Opini

Kedudukan Matahari, Perubahan Musim, dan Aktivitas Petani

(Drs. Zulkifli M. Nur)

    Sejak zaman dahulu, manusia telah menunjukkan ketertarikannya pada benda-benda angit, seperti matahari, meteor, komet, bulan, bintang dan sebagainya. Ketertarikan itu bukan cuma karena variasi pancaran cahayanya, melainkan juga karena bentuk, ukuran dan  posisi atau kedudukannya di langit.

    Rasa tertarik dan rasa ingin tahu manusia terus berkembang. Setelah melalui serangkaian pengamatan, observasi, dan penelitian, para ilmuwan menemukan keterkaitan  antara kedudukan benda-benda langit tersebut dengan dinamika perubahan atmosfer–termasuk perubahan musim–serta hubungannya dengan aneka ragam aktivitas manusia.
Pada tulisan ini, penulis hanya fokus pada masalah kedudukan matahari dan kaitannya  dengan perubahan musim serta aktivitas petani. Kedudukan matahari dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Suatu saat,  matahari terbit tepat pada arah timur kita dan pada tengah hari (siang hari), bola gas yang menyala itu akan berada tepat lurus di atas kepala kita. Posisi seperti ini terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada akhir bulan Maret  dan pada akhir bulan September.   Pada hari berikutnya, benda langit yang memancarkan cahaya paling terang bagi bumi itu mungkin akan terbit agak ke Selatan dan pada saat tengah hari pun letaknya agak condong ke arah Selatan di atas kepala kita.
             Pada hari-hari selanjutnya, matahari terus bergeser kearah selatan hingga  kedudukannya di pagi hari dan tengah hari tampak sangat berbeda dengan kedudukan pada
hari-hari sebelumnya. Perbedaan itu akan mencapai puncaknya saat benda langit yang  memiliki diameter lebih dari 100 kali lebih panjang dari diameter bumi itu melintas selaras dengan garis  23,5 derajat Lintang Selatan atau yang lebih dikenal dengan nama Garis Balik Selatan. (Gerakan matahari dalam uraian ini – dalam Astronomi– disebut gerak semu). Posisi ini  terjadi pada setiap akhir bulan Desember.
    Pada hari-hari berikutnya, sedikit demi sedikit matahari mulai bergeser ke arah Utara  hingga sampai pada kedudukan yang selaras dengan garis 23,5 derajat Lintang Utara atau yang lebih di kenal dengan nama Garis Balik Utara. Posisi ini biasanya terjadi pada setiap akhir bulan Juni. Pada saat inilah, benda langit yang berjarak sekitar 149,6 juta km dari bumi  itu mencapai kecondongan maksimal ke arah Utara.
         Kemudian pada hari-hari berikutnya lagi, matahari sedikit demi sedikit bergeser lagi  ke arah Selatan  hingga mencapai kedudukan yang selaras dengan garis 23,5 derajat Lintang  Selatan . Begitulah perubahan siklus kedudukan matahari sepanjang tahunnya dan perubahan ini pulalah yang menyebabkan adanya pergantian musim yang kita rasakan di bumi.
    Bagi kita yang berada di Indonesia, musim hujan berlangsung saat matahari melintas  di bumi bagian Selatan, sedangkan musim kemaraunya berlangsung saat matahari melintas
di bumi bagian Utara. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa saat benda langit  itu melintas tepat di atas arah kepala kita, hal itu merupakan tanda batas antara musim hujan dan musim kemarau.
    Saat matahari melintas di bumi bagian selatan, wilayah itulah yang mendapat penyinaran yang paling banyak. Hal ini menyebabkan temperatur udara di wilayah itu menjadi tinggi, namun sebaliknya, tekanan udaranya menjadi rendah. Pada saat yang bersamaan, di bumi bagian utara mengalami kondisi yang berbeda – temperatur udaranya rendah, namun tekanan udaranya tinggi.
    Perbedaan tekanan udara di kedua wilayah itulah yang menyebabkan berhembusnya  angin dari Utara ke Selatan dengan meliwati wilayah Indonesia. Udara dari wilayah Utara ini  mengandung banyak uap air, sehingga–setelah mengalami proses kondensasi– turunlah hujan di wilayah kita. Saat itulah berlangsungnya musim hujan di Indonesia.
    Hal yang berbeda terjadi, saat matahari melintas di bumi bagian Utara. Temperatur  udara di wilayah itu tinggi, namun tekanan udaranya rendah. Saat ini, giliran angin berhembus dari Selatan ke Utara dan melewati wilayah Indonesia pula. Angin dari arah Selatan ini sifatnya kering, sehingga saat melewati wilayah Indonesia, tidak turun hujan. Pada masa inilah, wilayah Indonesia mengalami musim kemarau.   
Seringkali terjadi, para petani mengalami kesulitan menentukan kapan saat yang paling tepat untuk menanam padi atau tanaman lain yang mengandalkan air hujan untuk kelanjutan pertumbuhannya. Kadang-kadang dengan turunnya hujan satu atau dua kali, para petani langsung menanam padinya, namun setelah itu hujan tidak turun lagi dalam  kurun waktu yang lama. Akhirnya tanaman-pun mati.
    Hal lain yang juga sering dialami oleh petani adalah keterlambatannya menanam tanaman. Mereka kadang-kadang kurang tahu kapan musim hujan itu akan berakhir. Mereka mengira bahwa musim hujan masih lama. Kebiasaan menunda pekerjaan, juga turut  menjadi penghalang, hingga akhirnya mereka menanam di akhir musim hujan. Hal ini juga tidak akan menjamin kalau tanaman itu bisa tumbuh dengan baik–kalaupun tidak mau mengatakan, akhirnya tanaman itu  akan mati juga–karena kekurangan air.
    Disinilah perlunya para petani untuk memiliki pengetahuan tentang masa awal dan masa akhirnya musim hujan atau musim kemarau  dengan memerhatikan kedudukan  matahari. Saat matahari  mulai berada pada kecondongan ke arah selatan, para petani hendaknya mulai bersiap-siap untuk memasuki masa tanam. Ketika kecondongan itu sudah agak besar, biasanya frekuensi hujan sudah cukup ideal untuk mulai menanam padi atau tanaman-tanaman lainnya.
    Dengan pengetahuan yang sangat sederhana ini, para petani diharapkan dapat meningkatkan produksi pertaniannya, sehingga hidup mereka menjadi lebih makmur dan harkat serta martabat bangsa pun turut terangkat.

Penulis adalah guru dan Pembina Olimpiade Sains Bidang Kebumian di  SMAN 1 Kota Bima.
  

Share
  • 2
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top