Opini

Menakar Keberhasilan MTQ

ilustrasi

Oleh: Musthofa Umar, S.Ag
Mushabaqah Tilawatil al-Qur’an (MTQ) segera dihelat kembali. Sesuai surat edaran Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Kota Bima, pelaksanaan tingkat Kelurahan antara Februari hingga Maret. Tingkat Kecamatan antara April hingga Mei. Puncaknya di tingkat Kota Bima nanti sekitar bulan Juni 2013. Agenda rutin ini setiap tahun kita ikuti, kita persiapkan untuk penyelenggaraannya. Kesuksesan tentu menjadi impian tiap panitia dan pelaksanaan MTQ. Sangat ‘gampang’ untuk mengukur kesuksesannya, bila acaranya sudah selesai. Panitia dibubarkan, evaluasi kegiatan dilaporkan.

Namun, bagaimana dengan peserta MTQ sendiri? Pernahkah kita mengevaluasi dampak dari kegiatan ini terhadap kesuksesan program Magrib Mengaji? Tetapi, mudah-mudahan itu sudah dilakukan, mungkin saya yang ‘fakir’ ini saja tidak mengetahuinya.
Opini saya kali ini, mengangkat judul ‘Menakar Keberhasilan MTQ’.  Keberhasilan MTQ tentu tidak sekadar mengantarkan anak-anak menjadi juara. Akan tetapi, jauh dari itu, tujuan yang ingin kita capai lebih dari sekadar juara. Kita menginginkan anak-anak, generasi kita selanjutnya menjadi insan-insan Qurani. Orang yang selalu berpegang teguh pada ajaran-ajaran al-Quran dalam setiap kehidupannya. Usia dini adalah masa yang sangat bagus untuk memulai cita-cita ini. Guru-guru TPQ atau TPA tentu tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi juara di ajang MTQ saja, akan tetapi secara kaaffah (menyeluruh) seluk-beluk al-Qur’an, sehingga masa pendidikan al-Qur’an tentu tidak sebentar. Atau tidak sekedar bisa ‘lagu’ lalu berhenti mengaji.
Hasil evaluasi saya selaku Penyuluh agama Islam di Kantor Kementerian Agama Kota Bima, menemukan ada TPQ yang langsung mengajarkan lagu terhadap anak-anak kita yang baru bisa membaca al-Qur’an. Sah-sah saja memang, akan tetapi pembelajaran al-Qur’an ada urut-urutannya. Lagu urutan nomor sekian, artinya tidak terlalu menjadi prioritas dalam memahami al-Qur’an. Memang MTQ bukanlah ajang lomba untuk melagukan al-Qur’an saja, ada lomba-lomba lain yang masih menyangkut al-Qur’an. Misalnya syahril al-Qur’an, kaligrafi, hafidz al-Qur’an dan lain sebagainya. 
Khusus masalah lagu, tentu bukan hal yang wajib untuk dipelajari. Karena banyak orang yang mengerti al-Qur’an, tetapi tidak bisa melagukan al-Qur’an. Akan tetapi, sebaliknya banyak yang bisa melagukan al-Qur’an belum bisa mengetahui secara keseluruhan al-Qur’an. Comtoh saja Prof. Dr. H. Quraisy Shihab, bukan qari Nasional, bahkan Internasional. Beliau ahli tafsir terbaik di negeri ini, bahkan Asia. Karena kita belum pernah mendengar dan melihat beliau tanding diperhelatan MTQ-MTQ yang sudah ada. Nah, dari itu sebenarnya apa prioritas mulai awal hingga akhir dalam memahami al-Qur’an itu? Agar nanti bisa kita menakar sejauhmana pengaruh MTQ terhadap kesuksesan Kota Bima membangun Bima Magrib Mengaji.
Tentu tidak sia-sia dana sekian besar dikeluarkan oleh Pemkot selama MTQ berlangsung, tapi untuk mengejar juara saja tanpa dampak positif yang ditimbulkan perhelatan MTQ itu terhadap program nasional ini. Belum lagi ada masalah-masalah yang timbul dalam perhelatan yang mulia ini. Misalnya saja hadiah kurang bermanfaat, kurang pas, sampai kepada pendanaan yang dipotong sana-sini. Hal-hal ini juga perlu mejadi evaluasi serius dalam setiap perhelatan MTQ.
Nah urutan-urutan ini penting untuk diikuti secara tertib, sehingga kita memahami al-Qur’an secara menyeluruh sehingga benar-benar menjadi ahli dalam al-Qur’an. Pada lain pihak, urut-urutan ini juga bisa mengukur diri, sejauhmana kita sudah melangkah dalam memahami al-Qur’an. Dengan begitu, menjadikan kita untuk semangat kembali mempelajari al-Qur’an, memelajari yang belum kita pelajari dan pahami.
Terkadang ada anak-anak kita bahkan mungkin kita sendiri, setelah bisa membaca al-Qur’an lalu selesai dan tidak lagi membaca dan belajar al-Qur’an. Diantara urut-urutan belajar dan memahami al-Qur’an itu diantaranya:
