Opini

Andil Pers dalam Dakwah

ilustrasi

Oleh : Musthofa Umar, S. Ag.

Setiap tanggal 9 Februari, kita memeringati Hari Pers Nasional. Pers menurut Mark Twain  “There are only two things, which can throw ligth upon thing on eart. Two things, one is sun in heaven, and second is the press on earth” (Ada dua hal yang membuat segala sesuatu terang di persada raya ini. Pertama, adalah mentari yang bersinar terang di langit, kedua, adalah pers yang memberi penerangan kepada khalayak massa di muka bumi).

Dalam ungkapan John Tebbell, “Surat Kabar, sudah menjadi santapan biasa bagi kita, manusia zaman sekarang. Koran sudah masuk desa. Koran sudah bukan menjadi konsumsi mahal. Koran sudah merupakan bagian dari kebutuhan manusia akan informasi, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan usaha bisnisnya”.

Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk berbagai kepentingan. Kepentingan bisnis, iklan, propaganda, opini, berita termasuk dakwah. Sejak Orde Baru ada beberapa pers bernuansa Islam, seperti Majalah Hidayatullah dan sebagainya. Demikian pula dengan Radio dan Televisi. Ditambah setelah lengsernya kekuasaan Orde Baru, media tidak perlu mengurus Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP) sedemikian ruet, sehingga media cetak, radio dan televisi komunitas tumbuh bak jamur di musim hujan. Tentu menambah ‘PR’ bagi kita sebagai pembaca, harus jeli memilih pers dan isi yang ditampilkan. Apakah sesuai dengan kehidupan kita atau tidak.

Kontrol terhadap pers harus terus dilakukan oleh masyarakat secara umum dan Kementerian Informasi dan Komunikasi secara khusus. Agar pers tidak keluar dari koridor yang ada dan bisa menjadi manfaat terhadap pembacanya.

     Latar belakang penulis, sebagai  alumnus Komunikasi dan Penyiaran Islam dan dipadukan dengan aktivitas saat ini sebagai penyuluh. Maka pers menurut saya, sangat efektif untuk media dakwah dan penyuluhan bagi kalangan menengah ke atas. Tulsian-tulsian opini dan artikel yang sering muncul di hadapan pembaca, adalah bagian dari dakwah dan penyuluhan saya. Dari itu, saya berharap dengan adanya tulsian ini, makin banyak orang-orang memanfaatkan media (pers) sebagai sarana dakwah dan penyuluhan bidang-bidang tertentu. Menulis ulasan dakwah dalam dunia tulis menulis, harus mengindahkan juga kaidah-kaidah penulisan yang ada. Pemanfaatan pers. Tidak terlepas dari sejarah panjang tentang pers itu sendiri.

    Kebijakan Politik Etis (Etische Politiek) yang diperkenalkan Pemerintahan Kolonial Belanda pada tahun 1901, yang dititikberatkan pada bidang pendidikan (educatie), pemindahan penduduk (migratie), dan pengairan (irigatie) telah mendorong terbentuknya kelompok sosial yang dikenal dengan sebutan golongan elite modern atau golongan Priyayi Baru (Neo Priyayi). Golongan ini, karena status sosial dan tingkat pendidikan yang dimiliki, disatu sisi tetap mewarisi beberapa perangkat kebudayaan elite tradisional, tetapi di sisi lain mempunyai pandangan, cita-cita, dan nilai-nilai baru terhadap realitas dan perubahan sosial yang diharapkan. Cita-cita golongan elite modern itu, dalam konteks zamannya, berkisar pada konsep “Kemadjuan”. Untuk mencapai “Kemadjuan” itu, mereka mengusahakan proses penyadaran sosial dan pendidikan bagi anggota masyarakat kebanyakan.

     Golongan elit modern yang terdidik inilah, yang kemudian menjadi agen pembaru dan pelopor pergerakan nasional di Indonesia pada awal abad 20. Dalam memperjuangkan cita-cita nasionalnya itu, yaitu memajukan dan menyejahterakan masyarakat, mereka menggunakan modus operandi baru dengan cara membentuk organisasi modern dan pers sebagai salah satu sasaran komunikasinya. Pers, oleh golongan ini dijadikan sebagai media untuk menyajikan berita-berita (a lot of news) dan pandangan-pandangan (views) tentang berbagai kejadian yang dinilai penting di zamannya. Mula-mula surat kabar terutama merupakan alat propaganda organisasi, lalu menjadi alat politik, setelah berkembang menjadi ekspresi pribadi para wiraswastawan dan akhirnya dizaman kita menjadi lembaga bisnis, yang bisnisnya adalah menjual berita dan hiburan. Garis batas antara surat kabar dan majalah ini menjadi semakin kecil, dalam beberapa hal mereka bersaing satu sama lain.

