Opini

Konflik Pemuda, Dimana KNPI?

Oleh: Musthofa Umar, S.Ag
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) terbentuk pada  23 Juli 1973. Organisasi ini menjadi simbol persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia. Kalau melihat sejarah, peran pemuda dalam lahirnya Republik Indonesia sangat penting. Mereka ikut berjuang pada masa perjuangan revolusi fisik ataupun pemikiran hingga Indonesia merdeka.

Bukti konkrit ini tidak bisa dipungkiri, dari semangat yang pernah ditorehkan oleh para pemuda. Peristiwa 1908, 1945, 1965 hingga Mei 1998 aksi mahasiswa menurunkan Presiden Soeharto adalah bukti nyata pemuda. Bahkan, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pernah berucap, “beri aku sepuluh pemuda revolusioner, maka aku akan mengguncang dunia”. Begitu pentingnya pemuda, sebagai aset generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini.
Berangkat dari hal itu, beberapa konflik yang pernah terjadi di Kota bima bisa dikatakan konflik pemuda. Banyak yang berkomentar, kemana tokoh agama saat konflik? Kemana tokoh masyarakat? Kemana pemerintah? Namun, belum ada yang memertanyakan kemana KNPI? Juga organisasi pemuda yang lain. Coba kita buka kembali pada konflik kelompok pemuda Melayu-Kolo, juga Kampung Sumbawa dan Sarae terakhir Penatoi dan Penaraga, rata-rata konflik anak muda (pemuda). Gejolak muda mereka yang sering mengakibatkan konflik internal terjadi, entah masalah perempuan, ketersinggungan sampai masalah gengsi. Kalau sudah konflik pemuda, terkadang orangtua juga ikut terlibat. Konflik sering mengatas namakan wilayah, sehingga mau tidak mau yang ada di wilayah tersebut ikut merasa berkewajiban menjaga wilayahnya.
      Tentu sangat menjadi miris hati ini, jika suatu saat masalah yang sama akan terus terulang. Islah demi islah sudah dilakukan. namun konflik tidak menjadi pelajaran sehingga kembali lagi terjadi, dengan konflik yang sama. Lalu bagaimana kaitannya dengan KNPI? KNPI banyak orang mengira sudah bubar, sudah “mati” bersama ambruknya pemerintahan Soeharto, sehingga pasca reformasi beberapa kalangan ingin membubarkan organisasi ini, karena stigma KNPI adalah pernah menjadi “anak emas” Orde Baru. Tetapi, kenyataanya KNPI masih berdiri tegak, bahkan waktu konflik Penatoi dan Penaraga, jarak  kurang lebih 300 meter ke arah Selatan, dari lokasi konflik, kantor KNPI masih berdiri. Anggapan saya, tentu kalau ada kantor pasti ada pengurus. Kalau pengurusnya ada tentu ada yang diurus, atau program kerjanya.
        Harapan kita, tentu seperti yang dulu. KNPI diharapkan masih bisa menjadi pemersatu pemuda, di samping sebagai embrio perubahan dan wadah persemaian kader pemimpin masa depan. Memang tidak mudah, saat banyak partai juga ikut mendirikan organisasi pemuda yang menjadi basis kader mereka. ‘Cap’ inilah yang masih melekat pada KNPI sebagai kader pemuda Golkar pada waktu Orde Baru. Fungsi mereka tidak jauh berbeda dengan Garda Bangsa-nya PKB, Garda Nasdem, di Gerindra, di PDIP dan yang lainnya. Namun, dalam teori pemasaran, tentu merek yang terkenal itulah yang laku jual. KNPI produk lama, yang tentu namanya sudah banyak dikenal dan perannya masih bisa diharapkan untuk mengkoordinir anak-anak muda kita, agar tidak lagi bercerai-berai, konflik kepentingan dan lainnya. Persaingan dalam hal inovasi dan karya tentu itu yang diharapkan oleh kita. Harapan ini tentu, kita masih berharap KNPI-lah yang harus menjadi perekat bagi mereka semua.
