Olahraga & Kesehatan

Bersepada Menikmati Indahnya Sisi Utara Wawo, Riamau, hingga Sape

Istirahat sejenak sebelum tiba di Sape.

          SAYA tidak pernah membayangkan kalau hobi naik sepeda membawa saya untuk bisa menikmati indahnya alam Bima. Yang tidak pernah akan saya lakukan walau saya memiliki kendaraan bermotor sekalipun. Pada Minggu, 31 Agustus 2014 kemarin, saya kembali berkesempatan  mengeksplorasi keindahan alam utara Kecamatan Wawo menuju Desa Riamau hingga turun di Desa Parangina, Kecamatan Sape. Berikut catatan perjalanan saya dengan kawan-kawan Bima Cycling Club (BCC).

          Sabtu siang saya mendapat BBM dari Fredy Lau, bos Listra Jaya, dealer sepeda merek Polygon. Katanya ada kawan dari pabrik Polygon mau ketemu. Pertemuan itu akhirnya terjadi di lesehan Dorondula, Taman Ria. Saya dikenalkan dengan Martin, pemasaran Polygon. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari soal manfaat bersepeda bagi kesehatan hingga komunitas sepeda yang mulai tidak aktif lagi. Akhir pertemuan, kami sepakat bahwa Minggu pagi akan bersepeda menjelajah Wawo menuju Desa Riamau hingga turun ke arah timur di Desa Parangina, Sape.

          Saya sendiri selama ini hanya dapat cerita dari Pak Abdi, ketua BCC. Bersama sejumlah anggotanya, yang sudah tiga kali melewati rute ini. Saya pun sepakat dan tertarik untuk ambil gambar acara Lamba Rasa, Bima TV. Acara ini sudah lama vakum sejak saya menjadi anggota Panwaslu Kota Bima. Saya kemudian mengajak Pemred Bima TV, Sofiyan Asy’ari, untuk memegang kamera. Karena Sofiyan juga biasa bersepeda. Hal ini dilakukan mengingat medan yang akan dilalui kali ini tidak bisa dilalui oleh motor apalagi mobil. Saya sempat sampaikan kendala bahwa sepeda saya belum prima, karena sudah lama tidak diservis. Apalagi belakangan saya sering pakai untuk jalur menanjak sehingga remnya perlu diseting ulang. Pengecekan fisik lainnya juga sudah lama tidak saya lakukan. Akhirnya koko Fredy (bos Listra Jaya biasa kami panggil), meminta saya untuk mencoba Polygon Recon 4.0. Alasannya, selain karena sepeda saya belum prima, juga karena jenis sepeda saya bukan MTB (mountain bike). Hanya United Dominate, ban standar yang hanya cocok untuk jalan aspal dan jalan tanah yang tidak ekstrim.

          Minggu pagi sekitar pukul 06.30 Wita, saya sudah tiba di Paruga Nae Convention Hall. Di tempat ini sudah hadir lebih dahulu Sofiyan, yang kemudian disusul Adit, Martin, Fitrah,  Sanjaya, Fredy, dan Pak Abdi. Kami menaikkan sepeda di atas mobil khusus dan meluncur ka Wawo. Kami menurunkan sepeda sebelah timur kebun H. Umar H. Abubakar, mantan Wakil Walikota Bima, sekitar pukul 08.30 Wita. Hawanya masih sangat dingin. Saya sendiri menggigil, walau matahari sudah tinggi. Segala sesuatu dipersiapkan, mengecek perlengkapan tour juga fisik sepeda. Sesuai rencana, saya akan mencoba Polygon Recon 4.0 dengan spesifikasi ban lebih besar, dobel shock (depan belakang), tentu harganya juga lebih mahal. Saya diberitahu beberapa perbedaan termasuk untuk posisi rem. Rem belakang Recon, ternyata ada di kanan, sementara sepeda saya berada di kiri. Saya jadi gugup, karena ini bukan persoalan sepele. Kebiasaan dan respon spontan terhadap situasi yang akan kita hadapi. Kalau salah menekan rem, itu sangat membahayakan. Biasanya saya tekan rem dengan tangan kiri untuk rem belakang, ini harus dengan tangan kanan. Saya kemudian meminta maaf kepada koko Fredy. ‘’Saya belum familiar, saya malah gugup kata saya berulang-ulang.’’ Akhirnya saya pun kembali dengan sepeda saya dan batal menggunakan sepeda MTB.