    Di tengah kemajuan dan perubahan yang terjadi, bagaimanapun juga, aktivitas pekerjaan di surat kabar pada dasarnya tidak pernah berubah sejak seratus tahun yang lalu. Mendapatkan berita dan mencetaknya di kertas masih tetap dilakukan. Hanya transmisinyalah yang berubah, yakni hal-hal sekitar mesin ketik sampai pengiriman produk yang telah jadi. Pada umumnya, pers sudah dianggap fenomena kehidupan masyarakat modern. Itulah sebabnya, ia terus ditelaah dan dikaji dari berbagai dimensi pendekatan, mulai dari pendekatan ilmu dan filsafat hingga pendekatan teknis.

    Bahkan, pers diamati sebagai barometer dan perlambang “kebebasan” dan “kekuatan keempat”, hanya diperuntukkan bagi pers. Pers adalah lembaga kemasyarakatan (social institution). Sebagai lembaga kemasyarakatan, pers merupakan sub sistem kemasyarakatn tempat ia berada bersama-sama dengan sub sistem lainnya. Dengan demikian, maka pers tidak hidup secara mandiri, tetapi mempengaruhi dan di pengaruhi oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.

    Akan tetapi, pers sebagai bagian produk dunia yang terkena proses globalisasi tidak mungkin menghindari pengaruh yang terjadi di dunia budaya lainnya. Kemajuan teknologi yang bersifat universal telah membuka batas-batas antar negara. Pemakain produk alat-alat teknologi komunikasi yang sama atau yang sejenis dalam pers yang berbeda sulit dihindari lagi, apalagi alat-alat itu sendiri sudah mempunyai kemampuan menguak perbedaan geografis. Sesuai perkembangan pers saat ini, pers di Indonesia tampaknya mengalami transformasi sebagai medium informasi, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan dinamika masyarakat. Meskipun kita tidak dapat menentukan secara pasti apakah karena dorongan ekonomi (misalnya pasar potensial) atau karena perubahan krusil, media cetak Indonesia kini ditandai suatu peningkatan dalam spesialisasi dan segmentasi.

      Paradigma yang merefleksikan kehidupan dinamis masyarakat pembacanya menempatkan pers dalam ruang gerak yang cukup luas. Paradigma ini mengajarkan bahwa eksistensi perubahan pers sangat bergantung pada upaya yang dilakukan dalam mengangkat berita sesuai kebutuhan khalayak.

      Terkait wacana pers pada bulan Januari 1992, unit kegiatan kerohanian Islam Universitas Airlangga Surabaya mengandalkan seminar mengenai masalah pers Islam. Ada hal yang menarik dari isi seminar ini, yaitu adanya perdebatan di sekitar masalah bahwa adi Indonesia dibutuhkan pers Islam secara khusus dan utuh, serta pers Islam yang ada di Indonesia hanya memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen ke-Islam-an yang tinggi memasuki lembag-lembaga pers yang ada. Tampaknya masalah-masalah tadi delematis jika dihadapkan pada sejumlah potensi umat ini, yang sampai dewasa ini amsih belum terkordinasi dengan rapi dan baik. Dengan kata lain, kaitannya dengan pers,masih dipertanyakan apakah orang-orang yang memiliki reputasi nasional di bidang ini mampu terkordinasi dalam suatu sistem lembaga pada lembaga pers Islam.

