Profile

Gaya Lamban Politisi

ADA penilaian dari sejumlah pihak bahwa aroma kompetisi Pemilukada kali ini tidak sehangat dulu. Meski tinggal beberapa bulan, namun tensinya masih sedang. Itu penilaian sebagian warga Kota Bima. Kenyataannya memang relatif demikian. Kehangatan suasana politik, setidaknya, masih dirindui meski implikasinya menerobos berbagai dimensi.

Hingga saat ini, konsolidasi masih terus dilakukan oleh tim sukses sejumlah figur untuk memantapkan calon pasangan. Mereka masih dalam tahap pengenalan intensif. Masih mengenali dan mengidentifikasi berbagai hal dan kemungkinan agar mantap menuju pelaminan, selanjutnya bertarung dalam ‘kamar sengit’ Pemilu Wali dan Wakil Wali Kota Bima tahun 2013.

Hingga kini, baru pasangan Subhan-Riza, yang mendeklarasikan diri dengan akronim Suri. Bagaimana yang lain? Belum ada kepastian. Sucipto masih disebut-sebut akan menggaet Junaidin, akronim Sujud mulai dipopulerkan. Fery Sofyan dikabarkan akan menggandeng Abdul Wahid. Bakal calon incumbent, HM. Qurais, masih melirik hingga jam-jam akhir pendaftaran, meskipun akronim Qurma mulai bergaung—suatu sinyal Wali Kota Bima itu akan menggandeng H. Abdurrahman, adiknya.

    Ferra Amelia digadang-gadang dengan M. Natsir, sedangkan H. Junaidin pada kubu lainnya. Kolonel Rifai masih belum jelas arah gandengannya, menyusul belum pastinya bandul gerak Gerindra. Demikian juga dengan H. Sudirman, janji deklarasi pada akhir Januari, belum mewujud. H. Iskandar Zulkarnain pun demikian, masih mengincar koalisi. Perjuangan Bunda Noli-Rum dan Ihsan-Taufiqurrahman masih akan ditentukan oleh verifikasi dukungan masyarakat yang kini dilakukan KPU dan Panwaslu.

    Ada satu aspek yang perlu dicermati dari kelambanan paket pasangan memantapkan diri maju berkompetisi. Selain kurang ‘menghangatkan’ jagat politik daerah, juga publik tidak memiliki banyak waktu untuk memilah dan menilai. Waktu sosialisasi cekak. Atau jangan-jangan komunitas politisi dalam kebimbangan dan publik nggak pusing soal isu politik.  Kita menguatirkan gaya lamban seperti ini menjebak publik pada pilihan instan—kecenderungan memilih ‘kucing dalam karung’ di tengah suasana  terpaan  politik yang semakin lihai memainkan jurus dan modusnya.   

      Namun, ada akademisi yang menyatakan bahwa gaya lamban memiliki sisi positif. Semakin pendeknya durasi waktu kecenderungan disharmoni, karena perbedaan pilihan politik di tengah masyarakat. Sudut pandang yang juga bisa dipahami.

Apapun kondisi yang mengiringi proses pertarungan politik ini aspek penting adalah bagaimana  kesiapan kita berbeda pilihan, kemampuan menjaga harmoni, proses penyelenggaraan yang transparan dalam pengawasan ketat, dan munculnya paket pemimpin amanah. Suatu kondisi yang ideal kan? Mari mewujudkanya. (*)  

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
To Top