Opini

Islam Indonesia, Sejarah, dan Potretnya Kini

(Musthofa Umar)

Bima, Bimakini.com.-Berbicara Islam Indonesia,  enaknya mulai dari mana?! Apakah Islam Indonesia itu membahas sejarah Islam di Indonesia ataukah membahas potret Islam Indonesia masa kini?! Akan tetapi enaknya membahas kedua-duanya, mulai dari sejarah Islam masuk ke Indonesia terlebih dahulu, baru kita korelasikan dengan potret Islam masa kini.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang memberi rahmat, keberkahan, ketenangan bagi sekalian alam. Alam yang dimaksud tentu bukan hanya manusia saja, akan tetapi bumi, lingkungan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan binatang yang lain. Dari sisi manusia saja, tidak ansih umat Islam, akan tetapi semua manusia beragama Islam atau tidak, harus dirahmati oleh Islam.

Hal ini adalah ajaran Islam, tentu Islam sebagai agama tidak akan bisa menjalankan ajarannya sendiri. tentu yang dituntut untuk menjalankan setiap ajarannya adalah pemeluknya. Nah di Indonesia Agama Islam adalah agama terbesar bahkan untuk ukuran dunia dengan total pemeluk 85,2 porsen atau 199.959.285 jiwa dari total penduduk Indonesia 234.693.997 jiwa.  Dan Islam Indonesia telah dijadikan cermin oleh negara-negara lain bahkan asal Islam itu sendiri (Arab-Mekkah dan Madinah), dalam mengamati prilaku Islam. karena Islam yang ada di Indonesia adalah Islam yang di canagkan dan di idam-idamkan oleh Rasulullah SAW melalui Konstitusi Madinah atau dikenal dengan istilah Piagam Madinah pada tahun 622 M di kota Yathrib selanjutnya berubah nama menjadi Madinah.

Sebelum kita membahas potret Islam Indonesia, kita melihat selintas sejarah Islam masuk ke Indonesia terlebih dahulu.  Tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi (Muawwiyah bin Abu Sufyan) ke Jawa tepatnya ke Jepara yang saat itu bernama Kalingga, untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dan hasil kunjungan Duta Islam ini, Jay Sima putra Ratu Sima yang menguasai Kerajaan Kalingga masuk Islam.  Kemudian pada tahun 674 Masehi, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di Pantai Barat Sumatra. Dan Aceh menjadi wilayah Nusantara pertama penduduknya banyak memeluk Islam.  

Sejarah mencatat Kerajaan Islam pertama berdiri adalah Pasai. Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 Hijriah atau 1292 Masehi, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. demikian halnya dengan Ibnu Battuthah, seorang pengembara Muslim dari Maghribi yang ketika singgah di Aceh tahun 746 Hijriyah atau 1345 Masehi menuliskan bahwa Aceh telah tersebar Madzhab Syafi’i. hal ini yang membantah datangnya Islam dari Gujarat (India), karena pada saat itu Gujarat beraliran Syi’ah. Tentu kalau memang Islam berasal dari Gujarat, maka banyak pemeluk Islam di Indonesia beraliran Syi’ah. Nyatanya, penduduk Indonesia sebagian besar adalah beraliran Syafi’i.

Penduduk Nusantara baru memeluk Islam secara massal pada abad ke-9 Hijriah atau 14 Masehi. Hal ini terlihat karena banyaknya kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri pada saat itu, seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, Ternate dll.  Pesatnya Islam pada saat itu, disebabkan karena surutnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Dan menurut catatan Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam menulis, bahwa kedatangan Islam ke Nusantara bukanlah sebagai penakluk seperti bangsa-bangsa Portugis dan Spanyol yang datang ke Nusantara untuk menaklukkan atau menjajah. Malah Islam datang dengan cara damai  dan berniaga. Para pedagang dari Arab ini menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, merangkul, mengayomi, dan memandang semua manusia sama. Tidak membedakan kasta, keturunan, tahta dan agama. Sehingga banyak orang tertarik memeluk Islam pada saat itu.

Kemesraan Islam dan para pedagang Arab waktu itu terhenti akibat datangnya VOC penjajah yang ingin menguasai sendiri, rakus, tamak dan serakah pada abad ke-17 dan 18 Masehi. Mereka mendapat perlawanan dari kerajaan-kerajaan Islam seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makasar, Ternate, Cirebon, Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol) dan perang Aceh (Teuku Umar). Selama 3,5 Abad ditambah penjajahan Jepang, para tokoh dan masyarakat Islam berjuang hingga 17 Agustus 1945 Ir.H. Soekarno dan Ir. Muhammad Hatta memproklamirkan Indonesia Merdeka.

