Connect with us

Ketik yang Anda cari

Pendidikan

Kebanyakan Siswa Anggap Enteng Pelajaran Bahasa Indonesia

Bima, Bimakini.com.-Sebagian besar ketidaklulusan siswa SMP/SMA sederajat dalam Ujian Nasional (UN) adalah jebloknya nilai pelajaran bahasa Indonesia. Dari data nasional, rata-rata peserta UN meraih nilai rendah pada mata pelajaran  itu. Meski dalam ujian terkadang nilai matematika, bahasa Inggris, IPA dan IPS juga rendah, tetapi yang mendominasi ketidaklulusan tetap pada pelajaran bahasa Indonesia.

Mengapa hal itu terjadi?     Pengajar pelajaran bahasa Indonesia di SMAN 1 Woha, Aryati, S.Pd, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi karena kebanyakan siswa menganggap enteng pelajaran bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dianggap mudah, karena bahasa sehari-hari, sehingga menyebabkan mereka kurang intensif belajar, walaupun sudah sering diingatkan oleh guru.
“Kami guru bahasa Indonesia sering mengingatkan, sekaligus memotivasi siswa agar terus pacu diri belajar mata ujian UN, terutama bahasa Indonesia. Karena dalam menyelesaikan soal bahasa Indonesia punya teknik tersendiri, walaupun itu bahasa sehari-hari kita,” ujarnya kepada Bimakini.com via media Facebook, Senin (28/1).
Selain itu, katanya, ada faktor lain yang menyebabkan siswa rendah dalam pelajaran bahasa Indonesia karena penggunaan bahasa gaul di kalangan pelajar di Bima, bahkan di Indonesia. Akibatnya, menjadi salahsatu pemicu kurangnya pemahaman mereka terhadap Bahasa Indonesia yang benar.
Padahal, katanya, bahasa Indonesia selain sebagai ilmu dalam kehidupan sehari, memiliki peran yang lebih luas untuk perkembangan intelektual sosial dan emosional siswa. Itu salahsatu motivasi yang harus dimiliki siswa  agar lebih senang belajar bahasa Indonesia, sehingga siswa bisa lebih mengembangkan diri menjadi pribadi yang mampu dan terampil dalam berbahasa Indonesia.
Selain itu, tentunya peraan guru juga penting dalam memilih metode dan strategi belajar yang tepat agar suasana belajar lebih menyenangkan.
Apalagi, banyak siswa yang menganggap enteng bahasa Indonesia. Mereka berpikir bahasa tersebut merupakan bahasa ibu, sehingga tidak perlu belajar lagi. Padahal, pengajaran mengenai stuktur bahasa yang baik itu perlu agar mereka dapat berbahasa Indonesia sesuai tatanannya.
Oleh karena itu, terangnya,
perlu ada sikap dari para pelajar untuk mengubahnya. Mereka harus bisa berbahasa formal dalam situasi yang formal dan menempatkan bahasa gaul pada waktunya. “Kita tidak bisa menyalahkan itu, tapi harus diubah,” ujar Aryati. (BE.13)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.
Advertisement

Berita Terkait

Peristiwa

SEMPAT meneteskan air mata ketika menyaksikan Palu yang porak poranda dari kaca pesawat sebelum mebdarat di kota itu. Hari pertama tiba, langsung menangani pasien...

Berita

Kota Bima, Bimakini.-  Video viral anak SMA yang protes Polantas dengan bahasa Bima, kini makin populer saja. Di fanpage Otosia.com, hingga Kamis pagi, 3...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Kecamatan Woha menggelar debat calon Ketua Organisasi Siswa Intra-Sekolah (OSIS) tahun 2016-2017 di aula sekolah setempat,...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Pelajar kelas II SMPN 1 Belo Kabupaten Bima, Elfi Sukaesi, mendapatkan beasiswa prestasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  RI, Selasa (20/09).  Remaja ...

Berita

Bima, Bimakini.com.- Diduga mengkonsumsi  pil Tramadol, dua orang siswa seuah SMA swasta di  Bolo dan satu siswa SMA negeri di Bolo ditangkap oleh anggota...