Olahraga & Kesehatan

Kamarni, Empat Tahun Menderita Tumor Perut

Bima, Bimakini.com,-Wanita warga Desa Tambe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Kaemani (21), kini hanya bisa pasrah menanggung penyakit yang menjadi beban hidup sejak empat tahun lalu. Wanita muda ini mengalami pembengkakan perut hingga sebesar gentong air.

   Karmani yang ditemui di kediamannya menyebutkan penyakit yang dialaminya ini mulai muncul sejak tahun 2010. Saat itu, dia masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Awalnya terlihat benjolan kecil di bagian depan perut. Namun, lama kelamaan, tepatnya sekitar kelas 2 SMA benjolan tersebut semakin membengkak sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya kini, bengkakan perut Kamarni pun mencapai ukuran gentong. “Bengkaknya di bagian perut, tapi nggak sakit,” katanya di Tambe, Sabtu (27/9).

    Sejak mengetahui penyakit tersebut, jelasnya, pernah dibawa  ke dokter di Bima dan dinyatakan sebagai  tumor. Kemudian dibawa berobat di Mataram pada tahun 2012. Saat di Mataram, diagnosis kembali berubah. Kamarni didiagnosis mengalami penyakit kista.

Oleh dokter di Mataram, Karmani lantas disuruh untuk dibawa ke Denpasar untuk dioperasi. Hanya saja, niat untuk operasi tersebut urung lantaran orangtua Kamarni yang tergolong tidak mampu. “Itu pun untuk biaya ke Mataram, merupakan hasil berhutang,” katanya.

    Kini akibat penyakitnya tersebut, Karmani hanya bisa duduk dalam ruangan rumahnya yang berukuran sempit. Lantaran beban perut yang cukup berat, aktivitasnya pun terbatasi. Namun, untuk urusan buang hajat, Kamani tetap melakukannya sendiri. Hanya saja, tidak bisa berlama-lama lantaran perutnya yang berat tersebut.

Dia sangat berharap, mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi agar bisa sembuh. Dalam benaknya, Karmani sangat ingin kembali melanjutkan bangku sekolah yang ditinggalkannya sejak kelas 2. Saat itu dia tidak bisa mengikuti ujian akhir, karena perutnya yang makin parah. Selain, itu Kamani juga sangat ingin berkumpul dan bermain bersama teman-temannya.

    Kakak kedua Karmani, Ibrahim, juga menuturkan hal yang sama. Dia ingin agar adiknya segera dioperasi. Namun, kondisi keluarga yang jauh dari kecukupan membuatnya pasrah dan menunggu uluran pemerintah maupun donatur.

     Kedua orangtuanya, Deo M Ali  dan Ramlah tentu tidak mampu untuk mengumpulkan uang. Sebab, sehari-harinya hanya sebagai buruh tani sementara orangtuanya hanya sebagai pemikul garam di tambak.

“Sehari-hari kami hanya bekerja sebagai buruh tani, mengumpulkan sisa-sisa padi orang disawah,” tutur Ibrahim diiyakan oleh warga lain yang juga ikut berkunjung.

   Sejauh ini, katanya, belum pernah mendapat bantuan resmi dari Pemerintah Daerah. Keluarga Karmani pernah melaporkan ke aparat desa, namun belum mendapat respons hingg kini. Laporan tersebut disampaikan sekitar tahun 2013.

Selama ini bantuan yang diterima bersifat sporadis, termasuk bantuan dari Gubernur NTB saat berkampanye. Saat itu Gubernur memberikan bantuan sebesar Rp5 juta kepadanya. Di samping Gubernur, pihak sekolah juga pernah membantu setelah mengetahui penyakit yang dideritanya.

“Kalau Kepala Desa sama sekali nggak datang,” ucap Karmani berlinang airmata. (BE31)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top