Pemerintahan

Pembentukan TPFR Bentuk Ketidakpercayaan pada Aparat

Kota Bima, Bimakini.com.- Pembentukan Tim Pencari Fakta dan Rehabilitasi (TPFR) Bima mengisyaratkan bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap kerja aparat dalam pemberantasan terorisme. Operasi anti terorisme justru dianggap memiliki kejanggalan dan tidak direspon positif public di Bima. Hal itu dikatakan pengamat Terorisme Bima, Syarif Ahmad, MSi, Kamis (10/1).

Pembentukan TPFR Bima ini juga, kata Syarif, menegaskan pentingnya keterlibatan sipil dalam menjawab klaim aparat atau Negara atas terror yang terjadi di Bima dan Dompu. TPFR merasa perlu memberi sudut pendang sendiri kepada public tentang fakta sesuangguhnya.

“TPFR Bima menjadi respon atas isu terorisme di Bima,” katanya kepada Bimakini.com di kediamannya, Kelurahan Santi.

Syarif menilai TPFR Bima ini sangat penting dan dibutuhkan sebagai second opinion khususnya di Bima. Dengan demikian warna informasi tidak hanya monopolisi oleh aparat kepolisian. “Ini juga menjadi bentuk kegagalan Negara dalam mendapat dukungan masyarakat dalam memberantas terorisme, justru mendapat perlawanan,” ujarnya.

Apalagi TPFR Bima juga, kata dia, menilai penetapan siaga satu oleh aparat kepolisian pascapenembakan lima orang hingga tewas jauh berbeda dengan apa yang dirasakan masyarakat. Suasana di masyarakat sendiri tetap normal, tidak ada perawaan was-was atau takut. “Yang luar biasa dari pembentukan TPFR Bima ini adalah pembentukannya justru dilakukan di sekretariat Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Bima,” ujarnya.

Syarif berharap TPFR Bima fokus dalam menyusun agenda kerja. Termasuk apakah Bahtiar pernah ke Poso atau bagian dari jaringan atau menjadi korban salah sasaran. Ini harus menjadi konten utama dan akan menjadi luar biasa, ketika TPFR Bima mampu mengungkap fakta berbeda dengan kepolisian. (BE.16)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top