Pendidikan

SDN 29, Berbenah meski Banyak Tantangan

Kota Bima Bimakini.com.-Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 29 Kota Bima, Drs. H. Mustamin, mengaku sekolah yang dipimpinya tidak bisa berkembang dalam penataan bangunan dan pembinaan siswa. Mengapa demikian?

Mustamin mengaku keberadaan sekolah tersebut yang satu lokasi dengan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 13 menjadi penyebab utama. Menurutnya bergabungnya  SMPN 13 sejak tahun 2008 lalu  praktis menyebabkan kegiatan belajar- mengajar (KBM) di sekolah tersebut terganggu.   SMPN 13 menempati bangunan bertingkat di atas banggunan SDN 29.  

    Mustamin merunut persoalan yang mereka hadapi. Karena jam masuk SMP dan SDN tidak bersamaan, praktis saat jam pertama kegiatan KBM SD terganggu dengan kedatangan siswa SMP yang masuk mulai jam 7.30 WITA karena mereka hanya memiliki satu gerbang. 

“SD masuk jam 7.15 WITA, sedangkan SMP masuk jam 7.30 WITA. Saat siswa belajar  terganggu suara anak-anak SMP yang melintas di depan kelas,” ujarnya di sekolah setempat, kemarin.

Begitu juga saat jam istirahat dan pulang sekolah, karena antara SD dan SMP jam istirahat dan pulangnya berbeda, praktis saat siswa SD mengikuti KBM terganggu siswa SMP yang sedang istirahat. Ditambah lagi SMP g tidak memiliki cukup  bak sampah,   sehingga  kotoran yang disapu akan turun ke halaman SD. 

    Hal lain yang paling menguatirkan, kata Mustamin, dari sisi pergaulan. Karena siswa SMP mulai beranjak  dewasa sehingga pergauan mereka  akan diikuti oleh siswa SD yang masih polos. “Kadang banyak siswa SMP yang bolos, kemudian bersembunyi di kantin atau musala  sehingga menjadi contoh buruk bagi siswa SD,” ujarnya. 

      Kondisi lain yang dihadapi, bebernya, kebisingan kendaraan. Karena sekolah tersebut  berada disisi jalan yang sangat ramai, praktis  kebisingan sangat mengaggu kegiatan KBM. 

      Meski di tengah keterbatasan itu, dia menegaskan, bukan berarti tidak mampu berkreasi untuk  mengembangkan kemampuan siswa. Satu di antaranya adalah memaksimalkan pembinaan di kelas. Pada setiap ruangan kelas,  sekolah telah menyiapkan Pojok Sarapan. 

Katanya, siswa yang baru memasuki ruangan kelas  mengawali dengan mengambil salahsatu soal di pojok ruangan yang telah ditata rapi dan menjawabnya secara lisan. Jika siswa tidak bisa menjawambya maka telah disiapkan Pohon Ilmu yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. “Itu dilakukan tiap hari dan guru memberikan pertanyan ringan tetapi membuka wawasan siswa,” ujarnya.

    Mustamin mengaku dengan kerjasama dan harmoninasi hubungan Guru dengan Kepala Sekolah,  semua keterbatasan dan tantangan yang ada bisa dihadapi. Tentu saja dengan berbagai kreasi dan inovasi dari guru. Maka tidak heran jika sekolah tersebut mampu  bersaing dengan sekolah-sekolah lain dan  berprestasi gemilang. Meski diakui siswa sekolah tersebut sebagi besar merupakan merupakan anak keluarga tidak mampu. 

     “Dengan keterbatan yang dimiliki kami bisa memberikan yang terbaik pada siswa sehingga mereka bisa berpestasi dengan baik,” ujarnya. 

Dia mengharapkan pemerintah segera mencarikan jalan keluar terbaik mengatasi persoalan lokasi sekolah tersebut, karena jika ini terus dipertahankan maka kedua sekolah itu tidak bisa berkembang dan berprestasi maksimal. “Sulit bagi sekolah untuk berkambang dan mengukir prestasi dengan kondisi  seperti sekarang,” ujarnya. (BE.14) 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top