Sudut Pandang

Pukul 07.55 Wita

Ilustrasi: hs

Oleh: Sofiyan Asy’ari

SUASANA kampus belum ramai. Ada beberapa mahasiswa sudah datang. Seorang dosen memarkir motor. Dengan kemeja putih dan dasi biru masuk ke ruangan. Sudah ada dua mahasiswa menunggu. Duduk di meja dan menyapa keduanya.

“Susah bangun pagi ya,” kata sang dosen menyindir mahasiswa lainnya yang belum juga datang ke kampus. Jam sudah menunjukkan pukul 08.10 wita. Belum ada tambahan.

Salah satu mahasiswa diruangan itu berinisiatif melihat rekannya di luar. Rupanya benar, ada mahasiswa lainnya, duduk di luar kelas. Namun tidak lekas masuk, meski sudah dipanggil rekannya.

Ada satu mahasiswa yang mengintip dikaca jendela. Dia adalah mahasiswa dosen itu.

Sang dosen menghela nafas. Memberi pengantar singkat kepada dua mahasiswa diruangannya. “Saya baru membaca artikel tentang Kota Bima penyumbang tebesar pengangguran. Anda harus siap menghadapi situasi riil, ketika sudah sarjana. Jangan sampai menjadi bagian dari penyumbang angka pengangguran. Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan, jika mampu menangkap peluang. Teramat banyak, namun kadang kita tidak pandai menangkapnya. Dari hal kecil saja, bisa mendatangkan pendapatan,” terangnya.

Mahasiswanya yang masih ada diluar belum juga masuk. “Ok. Saya tutup pertemuan ini, saya anggap dua mahasiswa saja yang hadir. Sampai jumpa minggu depan,” kata dosen muda itu sambil meninggalkan ruangan.

Ada mahasiswa kelas itu yang sebelumnya di luar hendak masuk, namun sang dosen sudah menuju motor meninggalkan gerbang kampus. Entah, apakah merasa kesal, karena mahasiwanya acuh, sehingga tidak bersemangat mengikuti matakuliah. Padahal ia siap berbagi pengetahuan.

Dosen itu ingin mendiskusikan tentang data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB yang baru saja dirilis dan dimuat media. Berita di situs antara http://www.antarantb.com/berita/27060/ bps-ntb-kota-bima-penyumbang-pengangguran-tertinggi. Judul berita yang mencolok itu mengusiknya.

“Badan Pusat Statistik mencatat Kota Bima menjadi menyumbang pengangguran tertinggi, yakni 6.736 orang atau sebesar 8,69 persen dari total 127.710 warga Nusa Tenggara Barat yang belum memiliki kesempatan kerja hingga Agustus 2014.

“Pada periode Agustus 2014, Kota Bima memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Wahyudin di Mataram, Jumat.

Kabupaten kedua dengan tingkat pengangguran tertinggi, kata dia, adalah Lombok Timur, yakni 38.231 orang atau 7,16 persen, di susul Dompu 5.699 orang atau 6,51 persen, Lombok Tengah 29.115 orang atau 6,37 persen, Kabupaten Sumbawa Barat 3.538 orang atau 5,71 persen.

Kabupaten Lombok Utara berada pada posisi keenam penyumbang angka pengangguran, yakni 4.953 orang atau sebesar 5,42 persen, disusul Kota Mataram sebanyak 9.530 orang atau sebesar 4,79 persen, Kabupaten Sumbawa sebanyak 9.361 orang atau sebesar 4,27 persen, Lombok Barat sebanyak 12.201 orang atau sebesar 4,19 persen dan Bima sebanyak 8.345 orang atau sebesar 4,10 persen.
Dilihat dari tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), kata Wahyudin, kabupaten yang memiliki TPAK tertinggi adalah Kabupaten Lombok Tengah dengan TPAK sebesar 71,81 persen. “Sedangkan terendah di Kabupaten Dompu, sebesar 56,93 persen,” kata Wahyudin menyebutkan.

Jika dibandingkan antara tingkat pengangguran kabupaten/kota dengan tingkat pengangguran provinsi, kata Wahyudin, secara umum ada empat kabupaten/kota yang memiliki tingkat pengangguran di atas rata-rata provinsi, yaitu Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, Dompu dan Kota Bima.

Sedangkan Kabupaten Lombok Barat, Sumbawa, Bima, Sumbawa Barat, Lombok Utara dan Kota Mataram memiliki tingkat pengangguran di bawah rata-rata provinsi. “Secara absolut angka pengangguran di NTB, pada periode Agustus 2014 mencapai 127.710 orang atau bertambah 3.950 orang dibandingkan keadaan Februari 2014,” sebut Wahyudin”.

Berita itulah yang membuat sang dosen galau. Dipacunya kendaraan dan mampir di warung gerobak yang menjual nasi uduk. Disana berjumpa dengan seorang teman. Mereka mengobrol, hingga membahas berita data BPS tentang pengangguran di Kota Bima.

“Saya kira kalau tidak ada lapangan pekerjaan salah. Malas saja menurut saya,” kata temannya menyimpulkan.

Diskusi soal angka pengangguran semakin seru. Hampir satu jam. Hingga ide perlu mengadakan kegiatan Job Fair. Sebelum rekannya pamit karena menjemput anak di sekolah.  Ide Job Fair dianggap menarik sebagai salah satu solusi mengurangi pengangguran. Juga membantu perusahaan yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja.

Seperti keluhan salah seorang pengusaha yang ikut nimbrung dalam diskusi itu. “Kalau tidak ada lapangan kerja, sepertinya tidak. Saya butuh tenaga kerja, tapi rasanya sulit mendapatkannya,” kata pengusaha itu.

Dua hal yang ironi. Satu sisi BPS menyatakan angka pengangguran tinggi, namun sisi lain ada perusahaan yang sulit mendapatkan tenaga kerja. Lantas apa yang salah. Kemana pengangguran itu ketika ada yang membutuhkan tenaga kerja.

Sore hari, sang dosen muda itu kembali berdiskusi dengan temannya yang lain. Masih dengan topik sama. Persoalan ini harus dipandang serius oleh semua pihak, termasuk pemerintah. Pengangguran bukan persoalan remeh, karena bisa menjadi ancaman. Salah satunya meningkatnya angka kriminalitas.

Pemerintah harus mampu mendorong tumbuhnya dunia usaha. Termasuk ekonomi kreatif dikalangan generasi muda. Kampus-kampus juga perlu memberikan bekal tentang kewirausahaan. Mengadakan pelatihan dengan menghadirkan enterpreneur atau pengusaha. Memberi motivasi kepada mahasiswa untuk bisa membaca peluang.

Dosen itu tersentak dari tidur.  Jam sudah menunjukkan pukul 07.55 Wita. Lima menit lagi waktunya untuk mengajar di kampus. Laptopnya masih menyala dengan tampilan Judul Berita BPS NTB: KOTA BIMA PENYUMBANG PENGANGGURAN TERTINGGI disitus http://www.antarantb.com.

Berita itu rupanya terbawa sampai mimpi. Pergi ke kampus dengan perasaan galau. Ia kuatir mahasiswa menunggu lama. Tidak seperti dalam mimpinya, hanya disambut dua mahasiswa. Diharapkannya topik itu menarik didiskusikan bersama mereka.

Wallahu’Alam.  (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
To Top