Connect with us

Ketik yang Anda cari

Sudut Pandang

Gayanya Metropolis, Otaknya Minimalis

(Muhammad Fikrillah)

Pekan lalu, seorang Facebooker membuat status menarik pada dindingnya. Kalimatnya pendek, tetapi daya sapuannya menembus dimensi luas. Setidaknya itu dari sudut pandang saya. Sudut tilikannya dia bungkus dengan kalimat penuh makna. “Gayanya metropolis, otaknya minimalis”. Ada kekuatan kata di dalamnya.

Status teman muda yang juga guru pada Sekolah Menengah Pertama itu, tepat sekali. Sodokannya jeli. Para pendidik memang mesti lebih jeli mencermati pola perilaku kaum remaja (anak didik) dalam menyikapi lingkungannya. Mendeteksi dini kegagapan karakter dan intelegensia mereka. Bukankah identifikasi dini akan membuka lebar peluang untuk memaksimalkan daya antisipatif.

Apa yang dikuatirkannya adalah gejala itu melingkupi kaum remaja saat ini. Mereka latah mengikuti pola hidup orang kota, sok metropolis, ke-Barat-Barat-an, terjebak perilaku serbaboleh dalam tampilan keseharian dan interaksinya dengan lingkungan sekitar. Mereka suka berpikir instan. Tidak mau bersimbah peluh saat meraih sesuatu. Bermental menerabas. Jelas saja prototipe seperti itu jauh meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal daerahnya.

Kecenderungan itu pula yang tampaknya melingkupi kaum remaja saat ini. Simak saja awal tahun 2013, sejumlah kasus Narkoba yang melibatkan pelajar Sekolah Menengah Atas dan mahasiswa (di Kota dan Kabupaten Bima, untuk menyebut contoh) menghiasi kolom media massa. Muncul dan diidentifikasi pada satu tempat, namun mencuat lagi pada tempat lain dengan takaran gram ganja dan sabu yang lebih banyak. Bahkan, ada yang mengisap daum haram itu di ruangan kelas. Ada juga yang masuk pusaran kasus pencurian sepeda motor.

Mereka terjerembab dalam lembah perilaku metropolis, namun tidak menyadari kapasitas ‘knowledge-nya’ masih payah. Mereka (pasti) pelajar dengan prestasi pas-pasan di kelas atau kalangan cerdas namun tumbuh tanpa perhatian lebih. Ini jelas embrio bagi benalu pendidikan, masyarakat, dan pembangunan umumnya. Mereka yang tidak mengimbangi pola perilaku dengan realitas dan kapasitas otaknya. Inilah kegalauan Facebooker itu. Kerisauan Anda juga kan?

Kita pantas galau terhadap generasi yang terancam berotak kosong, gagap bereaksi normatif terhadap perubahan sekitar, dan gamang berdiri di sudut persimpangan sejarah. Mereka yang ‘gayanya metropolis, otaknya minimalis’ juga berkecenderungan terjebak pergaulan bebas. Karena langgam perilaku tanpa diimbangi pertimbangan cerdas akan menggiringi seseorang dalam situasi rumit. Apalagi, hentakan arus perubahan berbagai sisi kehidupan, perkembangan teknologi dan informasi kian deras. Bahkan, hingga memasuki kamar pribadi kita. Dalam kondisi dunia yang tanpa batas lagi (borderless), ujian terhadap pertahanan mental akan semakin menggebu. Simak saja kasus asusila dan aborsi pertengahan tahun lalu kerap muncul dalam komunitas mahasiswa dan pelajar di Bima, misalnya. Pemicunya adalah jebakan pemenuhan materi dan ketidakrasionalan pola tindak.

Dari titik inilah, pendidikan karakter menemukan posisinya dalam dinamika kaum remaja. Mengajarkannya, suatu keharusan sejarah. Pendidikan yang tidak hanya memfokuskan pada kemampuan intelektual yang mengerucut pada simbolisasi angka penilaian, tetapi menyeimbangkannya dengan penguatan karakter. Ya, seperti yang kini digaungkan oleh pemerintah. Apa jadinya generasi jika mengelompok tebal dalam komunitas payah dengan bandrol perilaku destruktif. ‘Bahan baku masa depan’ dalam performa yang gamang seperti itu bisa merusak pembangunan. Bisa amburadul. Percaya saja.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Padahal, kita mendambakan kaum remaja dan pemuda yang serius merenda masa depannya. Remaja yang sadar ingin membentengi dirinya demi tujuan besar ke depan. Dalam bandrol kata seorang ulama, kita mendambakan “mereka yang berotak Jerman, namun berhati Makkah”.

(Permata Asri 112 Kota Bima)

Pernah dimuat dihttp://sosbud.kompasiana.com/2013/02/03/gayanya-metropolis-otaknya-minimalis

Share
Komentar

Berita Terkait