Opini

‘’Guru Disayang, Guru Dibuang’’

Oleh: Eka Ilham.S.Pd.M.Si.*)

Eka Ilham.S.Pd.M.Si, Ketua Umum SGI Kabupaten Bima.

Eka Ilham.S.Pd.M.Si, Ketua Umum SGI Kabupaten Bima.

MUNGKIN itu kalimat yang saya ingin ungkapkan dengan banyaknya muncul tentang persoalan pendidikan terutama persoalan guru dan lingkungan pendidikannya. Guru dianiaya muridnya dan orang tua wali, guru dijebloskan ke penjara dan banyak kasus lainnya sampai pada persoalan guru yang dianggap profesionalnya dan kompetensinya rendah.

Sepertinya tuntutan besar memilih profesi guru itu, harus jadi menjadi manusia yang sempurna. Ketika guru dianggap tidak memiliki kompetensi dalam mengajar, guru disalahkan, ketika murid berprestasi tak sedikitpun diberikan penghargaan yang layak terhadap guru. Persoalan kompetensi guru tidaklah harus serta merta menggeneralisasikan bahwa guru itu tidak berkualitas dan tidak profesional.

Dalam proses belajar, guru juga berfungsi sebagai pembelajar di dalam kelasnya, mulai dari proses penguasaan kelas sampai pada pengenalan karakter siswa-siswanya. Guru bukan hanya mentransfer ilmu sesuai dg kompetensinya, tapi guru mentransfer ketaladanan. Guru yang baik adalah guru yg bisa memberikan ketaladanan pada siswanya. Tidak serta merta kita menjustifikasi guru pada sisi kompetensi mata pelajaran yang dia ajarkan. Bukan pada sebatas itu kita menilai guru itu tidak berkualitas. Sebab ada banyak fungsi yang bisa diperankan guru.

Persoalan hari ini, guru dengan mendapatkan aneka tunjangan, salah satunya sertifikasi, itu adalah hak guru dan negara wajib membayar utang-utangnya kepada guru.

Tuntutan besar, tetapi hasil akhir diabaikan. Itulah tugas yang terus ditekuninya. Seringkah kita mendengar seseorang yang mendapat apresiasi dari negara dengan alasan mampu mencetak generasi lebih baik? Kemudian sering mana kita mendengar guru masuk penjara karena langkah-langkah perjuangannya yang dianggap salah oleh negara? Di antara kedua hal tersebut, mana yang lebih tertampang di media? Kita memiliki jawaban yang sama untuk pertanyaan di atas. Guru dituntut mendidik anak-anak agar bisa lebih baik. Satu-satunya jalur aman yang tersedia pada bangsa yang sudah tertata rapi peraturannya untuk zaman sekarang ini, adalah melalui perubahan karakter anak. Dalam hal ini guru fokus pada perubahan karakter anak.  Yang sebelumnya malas belajar hingga rajin belajar, sebelumnya jahat jadi baik, sebelumnya rambut siswanya panjang hingga pendek dan rapi, sebelumnya seragam sekolahnya tidak rapi hingga jadi rapi, dan masih sangat banyak hal negatif lainnya yang harus disulap oleh pahlawan bangsa tersebut agar jadi bagian golongan-golongan positif. Namun, apakah menurut kita pada jalur aman tersebut tidak muncul kendala-kendala yang mampu menggelengkan kepala?

Coba perhatikan (sebagian) pelajar zaman sekarang! Mereka merokok sembarangan, keluyuran ke mana-mana saat jam sekolah, tawuran kerap terjadi di mana-mana, menjalin pasangan tak jelas, dan masih banyak hal yang tertampang jelas di mata masyarakat sebagai potretan-potretan pendidikan anak bangsa. Hal demikian sudah terjadi bertahun-tahun. Di saat potretan-potretan pendidikan anak bangsa seperti ini tidak teratasi dengan maksimal, maka serentak sang gemuruh tak berpendidikan muncul dan mengatakan “semuanya salah guru”. Sungguh berat tugas mulia ini. Guru dihujat ramai-ramai saat tidak berhasil meningkatkan reputasi anak bangsa. Ketika pendidikan Indonesia terpuruk, guru juga yang dicabik-cabik oleh suara yang entah berantah dari mana asalnya.

Sebenarnya yang harus kita terawang dari “tenggelamnya” pendidikan Indonesia bukan hanya guru, melainkan banyak faktor lain, seperti fasilitas belajar, dukungan dari pemerintah setempat hingga pemerintah pusat, wewenang guru dalam mengajar, dan masih banyak hal lainnya yang perlu diperhatikan agar peningkatan mutu pendidikan Indonesia bisa lebih baik dari hari ini. Dari sisi yang berbeda, negara dinilai masih lemah dalam memberi apresiasi apabila guru mampu mengangkat reputasi anak bangsa. Program pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru juga belum maksimal.  Banyaknya daya saing guru dan kemajuan anak bangsa malah lebih terlihat di tempat pendidikan yang berstatus swasta. Tempat-tempat swasta lebih mengutamakan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan hasil akhir yang dipimpin langsung oleh pimpinan tempat tersebut. Guru yang kompeten akan terus diberi reward, guru yang belum mampu akan terus di-upgrade kemampuannya sesuai dengan bidang masing-masing hingga mencapai tingkat kreatif yang luar biasa.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud membandingkan secara keseluruhan bahwa tempat pendidikan yang berstatus swasta lebih baik daripada yang berstatus negeri atau pun sebaliknya. Dalam situasi seperti ini saya lebih menekankan, sekaligus mengharapkan agar ke depannya negara lebih mempedulikan proses-proses yang guru terapkan di sekolah hingga pencapaian akhir yang baik. Banyak guru dan tempat pendidikan negeri yang mampu membawa nama baik pendidikan Indonesia, tetapi apresiasi negara masih lemah. Itu yang masih disayangkan.

Menurut saya, standar kompetensi guru harus berbasis data. Tidak semua PNS tidak berkualitas. Bagi saya, guru-guru itu adalah pahlawan walaupun kita menyadari masih ada guru yang belum melek teknologi, tetapi jangan serta merta mereka dikatakan tidak berkualitas. Jangan lupa, guru-guru SD kita dahulu tidak mengajar dengan teknologi pada saat itu. Tetapi mereka mampu mencetak murid-murid terbaik bahkan menjadi pemimpin di negeri ini.

Pada prinsipnya, mari kita berbenah, jangan saling menyalahkan apalagi mengambing hitamkan guru tidak berkualitas. Basis data apa yg dipakai? Saya berharap peranan negara dan masyarakat penyenlengara pendidikan, baik itu tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi, bercermin diri bahwa tugas mengawal anak bangsa ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama.  (*)

*) Ketua Umum SGI Kabupaten Bima

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top