    Potensi besar pemuda sebagai social control dan agent of change yang masih konsisten dalam khittah perjuangannya telah memersatukan kesepahaman mereka yang kemudian meleburkan diri menjadi wadah kepemudaan yang digelari dengan nama Komite Nasional Pemuda Indonesia. tahun 1973 itu, OKP (organisasi kepemudaan) yang salah satunya ada namanya Kelompok Cipayung ini terdiri dari HMI, PMII, GMNI, PMKRI, dan GMKI. OKP ini bersifat kepemudaan berbasis mahasiswa, mereka memosisikan diri sebagai sparing partner pemerintah, mengontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang menyimpang serta memihak kepada rakyat.
Kita ketahui OKP-OKP ini juga bentukan dari jamah atau organisasi agama, misalnya PMII cendrung ke NU dan HMI cenderung ke Muhammadiyah. Namun, kita tentu salut atas meleburnya mereka ke dalam KNPI saat itu. Nah, tentu kita tidak berharap adanya OKP dan KNPI secara umum, tumbuh hanya sebagai pengeritik kebijakan pemerintah saja, namun harus lebih dari itu yakni membantu pemerintah dalam hal menjaga ketentraman, kedamaian, dan keindahan dengan tanpa ada konflik. Bagaimana harusnya mereka mengoordinsai teman-teman mereka, supaya bisa menjadi pioner “damai itu indah”. Karena mungkin pemuda dengan jiwa ‘pemberontak’ akan sulit menerima saran dan nasehat kaum tua. Bisa jadi, dengan dasar sesama pemuda, nasehat-nasehat mereka mungkin bisa diterima dan dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, OKP dan KNPI harus lebih mengedepankan komunikasi dengan pemuda-pemuda yang ada di Kota Bima ini khususnya. Entah komunikasi dalam bentuk kegiatan atau yang
lain, boleh saja asal ada jalinan hubungan yang selalu tersambung dan bisa mengontrol antaranggota pemuda yang lain.
    Mengingat falsafah lama, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” telah mengakar dan terpatri dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga, ketergabungan ini akan memunculkan potensi yang menggemparkan. Akan tetapi, dalam perjalanannya, KNPI dan OKP lain banyak menuai kritik dari kalangannya sendiri. muncul konflik-konflik internal antar-OKP sendiri. Jauh sebelumnya kasus HMI di Mande misalnya, atau PMII di Karara adalah bentuk ketidakpuasan sebagian pihak, yang menjadi kerikil tajam bagi perjalanan OKP itu sendiri.  Kerikil inilah terkadang juga menumbuhkan keraguan pada masyarakat luas, tentang eksistensi dan peran mereka untuk pemuda yang lain. Dalam Islam ada istilah “ibda’ binafsik” atau mulai dari diri sendiri. Nah, jika kita ingin mendamaikan konflik pemuda secara luas, maka harusnya antar anggota OKP sendiri harus damai dan memberi contoh yang baik terlebih dahulu.
Kenangan manis KNPI masa Orde Baru sangatlah diperhitungkan. Ketergabungan pemuda pada KNPI ini telah menjadikannya ‘bak gadis manis di hadapan lelaki mata keranjang’. KNPI begitu menarik dan memikat penguasa saat itu untuk merebut dan meminangnya. Bahkan, ketergabungan OKP ini terindikasi sebagai bentuk rezim berkuasa untuk mengebiri kekritisan kaum muda saat itu. Hal ini dikuatkan dengan berafiliasinya KNPI dengan Parpol yang berkuasa saat itu. KNPI mulai kehilangan independensinya karena mendukung rezim otoritarian. KNPI sepertinya tidak punya lagi peran strategis untuk memperjuangkan kaum muda. Sebab sepanjang kiprahnya, banyak dijadikan alat mobilitas bertikal untuk jabatan politi atau menjadi lahan penghidupan yang mengatas namakan kaum muda.
Belum lagi KNPI sebagai federasi yang mewadahi seluruh pemuda, telah diposisikan sebagai organisasi kepemudaan tersendiri. Sehingga fungsinya sebagai wadah pemuda terbiaskan dan memunculkan sebuah wadah baru yang hanya menaungi OKP tertentu atau hanya merangkul segelintir kalangan saja. Sekali lagi, KNPI masih ada sampai sekarang ini. Lalu kemana mereka dan apa saja peran mereka untuk pemuda-pemuda Indonesia secara umum dan untuk Kota Bima secara khusus. Saya belum pernah melihat nyata, suara mereka jika ada konflik seperti ini di media terutama.
