Connect with us

Ketik yang Anda cari

Dari Redaksi

Etalase Kemnag

Kasus tindak pidana korupsi di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kabupaten Bima telah memasuki babak pamungkas. Tiga pejabat setempat telah dieksekusi Selasa (28/5) lalu. Hanya menyisakan satu orang yang akan dikonfirmasi oleh pihak Kejaksaan Negeri Raba Bima pada Selasa pekan depan. Mereka dieksekusi berdasarkan petikan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Daerah Mataram. Peristiwa itu merangkai akhir drama memalukan plus memilukan di ‘bilik suci’ Kemnag.    

     Lalu, apa yang bisa kita ambil sebagai i’tibar?  Jelas saja, itu adalah contoh terbuka bagaimana nafsu kekuasaan terlepas dari kekangan kendali keimanan. Sesuatu yang menabrak motto ‘ikhlas beramal’.   Kekuasaan tanpa kendali moral akan menggiring seseorang dalam kubangan masalah, bahkan melemparnya ke sudut pengap bui. Sudah banyak  contoh yang bisa disaksikan dari berbagai ragam kasus korupsi di Tanah-Air yang disiarkan media massa. Namun, selalu saja ada pengulangan sejarah kelam yang menghinggapi anak manusia. Seperti penyesalan sejumlah pihak, munculnya perilaku korup di ruang Kemnag adalah fakta pahit.           

    Kasus Kemnag adalah etalase hukum yang kesekian kalinya, terpampang di Dana Mbojo. Ia adalah bahan renungan, refleksi, dan kewaspadaan. Setiap orang bisa saja terjebak pada nafsu kepemilikan terhadap sesuatu atau masuk pusaran perilaku korup karena kondisi lingkungan kerja memungkinkannya. Di mana pun dan kapan pun. Namun, manusia selalu punya pilihan terhadap opsi. Apapun pilihan, selalu berkonsekuensi. Kasus ‘penggarongan dana sertifikasi guru’ yang berujung bertambahnya komunitas baru di Rumah Tahanan Raba Bima itu adalah implikasi dari suatu pilihan. Suatu rangkaian logis. Siapa menabur angin, akan menuai badai.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

        Selanjutnya, kita mengharapkan akan muncul titik balik kesadaran baru dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga. Ya, bagi para terpidana dan pejabat lainnya. Bagi kita semua pada medan pengabdian masing-masing. Berbuat kesalahan memang manusiawi, namun tekad tidak mengulanginya harus menjadi fajar baru kebangkitan kesadaran. 

Semoga etalase terbuka kasus itu menjadi fokus perhatian kita agar lebih mampu mengendalikan diri dan lingkungan kerja. “Berpuasa” terhadap sesuatu yang bukan hak kita. Dari kasus itu, mari kita ambil hikmahnya. Semoga. (*)  

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.- Setelah kasus sertifikasi guru menyeret empat pejabat Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kabupaten Bima hingga jeruji besi, kini giliran kasus pemotongan tunjangan sertifikasi...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.com.- Pejabat Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kota Bima terpaksa ‘memutar otak’ mencari banyak cara mengatasi ketiadaan anggaran operasional selama lima bulan terakhir....

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.-  Tiga dari empat terdakwa kasus tindak pidana korupsi di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kabupaten Bima,  yakni Abdul Muis, Jufrin, dan Fifi Faridah,...

Pendidikan

Dompu, Bimakini.com.- Puluhan guru yang tergabung dalam Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (GPAII) Dompu  berunjukrasa di depan Kantor Kementerian Agama (Kemnag)  Dompu, Senin....

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.com.-Status terdakwa yang melekat pada Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kabupaten Bima, Drs. H. Yaman, menyebabkan rumor soal posisi jabatannya bermunculan. Rumor...