Opini

Reinterpretasi ‘Tua Matengi Sara’ sebagai Katalisator Perdamaian

(Subhan Yusuf)

       Kondisi psikologi sosial yang cenderung fluktuatif belakangan ini memaksa masyarakat Bima membawa pulang semangat kebersamaan kembali ke suatu ruangan gelap. Dimana tersimpan cermin usang yang menjadi pusat refleksi, cermin yang ‘dulunya’ pernah menjadi sahabat setia masyarakat ini dalam menakar tindak-tanduk dan performa sebagai orang Bima dalam semua lini dan dimensi aktualisasi diri. Cermin yang memiliki satu gambar tempel, di stiker  yang terdapat sebuah tulisan ‘Urf Shahih’.

      Iya, ‘Urf Shahih’. Apakah makna kata yang tertulis digambar tempel itu? Suyuti Pulung dalam Fiqih Siasah, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran mengartikannya sebagai ‘adat yang baik’. Adat sebagai sebuah produk original sebuah peradaban masyarakat merupakan ‘a dynamic acts over depth of ideological thought’, dalam konteks ke-Bima-an yang memiliki kekhasan adat dan budaya, terdapat kandungan falsafah yang merupakan tools of local value.

      Implementasi kearifan loKal, falsafah hidup Dou Mbojo’, dimana falsafah menjadi pilar sekaligus panduan kedirian bagi tiap individu dalam suatu sistem pranata sosial yang homogen. Ssatu di antara pengajaran falsafah itu  adalah ‘fiki kananu maja labo dahu’. Falsafah Maja Labo Dahu ini multiinterpretatif sekaligus multiimplementatif. M. Hilir Ismail dalam Menggali Pusaka Terpendam menjabarkan Maja Labo Dahu bagi masyarakat Mbojo pada masa lalu sebagai  pusaka yang amat berharga untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan, guna mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat, menjadi sumber kekuatan batin, bagi pemerintah dan rakyat dalam mengemban tugas dan mengelola kebersamaan.

Selain falsafah, peradaban Bima dalam sejarah pemerintahannya memiliki perangkat yang lengkap, yang masing-masing memiliki fungsi dan peranan. Satu di antara fungsi dan peranan yang khas dari sekian banyak jenis maupun tingkatan adalah kelembagaan Tua Matengi Sara di tingkat desa, yang memiliki peranan sebagai local wisdom, pendamping birokrasi dan administrator pada tingkatan paling bawah dalam struktur pemerintahan masa lampau. Outcome yang telah ditorehkan dalam katalog historiografi lokal Bima sebagai bentuk signifikansi kelembagaan Tua Matengi Sara adalah  situasi umum ke-Bima-an yang nirkonflik, tidak terjadi massive disagreement yang tereskalasi menjadi ruang konflik fisik. Ini adalah contoh dari terimplementasinya nilai nilai Urf Shahih, suatu produk adat yang tersinergi dengan baik di antara sekian banyak dimensi pemikiran dan pilihan pilihan sistem pada  zamannya.

Hari ini, dalam kesempatan dan amanah Otonomi Daerah, semestinya melakukan studi kelayakan mendalam untuk menggali kembali nilai, bahkan struktur khas yang masih memiliki kompatibilitas dengan kebutuhan masyarakat. Kita tentunya tidak ingin melepas ‘mutiara di tangan’ demi suatu prediksi ‘intan berlian yang terpendam jauh di bawah tanah’. Ini adalah analogi mengenai betapa pentingnya menghargai apa yang kita miliki, mutiara kearifan lokal yang bersinar sepanjang peradaban. Reinterpretasi kelembagaan sekaligus koordinasi Tua Matengi Sara dirasakan sangat perlu.

Konflik yang terjadi belakangan ini mengindikasikan kebuntuan komunikasi internal dalam kesatuan sosial masyarakat pedesaan di Bima. Motif yang berbeda dan spesifik pada setiap munculnya konflik hanyalah triger. Pemicu yang kemudian dengan mudah dan cepat memengaruhi psikologi masyarakat untuk secara massive berhadap-hadapan dalam gambaran suram konflik fisik yang menelan korban harta dan jiwa. Hal hal yang dianggap sepele secara personal, dalam kenyataannya menjadi isu komunal sensitif, yang sering berujung pada konfrontasi. Masyarakat Bima yang homogen, 99 persen Muslim tentunya tidak menginginkan kondisi seperti yang akhir akhir ini kita akrabi.

Tua Matengi Sara secara denotatif bermakna tetua yang menopang roda pemerintahan.  Sebagai kelompok tetua yang berada di tengah masyarakat, Tua Matengi Sara terinterpretasi dalam fungsi dan peranan sebagai penopang visi dan arah perbaikan pranata sosial kemasyarakatan, menjadi mitra konstruktif dari Gelarang sebagai pucuk pemerintahan formal dalam setiap produk kebijakan. Dalam sejumlah hasil kajian antropologis, sejumlah periset mengakui jika sistem pemerintahan di wilayah Bima telah menerapkan spirit demokrasi yang khas, advanced democracy, sebuah sistem tatanegara yang  mereprentasi semua dimensi kebutuhan masyarakat kala itu.

Pada hari ini, saat gejala kerapuhan sosial mengindikasikan tingkat yang menguatirkan, perlu kemudian dipikirkan serangkaian solusi yang berkelanjutan. Berkaca pada kasus Godo-Samili di Kecamatan Woha, Roi-Roka di Kecamatan Palibelo dan Kecamatan Belo, kemudian persinggungan kelompok pemuda Laju-Rupe di wilayah Kecamatan Langgudu, kita mendapat refleksi dan imagi yang suram. Kita membutuhkan peranan orang tua sebagai sahabat generasi muda saat ini, kita mengharapkan adanya komunikasi dan koordinasi di tingkatan para tetua di tengah masyarakat yang terapresiasi dalam wadah yang sah dan legal pada hari ini. Kita butuh katalisator perdamaian, kenyamanan dan perdamaian membutuhkan proses yang nyata, yang dimulai dari pusat, inti, the core of the society.

Matua Matengi Sara atau Tua Matengi Sara perlu diinterpretasi ulang dalam payung pemerintahan daerah sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai dan sistem kearifan lokal Bima, sebagai salahsatu pranata sosial dalam upaya mengantisipasi gejala dan gejolak kerapuhan sosial, bahu-membahu bersama aparatus negara yang bertanggung jawab dalam menyediakan hak hak hidup dasar masyarakat, utamanya kenyamanan dan kedamaian.

Penulis adalah Direktur Fitua Institute

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top