          Saya tahu ada risikonya. Tetapi ini lebih baik daripada saya gugup dan tidak bisa mengendalikan situasi, apalagi medan yang akan saya lewati belum saya kenal sama sekali. Membayangkan saja jalan berbatu lepas yang tidak bisa dilewati motor saja membuat saya berdebar-debar. Tetapi ada nikmatnya juga. Ada sensasi berbeda dan menantang. Saya berdoa semoga bisa saya lewati dengan baik.

          Begitu star, pemandangan menakjubkan bisa kami nikmati. Hawa sejuk dan hutan kemiri di sisi jalan membuat suasana tambah nyaman. Udara segar jauh dari asap kendaraan, membuat kita semakin sehat. Saya melaju tanpa hambatan karena masih melewati jalan menuju Desa Riamau, sebagian jalan ini sudah beraspal. Walau ada tanjakan, bagi saya tidak terlalu menjadi soal. Toh tanpa ikut tour ini pun, saya sering bersepeda naik di Lampe menuju Wawo atau naik di Dodu menuju Santangi. Saya pun kerap naik ke Oi Fo’o atau Nitu baik lewat Rontu maupun lewat Kumbe. Tidak perlu turun dari sepeda untuk beberapa  jalur ini. Lumayan tajam dan panjang. Tetapi karena sering dilewati yah jadi terbiasa juga. Demikian pula dengan jalan ke Kolo pergi pulang. Jadi tidak perlu saya cemaskan, dengan sepeda saya pun, kondisi itu bisa diatasi dengan baik. Namun demikian, sebagian besar dari rombongan ada yang terpaksa mendorong sepedanya karena kelelahan. Rute hingga Desa Riamau aman.

          Pemandangan indah dapat kita nikmati. Sejauh mata memandang ke arah selatan, hanya bentangan bukit-bukit. Karena belum musim hujan, memang terlihat gersang. Namun di dusun Kalate, sejumlah penduduk di sini masih bisa bertanam padi di musim kemarau seperti sekarang. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi kelihatannya bisa untuk memenuhi kebutuhan sejumlah warga di sini. Ada sumber air dan demikian subur. Kebun warga yang ditanami mangga, nangka, dan tumbuhan perkebunan lainnya tumbuh subur. Hutan pun terlihat masih terpelihara dengan baik. Saya sempat berhenti dan selfie di jembatan dusun Kalate, sambil menunggu kawan yang lain. Ada prasasti KKN mahasiswa STAIM Bima dan STKIP Bima. Warga di dusun ini memiliki sumber listrik tenaga surya dan disel.

Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di pusat desa Riamau. Saya bertemu dan sempat berbicara dengan warga setempat. Mereka adalah Pak M. Ali dan Pak Sulaiman.  Keduanya  bercerita banyak tentang kehidupan masyarakat di situ. Mata pencaharian utama mereka adalah berkebun. Ada sebagian yang memiliki sawah. Sebagian dari mereka ada juga yang menjadi TKI di luar negeri. Keinginan masyarakat untuk maju juga dapat dilihat dari banyaknya generasi muda yang melanjutkan pendidikan keluar daerah. ‘’Yang kuliah juga banyak pak,’’ kata Pak Sulaiman.