Pertama,  Adab terhadap al-Qur’an. Adab ini penting dipelajari pada awal kita ingin mempelajari al-Qur’an. Adab juga bagian dari penilaian pada setiap perhelatan MTQ. Jauh dari itu, adab terhadap al-Qur’an menjadi penting, karena al-Qur’an adalah makhluk juga. Di mana nanti pada hari akhirat, al-Qur’an bisa memberi syafaat (pertolongan) kepada siapa yang membacanya. Lain dari itu juga, al-Qur’an adalah kumpulan kalam-kalam Allah. Tentu harus dan wajib untuk dihormati. Bahkan menyentuh, memegang dan membawa al-Qur’an, tidak sembarangan. Misalnya harus dalam keadaan suci (berwudu’ dan bebas hadas kecil dan besar). Membacanya juga merupakan ibadah, karena itu penghormatan kepadanya harus ditunjukkan di awal sebelum mulai belajar membacanya.
Banyak kita lihat anak-anak, bahkan orang dewasa memegang al-Qur’an ‘sedikit’ keliru. Terlihat kurang menghormati al-Qur’an. Misalnya membawa al-Qur’an lebih rendah dari kemaluan dan pantat, atau menaruh al-Qur’an sejajar dengan kakinya, bahkan ada anak-anak menduduki dan menginjak al-Qur’an. Padahal al-Qur’an menurut kitab Taklimul Muta’allim, harus ditempatkan paling tinggi dari pada bacaan-bacaan lain. Mungkin kita akan bilang, “Ah masih kecil, nanti kalau sudah mengerti tidak akan seperti itu”. Memang demikian adanya, justru harusnya, dengan usia kecil itulah kita memberitahukan cara menghormati al-Qur’an, sehingga besarnya nanti akan terus diingat. Nah, bagian inilah yang harus diperhatikan, tidak dianggap remeh. Karena al-Qur’an adalah makhluk yang bisa memberi syafaat. Jadi kalau mau cepat paham al-Qur’an, maka hormati dia.
Kedua, Ceritakan sejarah dan kedudukan al-Qur’an. Bagian ini juga penting, karena dengan anak-anak diperkenalkan apa dan siapa al-Qur’an, itu bisa membangkitkan niat dan kemauan mereka untuk mempelajari al-Qur’an.  Dengan mengetahui al-Qur’an bagian dari rukun iman, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, dan membacanya juga ibadah ini bisa menambah kecintaan anak-anak terhadap al-Qur’an, dan kecintaan inilah yang nantinya mengantar anak-anak kita giat belajar al-Qur’an.  Terkadang sebagian anak-anak kita, tidak paham sejarah al-Qur’an sendiri, mereka hanya paham al-Qur’an kitab suci orang Islam.  Dan kewajiban guru-guru TPQ/TPA dalam mengajar anak-anak mengaji, diselipkan dengan sejarah-sejarah al-Qur’an. 
Pada bagian ini juga bisa ditambah dengan cerita-cerita yang terkandung di dalam al-Qur’an, sebagai selingan dalam memberi pelajaran kepada anak didik kita. Misalnya sejarah Nabi-nabi terdahulu, dan juga sejarah-sejarah yang lain, seperti Ashabul Kahfi dan Lukmanul Hakim.
Ketiga, Belajar mengenal dan membaca. Mulailah pada tahapan ini, kita diperkenalkan huruf demi huruf dalam al-Qur’an. Cara membaca mulai dari alif, ba, ta dan seterusnya. Belajar membaca al-Qur’an saat-saat ini tentu tidak sesulit masa lalu. Sekarang telah ada model Iqro’, cara cepat belajar al-Qur’an. Bahkan temuan terbaru secara digital. Tidak seperti dahulu yang harus membaca dan mengenal huruf, ejaannya, dan cara membacanya, sehingga bisanyapun menjadi lama, untuk bisa menghatamkan al-Qur’an. Nah, kemudahan-kemudahan belajar membaca inilah harusnya menjadi semangat anak-anak kita untuk lebih giat lagi belajar al-Qur’an. Bisa jadi para orang dewa bahkan orangtua, yang belum bisa membaca al-Qur’an, mencoba belajar melalui model Iqro’ ini.
Keempat, Makhraj dan Tajwid. Setelah murid-murid kita lancar membaca al-Qur’an, kini saatnya kita mulai menata makhraj dan tajwidnya. Karena al-Qur’an adalah bahasa yang cukup sulit, beda huruf beda makna. Sehingga harus betul cara melafazkannya. Contoh saja, kalimat kalbun (menggunakan huruf kaf) dengan Qalbun (menggunakan huruf Qof). Satu artinya Anjing dan satu artinya Hati. Belum lagi jika salah harkat, maka lain pula maknanya, sehingga wajib untuk memelajari makhraj serta tajwidnya. Makhraj adalah tata letak keluar huruf dalam rongga mulut kita, di samping cara membunyikan huruf-huruf al-Qur’an. Tajwid adalah tanda baca yang harus dipahami, sehingga menambah keindahan dalam membaca al-Qur’an. Sisi panjang dan pendek harkat, menyimpan makna dan hukum yang berbeda-beda.  Nah apabila anak-anak kita sudah memahami makhraj dan tajwidnya, menjadikan mereka faseh (fasohah) dalam membaca al-Qur’an.
