Bima, Bimakini.com.-Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bima, Ir. Suryadin, mengatakan munculnya konflik sosial yang terjadi selama ini, satu di antaranya disebabkan oleh faktor kemiskinan dan kesehatan. Untuk itu, masyarakat miskin harus diberi kesempatan pendidikan dan layanan kesehatan seluas-luasnya.
Menurut politisi Partai Golkar ini, jika masyarakat miskin berdaya dalam pendidikan, maka dapat mengembangkan potensi sumberdaya yang dimilikinya. Jika masyarakat miskin sudah memiliki pendidikan layak, maka selanjutnya bagaimana memberikan akses untuk lapangan kerja. Percuma memiliki pendidikan, jika kases kerja tidak ada dan justru bisa menjadi masalah baru.
“Kesenjangan masyarakat harus diubah, salahsatunya dengan menyiapkan akses lapangan kerja. Jika ini tidak diperhatikan pemerintah, justru bisa menimbulkan kesenjangan,” ujarnya saat menjadi pembicara pada diskusi Mengurai dan Resolusi Konflik yang diadakan Pusat Kajian Agama (Pukab) NTB di aula SMKN 3 Kota Bima, Rabu (21/11).
Dikatakannya, agar akses lapangan kerja terbuka bagi masyarakat, maka pemerintah harus memerhatikan dahulu pemerataan pembangunan. Infrastruktur harus disiapkan untuk terciptanya lapangan kerja. “Dewan akan berkomitmen menyiapkan anggaran untuk hal tersebut. Mengawal pemerintah, agar tidak terjadi kesenjangan pembangunan wilayah,” ujarnya.
Ditegaskannya, tidak boleh ada kesenjangan anggaran yang terlalu jauh antara satu wilayah di Kabupaten Bima. Jika terjadi, maka akan muncul kecemburuan dan terjadi lagi kesenjangan pembangunan dan kesejahteraan.
Pembantu Ketua (Puket) I Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima, Syech Fathurrahman, MA, mengatakan jika tidak memahami akar konflik, maka bisa salah dalam pengambilan kebijakan. Kenyataan konflik yang terjadi di tengah masyarakat Bima kian memerihatinkan. “Kita miris dengan perubahan masyarakat menjadi manusia keji dan bahkan saling membunuh,” ujarnya.
Katanya, pada dasarnya budaya kekerasan telah ada ketika masa Orde Baru, selain itu masyarakat secara tidak sadar telah menumbuhkan kekerasan secara verbal, terutama di Bima. Contohnya, orangtua kerap menyebut anaknya dengan nama tidak pantas dalam berbagai cacian.
“Kekerasan verbal ini bisa membekas dan kekerasan nonverbal juga bisa timbul dari tayangan televisi,” ujarnya. (BE.16)
Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.