Apa yang mereka butuhkan? Akses jalan ke Sape. ‘’Harapan besar kami adalah adanya jalan tembus ke Sape,’’ kata Pak Sulaiman. Kalau mau ke Sape untuk menjual hasil kebun atau belanja bahan kebutuhan, meteka harus ke Wawo dengan jarak yang cukup jauh. Kalau mereka mau melewati jalan lebih dekat, harus berjalan kaki. Di jalan rintisan warga yang penuh belukar inilah, yang akan kami lewati.

Di jalan itu, belum bisa dilewati oleh motor, apalagi mobil. Padahal untuk meningkatkan kesejahteraan, mereka butuh akses jalan yang baik agar hasil bumi mereka bisa dijual dengan cepat dan dengan biaya murah. Selama ini mereka harus ke Wawo baru menuju ke Sape atau Kota Bima. Padahal jaraknya hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan jarak antara desa mereka dengan Sape. ‘’Kami harapkan pemerintah bisa membuka akses jalan ke Sape, agar kami mudah menjual hasil bumi kami,’’ timpal M. Ali.

Di ujung desa, jalan memang mulai tertutup. Saya sempat membuka bekal saya berupa dua butir telur rebus yang saya simpan di laci sadel sepeda saya. Ternyata dari dua biji telur itu, hanya satu yang masih utuh. Yang utuh saya berikan pada Sofian, sadangkan yang hancur saya coba pisahkan kulitnya yang sudah pecah kecil-kecil.  Yang bisa selamat hanya sebagian telur kuningnya. Itu pun sudah tercampur dengan pecahan kulit telur kecil-kecil. Namun bagi saya, sudah cukup untuk menambah tenaga. Belakangan baru saya sadari ternyata laci yang saya simpan di bawah sadel itu tidak saya tutup kembali. Uang yang sedianya untuk bekal makan siang rupanya jatuh.

Kami melanjutkan perjalanan. Hanya sepeda dan orang yang jalan kaki yang bisa lewati jalan tersebut. Jalan setapak yang ditumbuhi belukar. Kami harus hati-hati karena tantangan beratnya sudah dimulai. Jalan menurun terjal, berbatu lepas, sempit dan berkelok. Saya sempat bingung karena jauh dari rombongan. Tetapi saya agak tenang karena ada semacam tanda yang ditinggalkan kawan-kawan saat mereka lewat. Potongan ranting segar mereka buang di rute itu sebagai petunjuk jalan. Begitu masuk rute ini, satu-satu sepeda mulai rontok. Ban sepedanya koko Fredy mulai bocor, dilanjutkan dengan Pak Abdi. Di sisi jalan berbeda yang jauhnya hampir satu kilometer, sepedanya Pak Martin juga bocor. Dia duduk sendirian menunggu bantuan. Hebatnya, kru Pak Abdi sudah siap mengantisipasi kondisi seperti ini. Ban serep segera dikeluarkan dan masalah pun bisa diatasi. Fitrah yang telah melaju lebih dahulu, pun bernasib sama. Dia tertidur menunggu kami yang mengganti ban. Ban depannya pun pecah di sisi utara Desa Boke, Kecamatan Sape. Kami kehabisan banyak waktu ketika mengganti ban sepedanya Fredy. Ternyata ban serep juga bocor. Dipompa berganti-ganti orang, hasilnya sama. Tidak pernah kencang. Setelah dicek ternyata bank dalam serep tidak beres. Ban serep lain pun dikeluarkan dan berhasil. Pak Martin yang menunggu dengan cemas. Sekitar 30 menit rombongan paling belakang muncul.  Dengan sigap tim mengganti ban depan sepeda Martin. Kami melanjutkan perjalanan dan menyusul Fitrah yang sudah lebih dahulu jalan. Ternyata ban depan sepedanya pun bocor.