    Berdasarkan agama yang telah kita anut yaitu agama Islam, maka perlu adanya pers Islam yang nantinya akan memunculkan beberapa wartawan Muslim.    Beberapa wartawan Muslim di sini sudah sejak lama mendefinisikan pers Islam. Dalam hal ini, yang dimaksud pers Islam sudah pasti adalah pers yang berlandaskan Islam. Lebih jelas lagi, dapat didefinisikan bahwa yang disebut pers Islam itu, ialah segala liputan dan tulisan lainnya yang senantiasa mendasarkan pemberitaan atas kebenaran Islam dengan metode yang diatur agama Islam, yakni bi al-Mau’idhah al-Hasanah (pendekatan yang baik), sehingga memungkinkan terjadinya pengertian pembaca terhadap Islam. Dengan kata lain, pers Islam itu harus selaras dengan tuntutan Islam itu sendiri. Bukan sebaliknya, pers Islam di luar metode dan aturan agama Islam. Dalam pemahaman yang lebih dalam, bahwa pers Islam itu bersifat universal, menegakkan nilai-nilai kejujuran, keadilan dan hak asasi, kepedulian dan seterusnya

adalah konkrit dan sesuai dengan cita-cita Islam.

    Di tengah perkembangan dan pembangunan sektor komunikasi yang menggembirakan sekarang ini, ajakan pemikiran untuk mengembangkan dakwah dengan mengerling ke pers tentu saja merupakan langkah-langkah yang tepat dan bijak, terlebih-lebih bila dikaitkan dengan peranan, fungsi dan kerja pers sebagai agen pembaharuan dalam membangun masyarakat Indonesia seutuhnya. Sekarang sudah saatnya para pemikir, pakar, muballigh, ulama dan pemuka Islam lainnya memanfaatkan serta mempergunakan peluang maupun pengaruh yang dimiliki pers tersebut guna meningkatkan dakwah demi siar Islam di samping mewujudkan masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan.

     Akan tetapi, berdakwah lewat pers tentunya memiliki teori atau cara-cara tersendiri yang sangat berkaitan dengan metode-metode jurnalistik yang ada dalam kaidah-kaidah ilmu komunikasi massa tanpa mengecilkan peran dakwah lainnya. Berdakwah di koran atau di media pers lainnya memang tidak semudah berdakwah di forum pertemuan.

      Pesatnya dunia pers, dewasa ini memilih atau menjadikan pers sebagai sarana dakwah yang efektif merupakan pilihan yang positif. Meskipun masih ada yang meragukan beberapa jauh jangkauan pers, namun setidaknya bagi masyarakata kota, peranan dan kemauan pers dalam menciptakan terjadinya perubahan atau perombakan tata kehidupan masyarakat tidak perlu diragukan lagi. Perkembangan dakwah sebenarnya ditentukan oleh kerja sama yang baik dari semua pihak (terutama dalam menghadapi era globalisasi informasi dan keterbukaan saat ini) dalam adaptasi misalnya, menggunakan sarana canggih serta memanfaat manajemen dan teknologi modern yang ada. Kerja sama yang ideal, pada hakikatnya adalah bentuik-bentuk hubungan juru dakwah, yang mana di satu pihak sebagai penyampai pesan-pesan kebenaran Islam, dengan wartawan di lain pihak sebagai pengelola media cetak, sehingga interaksi posistif juru dakwah dengan umatnya dapat terjalin dengan optimal.

      Maka dari itu, peran media cetak untuk pengembangan dakwah di sisi lain, harus diakui memang sangat efektif, bila dibandingkan dengan media konfensional yang biasa digunakan para juru dakwah yang selama ini hanya menggunakan media tradisional, mimbar-mimbar dalam momentum jum’at, maupun pengajian yang diadakan. Secara kuantitatif, momentum tulisan dakwah ini, dapat menyerap audience dakwah lebih besar, dari pada dakwah lisan. Misalnya, sebuah pengajian dakwah, dengan jama’ah (audience) dapat diserap seribu jama’ah. Tentunya kalah banyak dengan media cetak dengan oplah seribu. Seandainya tiap-tiap majalah dibaca tiga orang, maka dakwah seorang juru dakwah di media cetak, bisa dibaca tiga ribu kepala (audience). Ini menggambarkan bahwa berdakwah melalui media cetak jauh lebih efektif dibanding dengan media lisan (ceramah). 

Ditinjau dari isi pesannya saja, kalau media lisan (ceramah) hanya bertahan sampai jama’ahanya pulang, tetapi kalau media cetak, pesan dakwah yang disampaikan seorang juru dakwah, dalam media tersebut bisa dikliping dan dibuka setiap saat. Namun, seandainya pengajian, tidak semua orang membawa tape recorder untuk merekan pesan dakwah si juru dakwah tadi. Mari manfaatkan pers untuk kepentingan penyebaran Dakwah Islam lebih luas dan dinamis. Amin.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di Kementerian Agama Kota Bima.

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top