Opini

Potret Masyarakat Bima

Oleh: Agus Salim

“Tempora Mutantur et nos Mutsmur Illis – waktu berubah dan kita ikut berubah didalamnya – Dr. Hans J. Daeng.

Istana Kesultanan Bima. Sumber Foto : http://www.mbojoklopedia.com

Istana Kesultanan Bima. Sumber Foto : http://www.mbojoklopedia.com

Waktu selalu bergerak maju. Kehidupan suatu masyarakat tidak ada yang statis, selalu berubah. Tentu kita masih ingat apa yang pernah di katakan oleh seorang filsuf ternama di zaman yunani kuno di waktu yang silam, Heraklitus. Katanya, panta rei – semuanya mengalir. Kita tidak bisa melewati sungai yang sama untuk kedua kalinya, karena airnya mengalir. Para ilmuwan sosial pada umumnya sepakat, bahwa kehidupan sosial pasti mengalami perubahan. Tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri – begitulah kira-kira pernyataan Dr. Syarifudin Jurdi saat  menjadi pemateri yang berlangsung di Asrama Mahasiswa Bima di Yogyakarta yang diadakan oleh FIMNY.

Solidaritas Durkheim – mekanik ke organik, Hukum tiga tahap Auguste Comte, dialektika sejarah Hegel, sampai Ashobiyah-nya Ibnu Khaldun, merupakan sedikitnya contoh yang bisa menjadi landasan bagi kita, bahwa kehidupan bermasyarakat itu dinamis. Begitupun halnya dengan masyarakat Bima. Peralihan dari Ncuhi-Naka ke Kerajaan menuju Kesultanan sampai bergabung dengan NKRI, hingga saat ini menjadi Daerah tingkat I dan II. Suatu realitasnya sosio-historis masyarakat Bima yang tidak bisa dibantah.

Perubahan bukanlah suatu yang harus ditakuti, tetapi sebaliknya menjadi kenyataan yang harus diterima. Perubahan sebagai suatu keharusan tidak selamanya membawa kebaikan dan kedamaian bagi suatu masyarakat, sebaliknya tidak selamanya membawa bencana dan petaka dalam kehidupan. Lalu apa yang menyebabkan kehidupan suatu masyarakat berubah, khususnya Bima. Globalisasi sebagai implikasi dari modernisasi telah mendorong banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat hampir di seluruh jagat Bumi, tidak terlepas masyarakat Bima. Dari skala makro sampai mikro, hampir tidak ada perubahan saat ini yang tidak bertolak dari globalisasi, terutama dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang sama-sama kita nikmati saat ini. Kehadirannya telah membawa dampak positif-nefgatif secara bersamaan. Penulis tidak hendak menghakimi akibat yang ditimbulkan oleh globalisasi, melaikan mencoba menguraikan kemanfaatan atau sisi baik dan “keburukan” dari globalisasi.

Kondisi Masyarakat Bima  

Ada cerita yang berkembang, bahwa anak-anak Bima yang merantau terkenal dengan kepandaiannya dalam membaca Qur’an – memang belum ada penelitian tentang itu. Cerita tersebut merupakan sedikitnya ciri, bahwa masyarakat Bima cukup religius (terutama Islam). Di Bima sebagaimana Syarifudin Jurdi mengatakan bahwa, “Islam begitu kata warga masyarakatnya sebagai pedoman kehidupan mereka, sulit ditemukan tradisi yang menyimpang dari spirit Islam dalam kehidupan warganya (Jurdi, 2007:52)”. Tetapi itu dulu. Lain zaman lain pula ceritanya. Identitas, penghayatan, dan pengalaman kita terhadap nilai-nilai budaya dan keislaman yang sebelumnya tertanam kuat. Patut kita pertanyakan kembali. Terpinggirnya budaya-budaya asli dan kecerdasan lokal (local genius) yang sebelumnya dihiasi oleh nilai-nilai keislamna yang cukup kuat, merupakan salah akibat buruk dari globalisasi yang sebenarnya kita belum siap menerimanya. Tetapi pada sisi lain kita tidak kuasa untuk menolaknya. Dilematis.

Berbagai penyimpangan terus bermunculan. Kian hari kian bertambah dengan variasinya masing-masing serta motifnya yang semakin beragam. Bencana sosial, suatu keadaan yang melanda kehidupan masyarakat sebagai akibat dari banyaknya peyimpangan yang terjadi dan meresahkan kehidupan dan interaksi sosial, sedang menjangkiti organ-organ vital kehidupan masyarakat Bima. Konflik vertikal kian membentuk diri, konflik horisontal belum juga kunjung redam. Kadang-kadang hanya karena masalah “sepele”, harus berujung pertumpahan darah dan bahkan nyawa harus menjadi bayarannya. Belum lagi, pencurian, pembunuhan – sesama warga maupun dengan perangkat pemerintah (seperti pembunuhan kepala Desa) – narkoba, dan perang antar kampung. Pada skala yang lebih makro, masalah ekonomi, politik, dan hukum selalu menjadi pekerjaan rumah yang belum kunjung terjawab, bahkan semakin menumpuk.