Kekuatiran ini tentu tidak harus muncul kalau memang KNPI maksimal melaksanakan perannya dan sesuai kebutuhan pemuda serta  kebutuhan bangsa. Jangan sampai KNPI kehilangan momentum dan menyebabkannya ditinggalkan oleh organisasi kepemudaan lainnya. Untuk itu, selayaknyalah KNPI menata kembali organisasinya, juga sudah menjadi kewajiban jika ada konflik internal maupun eksternal untuk diminimalisasi, bahkan dieliminasi.
KNPI harus di depan dari pada OKP-OKP yang lain. Karena dari sisi usia tentu KNPI lebih senior dengan OKP yang lain. Itu artinya, pengalaman dan nama sudah patut diperhitungkan, dan menjadi pioner kebangkitan pemuda secara nasional. Jangan sampai KNPI hanya tinggal nama dan kantor tanpa ada terobosan-terobosan yang bisa dinikmati dan dibaca masyarakat laus.
     Pemuda kita mungkin kekurangan pekerjaan, mungkin kekurangan tempat-tempat rekreasi, sehingga jenuh. Kejenuhan demi kejenuhan inilah yang terkadang membuat pikiran menjadi sempit. Menilai dan menganggap hal sepele menjadi luar biasa. Andai saja, mereka ada kesibukan lain. Atau ada pilihan lain yang membuat mereka ‘lupa’ untuk mengurus hal-hal sepele seperti itu, alangkah baiknya demikian itu. Tentu pilihan-pilihan lain itulah, yang kita harapkan tumbuh dari KNPI dan OKP-OKP yang ada. Peristiwa Penatoi dan Penaraga, adalah terakhir untuk Kota Bima. Dan juga terakhir untuk kaum muda kita. KNPI dan OKP-OKP yang ada, hendaknya menjadikan konflik kepemudaan yang pernah terjadi menjadi momentun untuk perbaikan diri atas pemuda yang ada. Cobalah berafiliasi dengan pemerintah, agar pemuda-pemuda kita diberikan fasilitas olah raga yang lengkap, hiburan yang lengkap dan kegiatan serta keterampilan yang lengkap supaya mereka tidak konflik lagi. Kalau
dibutuhkan dialog, KNPI dan OKP menjadi penghubung antara pemerintah dan kaum muda.
Beberapa tawaran di atas bisa dilakukan oleh KNPI dan OKP-OKP lain untuk mengembalikan citra pemuda dan membangkitkan kembali semangat membara dari kaum muda kita. Terhadap wacana persaingan kepentingan politik dan hiruk-pikuk Pemilukada yang sebentar lagi digelar, KNPI dan OKP-OKP yang lain, diharapkan mampu memerankan diri menjadi perekan persatuan antarpemuda. KNPI harus menunjukkan indepedensinya, tidak terperosok ke dalam salahsatu kepentingan Parpol atau golongan. Sebab apabila ini dilakukan, jangan harap pemuda-pemuda di Kota Bima bisa bersatu. Karena pemersatunya sudah tidak satu tujuan dan visi. Kita tidak ingin pemuda sebagai pelopor perjuangan dan perubahan, berubah fungsi dan peran menjadi pelopor demo dan konflik yang ada. Melalui  semangat pemuda yang luar biasa ini, hendaklah diarahkan dan dikembangkan ke arah yang baik, sehingga menghasilkan ketenteraman, kedamaian dan keindahan seperti harapan di atas.
Nah, mudah-mudahan tulisan ini tidak menyinggung KNPI atau OKP-OKP lain, melainkan sebagai ‘pecut’ kita agar lebih jeli untuk melihat masa depan Kota Bima lebih baik daripada masa depan organisasi-organisasi kita. Justru bagaimana harusnya orgnasisai kita bisa membantu pemerintah dalam hal menentramkan pemuda, tanpa harus menunggu konflik terlebih dahulu. Cukuplah konflik-konflik kemarin menjadi pelajaran. Bina mereka, dengan komunikasi, silaturahmi  dan kegiatan-kegiatan positif lain, agar mereka kelak bisa diandalkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Kota Bima. Amin ya robbal ‘alamin.
Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bima. Dan Pengurus PHBI Kota.

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top