Kelima, Nahwu dan Sharraf. Pada tahapan ini menjadi persiapan bagi mereka yang ingin memahami terjemah dan makna al-Qur’an. Karena membaca al-Qur’an tidak tidak sekedar membaca tanpa mengerti makna dibalik ayat-ayat Allah itu. Karena dengan kita memahami maknanya, kita tentu akan semakin mantap dalam menjalankan hidup kita, karena selalu hidup dengan al-Qur’an. Banyak orang yang bisa membaca al-Qur’an tapi tidak tahu apa arti dari ayat yang mereka baca tersebut. Sehingga al-Qur’an bagi sebagian orang, sekadar bacaan tapi bukan amalan. Nah, nahwu dan sharraf atau kosa kata arab penting untuk mereka mengerti cara memahami al-Qur’an. Kalau dua ilmu ini anak-anak kita kuasai, tanpa belajar bahasa arabpun, mereka bisa menterjemah al-Qur’an sendiri.
Keenam, Terjemah dan Tafsir. Setelah anda memahami ilmu nahwu dan sharraf, selanjutnya mulai meningkat ke arah terjemah dan tafsir al-Qur’an. Terjemah beda dengan tafsir, karena terjemah sekedar bisa mengartikan al-Qur’an, namun tafsir lebih luas jangkauannya. Dengan anda bisa belajar tafsir, maka makna yang terkandung dan yang dimaksud Allah SWT dalam setiap firman-Nya, dapat kita pahami. Al-Qur’an adalah mujmal jadi banyak maksud dan makna yang masih rahasi, dan perlu teruangkap. Walau memang Hadits muncul sebagai penjabaran maksud-maksud Allah SWT dalam al-Qur’an. Namun, masih banyak yang perlu dan bisa diketahui, jika Anda bisa menjadi mufassir al-Qur’an.  Dan tahapan ini tidak banyak orang yang menjadi seperti ini. Mereka harus menguasai ilmu asbabun an-nuzul (sejarah turunnya ayat-ayat al-Qur’an),  Ijaz dalam al-Qur’an, munasabah dalam al-Qur’an, nasikh mansukh dan Qawaid tafsir.
Ketujuh, Pengamalan dalam kehidupan. Nah, setelah kita memahami makna yang terkandung didalam al-Qur’an maka wajib hukumnya  dilaksanakan. Sisi ini menjadi sangat penting bagi setiap orang yang mengetahui al-Qur’an. Memang banyak kita sudah melaksanakan isi dan tuntutan al-Qur’an dalam hidup, namun kita hanya mengetahuinya dari kata per kata para ustad yang menyampaikan. Alangkah indahnya, jika kita sendiri mengetahui  maksud al-Qur’an dan dari sini menjadi terdorong untuk melaksanakannya dalam setiap sisi kehidupan kita.
Kedelapan, Sisi Keindahan. Saya mengatakan sisi keindahan karena merupakan pilihan-pilihan yang tidak menjadi wajib untuk kita lakukan. Misalnya dalam sisi ini, belajar melagukan al-Qur’an, kaligrafi dan menghafal al-Qur’an. Ketiga bidang ini, menjadi pilihan lain bagi sebagian orang. Sah-sah saja anda memilih pilihan ini. Namun, sekali lagi bukanlah priorotas, untuk dikatakan ahli dalam al-Qur’an. Akan tetapi, tidak sedikit orang berubah hidupnya, dari sisi keindahan ini. Misalnya, dengan mendengar hafalan anak-anak kita, atau mendengar Qori’ah kita melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan merdu, menjadikan kita tertarik untuk belajar al-Qur’an. Nah, mudah-mudahan setiap perhelatan MTQ bisa menjadi semangat baru bagi anak-anak yang lain untuk belajar al-Qur’an.
Tentu dengan niat ikhlas dan tulus, sehingga sinar al-Qur’an dapat terang dengan cepat, menerangi Kota Bima yang kita cintai ini. Bukan sekedar untuk meraih juara, ketemu Presiden atau bisa pergi haji dan umrah saja.  Dan tidak ada intrik-intrik lain, seperti dalam pertandingan-pertandingan di luar pertandingan al-Qur’an (MTQ).  Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk saya pribadi yang ‘fakir’ ini terutama dan untuk kita semua. Amin.
Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di Kantor Kemenag Kota Bima

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top