnya tahun pelajaran 2014/2015 dan seterusnya memasuki tahap mandiri.

       SMAN 1 Kota Bima sesuai SK Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1823/C.C4/LL/2009 tanggal 24 Juni 2009 tentang penetapan SMA Negeri 1 Kota Bima sebagai rintisan SMA bertaraf internasional, satuan sekolah yang diselenggarakan dengan menggunakan standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu negara anggota OECD atau negara maju lainnya.

       Pada tahap pengembangan yaitu tahun ke-1 sampai dengan ke-3 sekolah didampingi tenaga dari lembaga profesional independen dan/atau lembaga terkait dalam melakukan persiapan, penyusunan dan pengembangan kurikulum, penyiapan SDM, modernisasi manajemen dan kelembagaan, pembiayaan, serta penyiapan sarana prasarana.

      Tahun pelajaran 2012/2013 sekarang, SMAN 1 Kota Bima memasuki tahun pertama tahap pemberdayaan. Pada tahap pemberdayaan yaitu tahun ke-4 dan ke-5, SMAN 1 Kota Bima melakasanakan dan meningkatkan kualitas hasil yang sudah dikembangkan pada tahap pendampingan. Oleh karena itu, dalam proses ini hal terpenting adalah dilakukannya refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan untuk keperluan penyempurnaan serta realisasi program kemitraan dengan sekolah mitra dalam dan luar Negeri serta lembaga sertifikasi pendidikan internasional.

       Jika melakukan refleksi terhadap capaian pada fase ini, maka SMAN 1 Kota Bima sebagai RSBI sejak dipimpin Drs. H. Annas Tayib, sudah banyak kemajuan yang dicapai. Pencapaian tersebut mengalami akselerasi dibawah pimpinan Drs. Muh. Jafar H. Abbas dalam bidang kurikulum, proses pembelajaran,  penilaian,  sumberdaya manusia,  sarana prasarana dan sebagainya. Jika diadakan evaluasi dan monitor pada bulan September 2012 ini maka berdasarkan refleksi pencapaian, maka optimis akan terjadi peningkatan nilai signifikan.

       Walaupun masih mengalami nilai kurang dari aspek kepala sekolah yang menyaratkan minimal S2, semua guru berkualifikasi S-1, sekurang-kurangnya 30 persen berkualifikasi S-2, Tersedia sekurang-kurangnya 50 persen guru mampu mengajar matapelajaran (selain matapelajaran bahasa Inggris) dengan bahasa Inggris (Baca misalnya panduan penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf Internasioal (R-SMA-BI).

       Pada tahap mandiri pada tahun ke-6 (tahun pelajaran 2015/2016 versi SMAN 1 Kota Bima) sudah berubah predikatnya dari rintisan bertaraf internasional (RSBI) menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan catatan semua profil yang diharapkan telah tercapai. Apabila profil yang diharapkan mulai dari standar isi dan standar kompetensi lulusan, SDM (guru, kepala sekolah, tenaga pendukung), sarana prasarana, penilaian, pengelolaan, pembiayaan, kesiswaan, dan kultur sekolah belum tercapai, maka dimungkinkan suatu sekolah RSBI akan terkena passing-out.

       Oleh karena itu, Kepala sekolah yang akan datang memiliki PR yang cukup serius bersama civitas academica-nya untuk mengantarkan SMAN 1 Kota Bima memasuki tahap mandiri dengan persyaratan kompetensi agaknya semakin berat, dan harus memulainya saat ini. Jika selanjutnya serius melakukan terobosan-terobosan sesuai dengan aturan dan petunjuk pengelolaan RSBI maka bukan mustahil memasuki tahun 2015 nanti SMAN 1 Kota Bima benar-benar menjadi SBI. Semoga.

Penulis adalah guru SMAN 1 Kota Bima

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

SAYA belum pernah alami ini: handphone tidak bisa dipakai karena panas. Bukan hanya sekali, Tetapi berkali-kali. Juga, bukan hanya saya, tetapi juga dua kawan...

CATATAN KHAS KMA

CATATAN Khas saya, Khairudin M. Ali ingin menyoroti beberapa video viral yang beredar di media sosial, terkait dengan protokol penanganan Covid-19. Saya agak terusik...

Berita

SEPERTI biasa, pagi ini saya membaca Harian  BimaEkspres (BiMEKS) yang terbit pada Senin, 10 Februari 2020. Sehari setelah perayaan Hari Pers Nasional (HPN). Mengagetkan...

CATATAN KHAS KMA

ADALAH Institut Perempuan untuk Perubahan Sosial (InSPIRASI) NTB pada 7 Desember 2019 lalu, mencanangkan gerakan Save Teluk Bima. Kegiatan dua hari itu, menjadi heboh...