Kami sempat lama di atas bukit utara Desa Boke ini. Ternyata ban serep tidak cukup untuk sepedanya Fitrah. Berbagai upaya dilakukan. Untungnya, Adit mengingat pernah dititip kotak kecil seukuran dua kali dua centimeter oleh koko Alex pada tour sebelumnya. Dan itu adalah lem instan untuk kondisi darurat. Masalah akhirnya bisa diatasi karena salah satu ban dalam yang keluar dari koko Fredy bisa ditempel dengan lem ban tersebut. Walau ukuran ban tidak pas, tetapi kami masih bisa melanjutkan perjalanan ke Sape. Waktu kami cukup tersita. Sekitar pukul 12.20 Wita kami melanjutkan perjalanan. Jalan terjal berbatu kami lewati di siang yang terik. Harus ekstra hati-hati terutama buat saya karena selain belum pernah saya lewati, juga karena jenis sepeda yang saya gunakan, memang tidak cocok untuk medan seperti ini. Medan ini lebih tepat untuk downhill.  Dan sepeda saya hanya untuk jalan rata on road. Dengan hati-hati saya dikawal oleh Pak Abdi.

Sekitar pukul 12.20 Wita, kami sudah mulai menuruni bukit di sisi barat Desa Parangina.  Bagi kawan-kawan yang menggunakan sepeda MTB, mereka enjoy dan bahkan mengebut. Tetapi saya harus ekstra hati-hati karena jenis ban juga tidak cocok dengan kondisi medan seperti itu. Batu dan kerikil lepasan tidak bisa dicengkeram oleh kembang ban sepeda saya yang didesain untuk jalan rata. Bahkan direm sekalipun, tidak akan mengurangi kecepatan. Perlu teknik khusus dalam kondisi seperti ini. Salah satunya adalah jangan sampai pengeraman total yang menyebabkan ban berhenti berputar seratus persen. Lebih baik diatur supaya  ban tetap bisa berputar tetapi kampas rem mengatur kecepatannya. Ini bagi saya sangat berbahaya. Panas menyengat tidak membuat kosentrasi saya buyar. Bagi saya, jika salah mengantisipasi, taruhannya adalah celaka. Apalagi saya tidak memasang pengaman lutut dan siku. Helm pun saya menggunakan helm gabus yang biasa saya pakai untuk sepeda santai. Nekat.

Sekitar pukul 12.40 Wita, kawan-kawan sudah menunggu di ujung Desa Parangina Sape. Saya sempat menyapa Pak Ismail warga setempat.  Banyak hal yang saya tanyakan tentang kehidupan mereka. Umumnya mereka bertanam jagung, padi, dan bawang. Itu tergantung musim. Sape merupakan sentra produksi bawang merah terbesar selain Belo dan Monta. Pada saat kami lewat, warga Parangina juga warga Desa Rai Oi, sedang menanam jagung di sebagian persawahan mereka di sisi utara. Bawang merah mereka tanam di sisi selatan yang berdekatan dengan jalan negara. Rombongan wanita siang itu bergerombol pulang dari sawah. Di tangan mereka menenteng bawang yang baru mereka panen. Itu pasti sekadar untuk buah tangan bagi pekerja yang pulang makan siang. ‘’Ayo pak kami di-shooting juga,’’ katanya pada Sofiyan yang mengambil gambar saya sambil bersepeda sebelum memasuki Desa Rai Oi.

Karena sempat mengobrol dengan petani-petani di Desa Parangina untuk melengkapi gambar acara Lamba Rasa Bima TV, saya dengan Sofian agak telat tiba di Masjid Raya Almunawarrah Desa Nae, Sape. Di sinilah mobil yang akan membawa kami balik ke Kota Bima sudah menunggu. Kendati perut sudah minta diisi, tetapi kami memilih segera balik dan tidak makan siang di Sape. Saya berharap masih sempat untuk melewati rute ini lagi, tetapi harus lebih pagi agar tiba di Sape tidak terlampau menyengat. Semoga… (Khairudin M.Ali)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top