Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Zaitun: Ulama yang Berani Inkarul Munkar, harus Didukung

Kota Bima, Bimakini.- Tabligh Akbar yang digelar di Masjid Agung Al-Muwahidin Kota Bima berlangsung meraih. Ribuan jamaah memadati masjid tiga lantai itu. Jamaah “dibakar” semangatnya oleh ulama yang tergabung dalam  Gerakan  Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Pusat.

Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin yang pertama membuka kehangatan suasana itu. Dia mengingatkan soal pentingnya mencegah kemungkaran yang terjadi di sekitar, mulai dari tangan, lisan, dan hati.

Dikatakannya, saat upaya mencegah kemungkaran dari tangan ke lisan, tidak disebut sebagai setengah iman. Tetapi, ketika perpindahan dari lisan ke hati, Rasulullah memberikan keterangannya. Pelibatan hati itu merupakan tanda selemah-lemahnya iman.

Ditegaskannya, kalau ada di antara kaum Muslimin yang mau mengubah kemungkaran hanya menggunakan  hati, itu orang yang paling lemah keimanannya. “Mau kalian dikatakan orang yang paling lemah keimanannya? Kita harus tampil mengubah dan mencegah kemungkaran,” ujarnya.

Mengapa selama ini banyak yang tidak mampu melaksanakan tugas tersebut? Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh  Zaitun. Dia menilai, ketidakmampuan merealisasikannya itu karena tidak memahaminya, tidak terlatih, terbiasa cuek, dan menganggapnya urusan orang lain. Padahal, mengubah kemungkaran itu harus dilatih  mulai dari kecil dan dimulai keluarga. Pada ujungnya, tidak terlatih akhirnya menjadi tidak berani.

Tetapi, katanya, kondisi ini bisa diatasi. Pascapengajian ini, jamaah sudah bisa memahami  mana inkarul munkar dan harus siap melaksanakannya. Jika tidak bisa sendiri, dia mengajak agar melakukannya bersama. “Kalau tidak berani, dukung orang yang berani. Sama-sama kita,” katanya.

Diingatkannya, kalau ada di kalangan umat Islam, ada habib, ulama yang berani tampil untuk inkarul munkar, maka harus didukung. Kalau ada organisasi yang tampil menjadi pelopor inkarul munkar, itu merupakan karunia dam sebaiknya organisasi seperti itu dijaga. “Sebaiknya dibubarkan ataukah dijaga?,” tanyanya kepada  jamaah.

Zaitun menilai saat ini merupakan momentum luar biasa. Diberi pelajaran berharga oleh ulama dibawah kepemimpiann Habib Rizieq Syihab. Puluhan tahun menunjukan konsistensi menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Maka patut memberikan dukungan, harus  terus didukung dan menjaga spirit perjuangan. “Spirit 212, spirit perlawanan dengan lisan kita untuk menegakan kebenaran dan mencegah kemungkaran,” katanya.

Zaitun menceritakan seputar kegiatan aksi Bela Islam ketika ada jamaah yang menanyakan persiapan yang harus dilakukan. Saat itu, dia menyatakan cukup membawa sajadah dan sorban. Mengubah kemungkaran melalui lisan harus damai. Kalau ada risikonya, memang begitu.

Dikatakannya, kalau penguasa menyerang, maka pilihannya menghindar. Tetapi, kalau preman  yang menyerang, maka harus dilawan, karena itu wilayah jihad fi sabilillah.

Dia mengharapkan melalui pemahaman  hidup  kembali inkarul munkar pada bangsa ini. Tidak hanya  FPI yang melakukannya, tetapi juga Ormas lainnya.

Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI), KH Habib Muhsin Alatas, mengatakan di Indonesia ada 400 Kesultanan Islam yang menjadikan Islam, Quran dan Sunnah Rasul sebagai pedoman kehidupan. Mereka mengajak masyarakat agar mengusir penjajah. Negeri ini diperjuangan oleh ulama. Ulama sangat berperan dalam memerdekakan NKRI. BUPKI yang merumuskan kemerdekaan sebagian besar adalah ulama. Mereka siap berjuang menumpahkan darah dan jiwa adalah umat Islam.   Para pendiri negeri ini adalah alim ulama. “Pancasila dan UUD 45 lahir dari rahim umat Islam. Maka umat Islam tidak boleh diadu dan dihadap-hadapkan,” katanya.

Menurutnya, PKI tidak punya andil dalam kemerdekaan dan tidak pantas hidup di Indonesia. Sekarang komunis sedang bergerak dan masuk pada semua sektor kehidupan. Umat Islam harus waspada.

Diingatkannya, jangan sampai perjuangan yang dilakukan ulama mengusir penjajah dan mendirikan negeri ini, lalu diinjak-injak oleh komunis dan liberal. Mereka adalah lawan dan musuh Allah.

“Siap berjuang? Siap lawan PKI? Siap lawan komunis? Siap lawan liberal? Siap jaga NKRI?,” tanyanya yang disambut kata “siap” oleh jamaah. (BK22)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini

Oleh : Munir Husen (Kader Partai Keadilan Sejahtera Kota Bima)   Hari ulang tahun umumnya dimaknai sebagai peristiwa notoir, diakui keberadaanya oleh publik. Artinya...

Opini

Oleh : Munir Husen (Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Bima) Pemerintah Daerah dan DPRD adalah unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. Keberadaan anggota DPRD pada tataran...

CATATAN KHAS KMA

ANDA pernah menginap di hotel? Saya yakin hampir semua. Tetapi kebanyakan itu hotel yang biasa. Umum. Seperti di kota atau di pinggir pantai. Ada...

CATATAN KHAS KMA

APAKAH saya harus senang? Ataukah sebaliknya? Entahlah! Tetapi begini: Waktu saya pertama membangun media di Bima, itu pada 21 tahun lalu, ada yang menyebut...

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.- Sekretaris Daerah Kota Bima Drs. H. Mukhtar, MH bersama Kasat Lantas Polres Bima Kota, Kepala Dinas Perhubungan, dan Kepala Dinas Kominfotik...