Pendidikan

Aktivitas Sekolah di Godo Lumpuh Total

Bima, Bimakini.com.-  Kasus pembakaran rumah di Dusun Godo Desa dadibou Kecamatan Woha Kabupaten Bima, berdampak buruk terhadap aktivitas pendidikan di wilayah setempat. Tiga hari pascaamuk massa yang membakar 88 unit rumah warga Godo, aktivitas pendidikan lumpuh total.
Seperti di SMKN 2 Woha dan SDN Inpres Godo. Aktivitas dua sekolah itu lumpuh total, karena hampir semua siswanya adalah warga Godo.

Kepala SDN Inpres Godo, Nurdin, S.Pd, mengaku, aktivitas sekolah mulai lumpuh sejak Selasa (2/10) lalu. Hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar (KBM) belum berlangsung. Siswa SDN Inpres Godo berjumlah 114 orang, semuanya warga dusun setempat. “Mereka belum bisa sekolah, karena semua seragam dan perlengkapannya ludes terbakar,” ujar Nurdin, Kamis (4/10) di Godo.
    Saat peristiwa penyerangan massa, katanya, semua warga mengungsi dan mengamankan diri ke rumah keluarga masing-masing di kampung terdekat. Tidak ada barang yang sempat diselamatkan saat itu, termasuk perlengkapan sekolah anak mereka, kecuali pakaian yang melekat pada  badan.
“Dari pengakuan para orangtua, tidak ada satupun barang yang berhasil diselamatkan karena tidak menyangka semua akan ikut terbakar,” katanya.
Nurdin mengaku, bagian dari korban dalam insiden tersebut. Semua rumah berikut isinya, ikut terbakar oleh luapan emosi massa yang beringas. Motor dinas yang biasa dipakai untuk ke sekolah pun hangus dilalap api. Hanya motor pribadi saja yang tidak ikut terbakar, karena dibawa saat mengamankan diri.
“Untuk sementara saya sendiri terpaksa mengungsi dan menumpang di ruangan sekolah, karena sudah tidak ada tempat tinggal lagi,” terang Nurdin.
    Hal senada disampaikan guru SMKN 2 Woha, Drs. Manysur, M.Pd. Aktivitas sekolah saat ini belum bisa berlangsung karena tidak ada siswa.
    Dia belum bisa memastikan kapan sekolah akan kembali aktif. “Jangankan sekolah, untuk makan saja susah saat ini,” kata Manysur.
Diharapkannya, pemerintah segera membantu pemulihan kondisi kampung mereka dan segera memrioritaskan bantuan untuk siswa. Hal yang penting adalah bantuan seragam sekolah, buku, dan perlengkapan sekolah lainnya untuk siswa.
Orangtua siswa, Rafles, mengaku, pasrah terhadap kondisi yang terjadi. Saat ini, tidak ada lagi tumpuan hidup karena semua miliknya ludes dilalap api.
    Untuk kelanjutan nasib tiga anaknya yang masih sekolah, Rafles berharap bantuan dari pemerintah. Tiga anaknya itu, masing-masing pelajar SMA dua orang dan SMP satu orang. (BE.20)
 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top