Politik

Atribut di Zona Terlarang Ditertibkan

Penertiban atribut kampanye caleg.

Bima, Bimakini.com.- Aparat Trantib Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima dibantu Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kecamatan Soromandi, menertibkan sejumlah atribut seperti baligo, poster yang dipasang membelakangi masjid, sekolah dan Puskesmas di wilayah setempat. Penertiban itu dilakukan Minggu (1/9/2013) pagi.

Kepala Seksi Trantib Kecamatan Soromandi, Mulyadin, S.Ag, menjelaskan, penertiban dilakukan menyusul hasil koordinasi dengan penyelenggara Pemilu, merujuk surat Camat Soromandi tentang penetapan zona larangan pemasangan atribut serta regulasi terkait Pemilu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 dan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2013.

“Penertiban hanya kita lakukan di zona-zona terlarang seperti untuk atribut yang dipasang membelakangi tempat  ibadah, fasilitas publik seperti sekolah dan Puskesmas. Selama ini kita juga menerima keluhan dari warga tentang keberadaan atribut yang dipasang di zona larangan ini,” jelasnya di Soromandi, kemarin.

Disebutkannya, atribut yang ditertibkan di antaranya empat baligo yang dipasang membelakangi  SDN Lewidewa dan Masjid LDII Desa Lewintana, satu baligo jumbo dipasang di depan SDN Inpres Bajo. Selain mengganggu pemandangan dan nilai estika. Pemasangan atribut tersebut belum dilaporkan kepada pemerintah kecamatan maupun instansi lokasi pemasangan.

       “Bahkan, untuk baligo yang dipasang menempel di pagar SDN Inpres Bajo, kaki palangnya masuk ke areal sekolah dan kita lihat tembok sekolah juga rusak gara-gara dipaku untuk menempelkan kaki baligo,” katanya.

       Diakuinya, sebelum penertiban yang disaksikan penyelenggara Pemilu, sudah berupaya menempuh upaya komunikasi atau pola persuasif kepada sejumlah pimpinan Parpol dan calon anggota legislatif. Namun, hanya sebagian yang merespons.

       “Kan sebelum itu juga sudah ada surat yang jelas dengan batas waktunya mereka pilih tertibkan sendiri atau ditertibkan oleh trantib. Kami juga berterima kasih ada beberapa calon dan pimpinan Parpol dengan kesadaran sendiri mencabut sendiri atribut yang dipasang di zona larangan,” katanya.

     Kepala SDN Inpres Bajo, Ico Rahmawati, mengaku, selama ini tidak pernah dihubungi oleh pimpinan Parpol maupun calon. “Tidak pernah kita izinkan, kalaupun saya lihat saat dipasang. Pasti kami tegurlah,” katanya.

      Warga Bajo, Junaid, mengapresiasi penertiban atribut yang dilakukan Trantib dan penyelenggara Pemilu di Kecamatan Soromandi. Semestinya dari dulu ditertibkan. “Sekarang bagus pemandangan, karena kemarin kita lihat beberapa atribut kadang menghalangi pemandangan. Sekarang sudah bersih di depan kantor pemerintah, sekarang bagus. Kalau aturan kan sudah jelas,” katanya.

     Menurutnya sebelum memasang atribut, para calon mestinya melaporkannya kepada Pemerintah Desa atau Pemerintah Kecamatan. Memertimbangkan estetika desa atau wilayah.

       “Mestinya dari awal masang juga minimal dilaporkan ke Pemerintah Desa. Kan masang baligo itu nggak sembarang, harus ada untuk PAD-nya juga. Saya tahu itu karena pernah panitia di desa, harus adalah kontribusi untuk desa juga,” katanya.

      Warga Desa Lewintana, Usman, mengungkapkan, sebenarnya sudah lama penduduk setempat menginginkan artribut yang dipasang membelakangi masjid dan sekolah ditertibkan karena mengganggu pemandangan.

       “Cukup mengganggu pemandangan, tapi syukur sekarang sudah ditertibkan,” ungkapnya. (anas)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top