Lalu bagaimana potret Islam Indoensia saat ini. Islam Indonesia yang menjadikan Islam Rujukan adalah seperti yang saya tulis di atas, hampir menyerupai Piagam Madinah. Dimana karakteristik Islam Indonesia adalah, pertama; Majemuk atau Plural. Di Indonesia berdiri 6 agama yang diakui dan beratus-ratus suku bangsa yang ada, mereka terhimpun dalam Bhineka Tunggal Ika. Mereka hidup rukun saling bahu membahu. Inilah yang terpotret dalam Piagam Madinah yang disusun oleh Rasulullah SAE pasal 16, “sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukmin) tidak terzalimi dan ditentang olehnya”. Nah Indonesia walaupun sebagian besar beragama Islam akan tetapi bukan negara Islam, dan mengayomi semua agama yang ada. hidup rukun, saling gotong-royong. Kedua; Toleransi. Toleransi adalah salah satu semangat dari Islam. Semangat ini tumbuh seiring dengan “perkawinan” antara budaya Islam dan budaya lokal. Sehingga corak singkretisme (campuran faham) tidak  isa dihindarkan. Sifat toleransi Muslim Indonesia muncul karena bangsa Indonesia disatukan dalam rumpun budaya. Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan ragam budaya dan agama sejak mula.

Ketiga; Moderat. Moderat dimaksudkan untuk menggambarkan kehidupan keagamaan yang berada di tengah-tengah, tidak ekstrim dan tidak liberal. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, umat Islam adalah mayoritas di negeri ini, iini berarti bahwa religiusitas bangsa Indonesia adalah cerminan religiusitas umat Islam itu sendiri. Islam indonesia merupakan agama yang melindungi kehidupan agama dan kepercayaan lain. Agama dan kepercayaan lain dapat hidup aman dan damai di tengah-tengah mayoritas umat Islam. Hal ini tentu saja berbeda dengan keadaan umat Islam di beberapa negara yang hidup mayoritas di tengah-tengah  mayoritas agama lain.

Keempat; Sinkretisme. Hal ini juga bisa dikatakan merupakan akibat dari akulturasi Islam dan budaya lokal. Makna singkretik di sini maksudnya adalah adanya campuran unsur Islam dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan semangat fundamental Islam itu sendiri.
Singkretisme Islam dan budaya lokal inilah yang melahirkan Islam dalam bentuknya sekarang. Sebagai contoh, tradisi menggunakan peci hitam sebenarnya adalah tradisi orang-orang Turki yang kemudian menjadi pakaian orang Indonesia, terutama oleh orang-orang Islam. Demikian pula dalam ritual-ritual Islam, unsur-unsur budaya lokal masih sangat jelas, termasuk pada sebagian bangunan masjid. Jadi meskipun berasal dari Timur Tengah, tampilan Islam di Indonesia tidak selalu bernuansa Arab.

Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah yang mencakup 47 pasal itu, adalah memotret Madinah yang saat itu plural atau majemuk dari berbagai suku yang ada. termasuk agama yang sudah dianut oleh penduduk asli Madinah sebelum Islam masuk dibiarkan dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Mereka bebas dan aman diantara mayoritas Islam saat itu, inilah gambaran Islam yang diinginkan Rasulullah SAW saat itu, di Indonesia yang majemuk pemeluk dan kepercayaannya, akan tetapi bisa hidup rukun dan tidak saling ganggu antara satu sama lain.

Satu hal yang membedakan Islam Indonesia dengan Islam-Islam di negara yang lain adalah adanya Pondok Pesantren. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan non formal tertua di Indonesia. berdasarkan sejarah berdirinya istilah Pondok Pesantren, Imron Arifin menulis dalam bukunya, Kepemimpinan Kyai dalam Perubahan Manajemen Pondok Pesantren, Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng, yakni pada awalnya pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya diberikan dengan cara non klasikal (sistem pesantren), dimana seorang kyai mengajar santri-santrinya berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar abad pertengahan 12 dan 16 masehi.

Islam terjaga kemurnian dan besar mulai dari pondok pesantren. Bermula dari Abad ke-13 Masehi, Wali Songo dalam hal ini Sunan Ampel, mengajar beberapa santrinya (pengikutnya) tentang Islam, namun karena jauh asal mereka, maka Sunan Ampel mendirikan pondokan (asrama) untuk tempat menginap santrinya. Lama-kelamaan, semakin banyak santri yang menginap, dan bangunan asrama (pondok) semakin banyak. Hingga saat ini, di Indonesia berbagai corak dan bentuk pondok pesantren berdiri. Satu tujuan adalah untuk menjaga kemurnian dan keberlangsungan Islam di Nusantara. Amin…

                                           Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di Kementerian Agama Kota Bima.

 

 

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top