Sudut Pandang

Image

Salah satu kegiatan yang digagas sejumlah elemen muda Bima.

Oleh: Sofiyan Asy'ari

Seorang warga Semarang,  yang saya kenal ketika tiba di Bima, mendapat telepon dari kerabatnya.  Menanyakan apakah sudah sampai, juga menanyakan keadaan di Bima. Apakah aman atau tidak. Ada kekuatiran,  karena kerap kali menyaksikan keributan di Bima melalui televisi.

Itu bukan pernyataan pertama dari orang luar Bima saya dengar tentang sisi negatif daerah ini. Di berbagai acara diluar daerah pun, juga membicarakan tentang Bima yang dianggap selalu ribut. Bahkan ada yang dari Jakarta yang menelpon langsung, menanyakan apa yang terjadi di Bima. Mengapa selalu ribut.

Ada yang menguatirkan ini bisa menjadi ancaman terhadap iklim investasi di daerah. Karena keamanan menjadi modal utama. Bahkan sesungguhnya menjadi kebutuhan siapapun.

Image Bima sebagai “bumi konflik” sudah terlanjur tertanam di publik luar daerah. Apalagi konflik itu terpublikasi di media elektonik nasional.

Jika “berkunjung” ke Youtube, kita bisa menemukan video tentang kekerasan di Bima. Itu akan tersimpan dan menjadi referensi orang lain untuk membuat kesimpulan menganai Dana Mbojo. Konflik horizontal memang kerap terjadi ditengah masyarakat kita. Bahkan pelaku konflik itu sendiri adalah kelompok muda.

Ada beberapa peristiwa besar yang terjadi di Bima. Seperti  tragedi Pelabuhan Sape dan Pembakaran Kantor Bupati Bima. Ada juga konflik Godo-Samili dan Kalampa yang menghangusan hampir seratus rumah dalam satu dusun. Konflik Ngali dan Renda, Nisa dan Cenggu dan konflik lainnya.

Namun, ada beberapa konflik yang terjadi insidentil dan durasinya pendek. Seperti kericuhan aksi demonstrasi dan peristiwa lainnya. Itu terjadi hanya persekian menit, namun ketika terpublikasi di media nasional, seolah mengesankan peristiwa itu menyeluruh di Bima dan berdurasi lama. Tentu kita tidak ingin menyalahlan televisi yang menyiarkannya, karena itu adalah fakta tentang realitas.

Keterbukaan informasi, tidak bisa dihindari. Banyak sisi positif tentang Bima, namun belum diekplorasi optimal. Sekarang  tanggungjawab bersama bagaimana “melawan” image negatif tentang Bima.  Pemuda memiliki peran dalam mereduksi konflik komunal tersebut.

Ada banyak diskusi-diskusi yang sudah dilakukan kelompok muda Bima untuk mendiskusikan solusi mengurai akar konflik. Seperti oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bima yang pernah menggear dialog tentang Mengurai Akar dan Resolusi Konflik.  Demikian juga dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bima, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bima, Pusat Studi Konflik Agama dan Budaya (PUSKAB) NTB, serta lainnya. Ini ruang positif yang harus diapresiasi dan ditumbuhkan. Agar tradisi dialog menjadi bagian dalam upaya mencari solusi atas masalah yang ada.

Pernah juga, Pengurus KNPI Kabupate Bima, beraudiensi dengan Polres Bima Kabupaten menyikapi konflik yang terjadi di Monta Dalam. Saya yang masuk pengurus KNPI juga ikut serta dalam pertemuan itu. Ini semakin menunjukkan adanya kesadara pemuda untuk ikut menyelesaikan konflik.

Ini adalah sisi positif pemuda di Bima yang perlu dimunculkan. Selanjutnya, bagaimana terus mendorong kelompok muda terus ambil bagian dalam pembangunan daerah. Pemerintah juga harus memberi ruang ekspresi kaum muda, agar aktivitas bisa disalurkan secara positif.

Pemuda Perlu Semakin Mengerti dan Menghargai Keberagaman untuk Mencegah Perpecahan dan Konflik. Membudayakan dialog  untuk menghindari konflik secara fisik. Penegakan supremasi hukum juga menjadi penting, agar masyarakat tidak menjadi “barbar”.

Dalam setiap konflik selalu dicari jalan penyelesaian. Konflik terkadang dapat saja diselesaikan oleh kedua belah pihak yang bertikai secara langsung. Namun tak jarang pula harus melibatkan pihak ketiga untuk menengahi dan mencari jalan keluar baik oleh negara atau sebagai Organisasi Regional bahkan Organisasi Internasional.

Menurut Johan Galtung ada tiga tahap dalam penyelesaian konflik yaitu, pertama Peacekeeping. Adalah proses menghentikan atau mengurangi aksi kekerasan melalui intervensi militer yang menjalankan peran sebagai penjaga perdamaian yang netral.

Kedua, Peacemaking. Adalah proses yang tujuannya mempertemukan atau merekonsiliasi sikap politik dan stategi dari pihak yang bertikai melalui mediasi, negosiasi, arbitrasi terutama pada level elit atau pimpinan.

Dikaitkan dengan kasus ini pihak – pihak yang bersengketa dipertemukan guna mendapat penyelesaian dengan cara damai. Hal ini dilakukan dengan menghadirkan pihak ketiga sebagai penegah, akan tetapi pihak ketiga tersebut tidak mempunyai hak untuk menentukan keputusan yang diambil. Pihak ketiga tersebut hanya menengahi apabila terjadi suasana yang memanas antara pihak bertikai yang sedang berunding.

Ketiga Peacebuilding. Adalah proses implementasi perubahan atau rekonstruksi social, politik, dan ekonomi demi terciptanya perdamaian yang langgeng. Melalui proses peacebuilding diharapkan negative peace (atau the absence of violence) berubah menjadi positive peace dimana masyarakat merasakan adanya keadilan social, kesejahteraan ekonomi dan keterwakilan politik yang efektif.

Semoga apa yang sudah dilakukan oleh kelompok muda di Bima, terus didorong dan terdorong menciptakan kedamaian dan pedamaia di Dana Mbojo. Amin! (*)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top