Berbagai macam problem kehidupan sosial diatas, merupakan implikasi nyata dari derasnya arus globalisasi lewat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang pengaruhnya merembes hampir pada setiap sisi kehiudpan masyarakat. Dari skala makro, politik, hukum, dan ekonomi sampai pada skala mikro, interaksi sosial, keluarga dan sampai pada masalah-masalah moral dan keagamaan kita, yang semua itu memiliki pekerjaan rumah masing-masing. Maka tidaklah berlebihan, jika penulis mengatakan bahwa saat ini masyarakat bima sedang mengalami – apa yang disebut oleh Durkheim – suatu masyarakat yang sedang mengalamianomie. Suatu keadaan, dimana masyarakat tidak memiliki sandaran dalam bentuk aturan atau norma-norma sosial-budaya dan tradisi. Disebabkan oleh, aturan lama yang telah lemah dan pada sisi yang lain aturan baru belum terbentuk. Deregulati, kekacauan, dan disintergrasi sosial kian memburuk.

Anomie Masyarakat Bima

Kondisi sosial politik dan ekonomi yang terjadi pada masyarakat eropa pada tahun 1930-an, telah menggerakkan para pemerhati sosial – terutama para sosiolog – untuk melakukan pembacaan secara mendalam tentang berbagai macam ketimpangan yang sedang melanda kehidupan masyarakat. Perubahan yang begitu cepat dan besar – terutama teknologi dan ekonomi – membuat kehidupan dalam masyarakat mengalami depresi. Akibatnya, terjadi deregulasi dan kekacauan dalam masyarakat. Keadaan yang demikian itulah yang disebut oleh Durkheim – sosiolog Prancis – sebagai anomie. Kegagalan masyarakat dalam menciptakan regulasi dalam kehidupan sosial yang sedang berubah inilah yang menjadikan terjadinya anomie.

Keadaan anomie tidak hanya terjadi pada diri individu – dimana bunuh diri merupakan puncaknya. Keadaan yang sama bisa terjadi dalam masyarakat, yaitu ketika tradisi-tradisi atau norma-norma budaya yang sebelumnya berlaku, tidak terpakai lagi (tersingkir/terasing) dalam mengatur kehiudpan sosial – entah sengaja ditinggalkan atau karena tidak sesuai lagi –sedangkan norma baru belum kuat atau bahkan belum terbentuk sama sekali. Keadaan inilah yang menimbulkan kekacauan, sehingga masyarakat saling “memangsa” antar sesama dan disintegrasipun akan terjadi. Tidaklah berlebihan, jika penulis mengatakan bahwa saat ini keadaan sosial di Bima sedang mengalami anomie. Walaupun belum mencapai titik puncak – tingkat bunuh diri (suicide) yang cukup tinggi –mudah-mudahan tidak akan terjadi.

Setiap masyarakat memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh anggota masyarakat (individu) sebagai sesuatu yang dianggap berharga. Namun untuk mencapai tujuan-tujuan itu memerlukan sarana, tetapi karena tidak setiap anggota masyarakat bisa menggunakan atau mengakses sarana yang tersedia. Maka, cara-cara yang tidak sah-pun di tempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Sehingga, akan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan. Keadaan tersebut pernah terjadi di Amerika, sebagaimana di uraikan oleh Robert K. Merton. Hal yang samapun – dalam bentuknya yang berbeda – sedang terjadi dalam masyarakat kita. Apakan itu berarti keadaan dalam masyarakat Bima saat ini merupakan pengulangan dari kejadian di Amerika pada abad 19. Tentu jawabannya tidak. Bahwa masyarakat Bima sedang dilanda oleh berbagai macam ketimpangan dan penyimpangan sosial, realitas mengatakan demikian.

Penutup

Bencana sosial yang sedang melanda proses kehidupan dalam masyarakat, tidak muncul dalam ruang dan waktu yang vacum. Setiap problem mensaratkan adanya suatu sebab yang menjadikannya ada dan muncul di permukaan sosial. Lalu sampai pada titik yang –kadang-kadang – meresahkan kehidupan dan interaksi dalam masyarakat. Problem kehidupan sosial yang semakin menjadi-jadi ini, hemat penulis merupakan akibat dari “keteledoran” dan sikap tidak peduli kita pada apa yang telah diwariskan oleh tradisi dan budaya. Pada waktu yang bersamaan kita tidak sadar dengan arus besar yang sedang membajiri bahkan menenggelamkan sandaran hidup – norma dan budaya – yang kita miliki, arus besar itu adalah Globalisasi.

Bagaimanapun juga, waktu tidak mungkin bisa kita ulang kembali. Apalagi “meratapi” masalah yang sedang terjadi. Jika Durkheim mengatakan bahwa, agama-agama tradisional menyediakan nilai-nilai yang bisa menjadi sandaran bagi individu atau masyarakat yang mengalami alienasi (terasing). Maka sesungguhnya, pada konteks masyarakat Bima, kita memiliki nilai-nilai dasar yang bisa dijadikan sebagai pijakan dan untuk mengobati keterasingan yang terjadi dalam diri individu serta masyarakat. Bukankan kita selalu berkata bahwa masyarakat kita – masyarakata Bima – adalah masyarakat yang religius. Oleh karena itu, jika memang kita masih merasa bahwa kita cukup religius – sebagai individu dan masyarakat – dan menyatakannya dalam tingkah dan laku. Sesungguhnya satu langkah perbaikan sedang kita lakukan.

Wallahu’alam.

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. e-mail : agussalim073@gmail.com.

Share
  • 28
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top