Politik

Bocah jadi “Jualan” Kampanye Calon

pelibatan massa di bawah 17 tahun

Kota Bima, Bimakini.com.-  Hiruk-pikuk kampanye Pemilukada Kota Bima tidak hanya melibatkan pemilih yang telah memenuhi hak pilihnya. Tetapi, tidak jarang anak, bahkan bocah yang belum mengerti apa-apa, ikut dilibatkan. Selain datang untuk meramaikan, bocah dijadikan objek menarik dalam agenda kampanye.

Seperti yang terlihat pada saat kampanye pasangan nomor lima, Sucipto-Junaidin (Sujud) di lapangan Kelurahan Lampe, Selasa (30/4) siang.  Seorang bocah laki-laki berusia sekitar tiga tahun asal Kelurahan Mande diarak keliling di atap mobil kijang hingga memasuki arena. Bocah itu menjadi pusat perhatian, bukan karena masih ingusan, melainkan penampilannya yang mengundang tawa.
Bagaimana tidak, balutan busana penutup bocah tidak ada sama sekali, karena semua tubuh telah dicat dengan warna hijau bercampur putih. Tidak ketinggalan, “wilayah terlarang” bocah ikut dicat warna putih sehingga nyaris tidak terlihat lagi. Pada bagian dada dan punggung dituliskan nomor lima.
Penampilan bagian atas tidak kalah menariknya, yakni berhias kacamata hitam dengan rambut menjulang tinggi bergaya punk seperti lazimnya personel band aliran rock. Gemuruh tawa peserta kampanye semakin terdengar saat sang bocah menari mengikuti irama musik mendekati panggung utama.
     Tidak sampai di situ saja, bocah yang belum diketahui namanya itu kembali diarak hingga menaiki panggung bersanding dengan para biduan cantik yang berlenggak mengalunkan suara. Entah bocah itu mengerti atau tidak yang diperbuatnya, yang jelas peserta dewasa dan keluarga bocah tersebut ikut memberi dukungan.
     Selain kehadiran bocah itu, konvoi para Waria (wanita-pria) di atas mobil bak terbuka juga menjadi perhatian. Mereka datang berkelompok sekitar tujuh orang dengan gaya mirip wanita, dandanannya menor. Irama musik yang mengalun membahana di lapangan menjadi isyarat komando lenggakan tubuh mereka.
     Kampanye pasangan dokter dan birokrat ibukota Jakarta itu merupakan yang perdana digelar. Hampir sama dengan pasangan nomor urut lainnya, peserta kampanye yang hadir juga memadati arena. Bahkan, membludak hingga di ruas jalan. Akibatnya, kemacetan tidak terhindarkan dan sebagian pengguna jalan maupun peserta yang hendak pulang terpaksa berputar arah menempuh jalur menuju Wawo kemudian turun ke Dodu untuk menghindari kemacetan.
    Saat kampanye pasangan nomor 4 Subhan-Riza (Suri) di lapangan Ama Hami, Selasa pagi,  kemacetan juga terjadi karena padatnya peserta kampanye. Petugas Sat Lantas Polres Bima Kota terpaksa bekerja ekstra mengurai kemacetan.
    Tidak hanya pada saat kampanye Sujud, pelibatan anak yang belum menjadi pemilih juga terlihat pada kampanye Suri dan semua pasangan yang telah berkampanye. Tentunya dalam berbagai kemasan masing-masing.  Pendek kata, anak dan bocah menjadi “jualan” menarik ketika berkampanye. (BE.20)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top