Opini & Sudut Pandang

“Syahwat” Membaca Mahasiswa Bima

Oleh: Sofiyan Asy’ari

ilustrasi

ilustrasi

BEBERAPA waktu lalu, saya bertanya pada sejumlah mahasiswa. Pertanyaannya sederhana. Berapa kali berkunjung di perpustakaan, baik kampus maupun milik daerah.

Dari delapan mahasiswa semester tiga, paling tinggi tiga kali ke perpustakaan. Itu berarti selama 1,5 tahun menjadi mahasiswa, daya bacanya minim. Perpustakaan tidak menjadi magnet. Itupun kunjungan ke perpustakaan karena ada tugas dosen.

Pertanyaan kedua, selama 1,5 tahun menjadi mahasiswa, berapa buku yang pernah dibeli, baik terkait langsung mata kuliah ataupun tidak. Rata-rata memberi jawaban memiliki satu buku.

Pertanyaan ketiga, mengapa tidak berminat membeli buku. Ada yang memberi alasan, karena tidak ada uang. Tapi, saya tidak tahu apakah jawaban itu sungguh-sungguh atau hanya alibi saja. Karena minat baca saja memang sudah kurang.

Jika karena alasan ekonomi, sehingga tidak membeli buku, maka tentunya ada opsi untuk menambah wawasan atau pengetahuan, yakni berkunjung ke perpustakaan.

Pada kesempatan berbeda, saya pernah bertanya pada mahasiswa lainnya. Mengapa jarang berkunjung ke perpustakaan kampus. Ada yang memberi alasan, karena literaturnya tidak beragam. Namun, ketika saya berkunjung ke perpustakaan Kota Bima, yang koleksinya cukup bagus, toh pengunjung dari kalangan mahasiswa tergolong sepi. Satu bulan, dapat dihitung jari pengunjung dari kalangan mahasiswa.

Sulit bagi saya untuk menemukan benang merah, dimana letak masalahnya sehingga mahasiswa di Bima kurang gemar membaca. Apakah lingkungan akademik yang tidak menumbuh suburkan budaya membaca. Ataukah karena mahasiswa yang minat bacanya rendah.

Ketika pernah menjadi mahasiswa, saya ingat betul, sebelum diumumkannya tes masuk perguruan tinggi di Makassar, sudah mengoleksi sejumlah buku. Ketika kuliah pun, tidak hanya berkunjung di perpustakaan, namun “hunting” ke toko-toko buku.

Beberapa toko buku saya hafal koleksi-koleksinya, termasuk tahu dimana buku murah atau yang ada diskonnya. Ada juga toko buku yang mengoleksi karya-karya lama. Namun, bukunya masih bagus-bagus. Di toko buku itu saya berjumpa dengan salah satu Novel karya N. Marewo “Sehari di Yogya”.

Berkunjung ke Toko Buku tidak selalu niat membeli buku. Bahkan hanya modal transportasi umum, di toko buku, melihat-lihat buku menarik. Atau sekedar numpang baca, melihat sinopsis di sampul belakang, jika bukunya masih disegel plastik. Jika ada yang tidak dibungkus plastik, maka berkesempatan membaca beberapa lembar halaman.

Jika ada uang, maka kembali ke toko buku tadi untuk membelinya.

Tidak hanya soal buku. Membaca informasi di berbagai media cetak. Karena tidak mampu berlangganan koran, maka biasanya tersedia diperpustakaan sejumlah koran harian, baik logal, regional dan nasional.

Atau membaca di sejumlah lapak koran yang berjejer di Kota Makasaar. Di tempat lapak sudah tertera tari baca media cetak. Saat itu, untuk baca koran Rp500 dan majalah Rp1.000. Jika ada artikel yang menarik, maka kadang membeli koran tersebut.

Sedangkan di Bima, amat langka lapak koran di pinggir jalan atau di sekitar kampus. Jika dilihat jumlah terbutan media lokal Bima, mencapai puluhan. Lantas siapa saja yang membacanya, sehingga sulit ditemukan secara eceran? Di Kota Bima, setidaknya hanya ada satu lapak koran, namun hanya mengecer dua media lokal.

Kembali soal minat baca di kalangan mahasiswa tadi. Bagaimana mutu atau kualitas sumber daya mansuia (SDM) keluaran kampus. Ribuan mahasiswa menyandang predikat sarjana per tahunnya. Entah selesai dengan berapa koleksi buku, minimal untuk pajangan di lemari rumah.

Kenyataan tersebut, setidaknya perlu memikirkan upaya menggairahkan “syahwat” membaca di kalangan mahasiswa di Bima. Bagaimana pun, buku menjadi gudang pengetahuan dan dasar mewujudkan SDM berkualitas.

Dorongan dari eksternal setidaknya dibutuhkan, karena secara individu ada kelemahan kesadaran tentang pentingnya membaca. Dosen yang intens berinteraksi dengan mahasiswa, setidaknya terus memotivasi agar bergairah membaca.

Dorongan dari dalam diri mahasiswa memang harus lebih kuat, menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca. Setidaknya ada beban seorang mahasiswa sebagai kelompok terpelajar. Masyarakat pun memiliki pandangan tersendiri terhadap mahasiswa.

Mungkin juga bagus, jika di kampus dipilih duta baca. Setiap tahunnya kampus memilih beberapa mahasiswa sebagai duta. Atau melihat dari keterwakilan gender. Mungkin saja dengan adanya duta baca, maka bisa mendorong mahasiswa lain termotivasi membaca atau berkunjung ke perpustakaan.

Seperti halnya Perpustakaan Nasional  selalu memilih duta baca.

Walluhu ‘Alam….(*)

Penulis adalah jurnalis di Bima

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top