Sudut Pandang

Ide Film Korupsi di Warung Nasi Uduk

Ilustrasi: hs

Oleh: Sofiyan Asy’ari

TAWA meledak di warung nasi uduk di pojok depan Paruga Nae Convention Hall Kota Bima. Tidak terkecuali pemilik warung, tidak bisa menahan tawa. Tiga orang pembeli, berdiskusi ide film tentang dunia perkorupsian.

Seorang pengunjung setia nasi uduk itu, terlihat bersemangat bercerita kepada teman yang baru berjumpa lagi. Menceritakan hasil diskusi dengan teman-temannya tentang rencana membuat film. Ceritanya, tentang fakta korupsi. Bahwa korupsi harus menjadi kebanggaan, bermartabat dan dimuliakan dari hasil korupsinya.

Koruptor bisa diidolakan, memberi inspirasi yang lain. Ada buku khusus tentang petunjuk korupsi. Kemudian muncul banyak konsultan. Pejabat bisa berkonsultasi, dimata anggaran mana peluang menyunat anggaran. Atau dari total dana di SKPD pejabat itu, berapa persentase yang bisa dikorupsi. Agar bisa memenuhi kebutuhan, membeli motor, mobil, berjalan-jalan keluar negeri, gonta-ganti HP keluaran baru dan lain sebagainya.

Katanya, dalam film itu ada banyak pejabat yang datang pada konsultan. Pejabat satu dengan lainnya tidak merasa malu, karena korupsi meningkatkan martabat. Konsultan juga membuka kelas, pemula, menangah dan lanjut. Pemula akan diajarkan materi yang tingkat kesulitan korupsinya mudah.  

Mereka yang berkonsultasi, harus membawa semua dokumen anggaran, APBD, DPA dan RKA. Konsultan akan menganalisis dan memberi gambaran berapa persentase yang bisa dikorupsi. Bagaimana strateginya, termasuk pengamanan secara administratif. Intinya, semua prosesnya clean. BPK pun tidak bisa menemukan celah. Apalagi NGO anti korupsi, akan terkecoh, menanggap pejabat telah bekerja dengan jujur.

Masih dalam cerita film yang akan dibuat. Pejabat-pejabat yang korupsi juga menjadi dermawan. Terang-terangan disebut hasil sumbangannya adalah dari korupsi. Orang pun mendoakan, agar hasil korupsinya bisa meningkat, sehingga makin banyak disumbangkan. Termasuk di masjid.

“Kita harus membuat image, bahwa korupsi itu bermartabat,” jelasnya tentang film yang akan dibuat itu. Alur cerita itulah yang membuat penjual nasi uduk tertawa, karena menganggap cerita filmnya aneh. Korupsi menjadi sesuatu yang mulia. Padahal kejahatan luar biasa.

Kata korupsi saat ini terkesan lunak, tidak sangar. Beda dengan maling. Tapi mungkin itu bedanya, maling itu istilah yang bukan pejabat.

Pria dengan tubuh agak gempal itu melanjutkan ceritanya.  Masih dalam film yang akan digagas. Tokoh utama tidak puas dengan konsultan pertama, karena nilai korupsi dianggap terlalu kecil. Lantas, ke konsultan lainnya. “Apakah anda bisa meninkatkan persentasi korupsi saya di SKPD ini. Ini APBD, DPA dan RKA-nya. Karena konsultan yang disana hanya persentasenya sekian,”. Sang konsultan pun menganggap itu persoalan kecil dan gampang untuk meningkatkan jumlahnya.

Sang tokoh utama juga gemar membagi uang di kampungnya. Anak-anak kampung akan mengelukan dengan bangga. “Koruptor datang…koruptor datang….koruptor datang.” Anak-anak pun akan mendapatkan jatah uang.

Ada satu anak yang terus mengamati sang koruptor. Rupanya, lebih dari sekedar berharap jatah uang. Namun mengidolakannya. Anak itu bekerja keras menjadi buruh pasar. Mengumpulkan uang untuk sekolah. “Saya harus sekolah agar bisa menjadi koruptor seperti dia,” kata sang anak dan meneguhkannya dalam hati.

Ending film itu, kata kawan tadi, tokoh utama sang koruptor dihadang perampok malam hari. Uang satu tas dirampas dan ditembak mati. Adegan itu disaksikan sang bocah yang mengidolakannya. Setelah perampok itu pergi, ia mendekat. Tapi tidak menolong sang koruptor. Membuka tas yang ditinggalkan perampok itu. Dibukanya, tidak ada uang, hanya dua buah buku dengan judul “Cara Korupsi Mudah” jilid I dan II.

Bocah itu, menoleh ke segala arah. Merasa aman. Meninggalkan sang koruptor naas itu dengan membawa dua buku.

Ide cerita itu menarik minat temannya yang memiliki studio film. Bahkan ingin segara shooting. Keesoknya, datang ke rumah kawan tadi untuk membahas pembuatan filmnya. Namun tidak ada aktor yang datang. Kawannya itu puun pulang dengan kecewa.

Padahal rencananya, film itu akan diputar dengan mengundang semua pejabat. Tidak boleh ada yang tersinggung. Karena ada konsultan koruptor yang dihadirkan diacara nonton bareng.

Andai film itu dibuat. Entah bagaimana orang bereaksi. Karena film dibuat sebagai sebuah ironi, tentang dunia nyata perkorupsian. Pemberantasan korupsi masih menjadi agenda  besar bangsa ini. Tidak hanya bisa berharap pada lembaga penegak hukum, namun semua berperan mengawasi jalannya pemerintahan.

Saat ini ada Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 2010 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang membuka ruang publik untuk berpartisipasi mengawasi pembangunan. Demikian juga dengan pejabat, tidak dibolehkan merahasiakan sesuatu kepada publik, sehingga orang harus curiga.

Wallahu’Alam. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
To Top