Opini

Guru Pengajar Sastra, Bahasa, dan Anak Bangsa

Oleh: Eka Ilham

Eka Ilham

Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dipisahkan, namun dilakukan secara integratif. Dalam pelaksanaan tersebut, dimaksudkan agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang di inginkan yaitu anak didik kita dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa melalui sastra.

Pembelajaran bahasa dan sastra mempunyai banyak komponen, salah satunya ada tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru hendaklah dapat meningkatkan efektifitas pembelajarannya, yakni penguasaan kurikulum dan pemilihan metode yang tepat. Hal tersebut dapat dilakukan melalui teknik pembelajaran yang menarik, menyenangkan, mencerdaskan, dan sekaligus menghaluskan budi.

Contoh teknik pembelajaran yang dimaksudkan adalah dengan pemberian cerita atau dongeng dalam bilingual(dua bahasa) indonesia – inggris yang dibacakan, pembacaan puisi, dan drama. Namun, kenyataan yang terlihat selama ini pada pelaksanaan pembelajaran di sekolah, pembelajaran sastra belum dilakukan secara maksimal sesuai dengan peranan yang disumbangkan oleh pembelajaran sastra.

Hal ini disebabkan kurangnya minat, pemahaman, pengetahuan, ketrampilan dan kreativitas guru dalam upaya mewujudkan tujuan pembelajaran sastra yang diinginkan. Dengan kata lain, pembelajaran sastra disekolah masih mengalami hambatan. Mengajar bahasa pada hakekatnya adalah menciptakan kondisi yang bersifat kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar bahasa di kalangan siswa. “ai na sombong nggomi, ndai dou mbojo ede ra kani sih bahasa indonesia, au wali kani mu bahasa inggris” (Bimanese Language). Terjemahannya : Jangan sombong kamu kita orang bima jangan ngomong pakai bahasa indonesia apa lagi bahasa inggris.

Kearifan lokal wajib kita junjung dan lestarikan tapi tidak serta merta kemampuan dalam berbahasa sebagai alat komunikasi di kesampingkan karena berbahasa merupakan prasyarat dalam pembelajaran sastra dan kehidupan yang sifatnya global. Realitasnya banyak siswa masih belum bisa menggunakan bahasa indonesia sebagai alat komunikasi di keseharian atau aktivitasnya.

Penggunaan bahasa ibu (bahasa asli daerah) lebih menonjol dari pada bahasa indonesia apa lagi bahasa inggris. Imbasnya ketika anak-anak didik kita ini melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat perguruan tinggi sangat sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dalam berkomunikasi apalagi yang melanjutkan pendidikan di luar daerah. Ada sejumlah alasan dan manfaat kenapa pengajaran sastra sangat penting bagi anak didik kita.

Pertama, sastra merangsang memperoleh kenikmatan estetis dan cerita lewat sastra. Kedua, sastra merangsang pertumbuhan imajinasi. Ketiga, sastra membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain, dan keempat memahami bahwa terdapat orang lain yang tidak seperti dirinya.

Selain itu, sastra dapat meningkatkan pengetahuan bahasa dan kemampuan berbahasa siswa, seperti penggunaan kata, dialek dan ungkapan-ungkapan khusus, serta berbagai ketrampilan berbahasa yang lain. Sastra juga mampu menunjang perkembangam pengetahuan, bahasa, moral dan personalitas siswa. Guru dapat menanamkan nilai moral dan memberikan hiburan pada siswa melalui karya-karya sastra.

Untuk itu guru harus dapat menunjukkan kepada siswa tentang tokoh mana yang ditiru, dan tokoh mana yang tidak boleh ditiru, yakni dengan cara menunjukkan ungkapan bahasa yang dilontarkan pada saat peristiwa itu terjadi. “pak..coba setiap hari kita belajar sastra iya, nggak ngebosanin, kita betah di kelas pak..mendengar cerita, membaca puisi dan memerankan karakter dari cerita itu pak” Guru dengan gaya membacakan puisi atau cerita, siswa akan berkeinginan membaca buku-buku yang lain, minimal cerita yang sudah dibacakan gurunya.

Oleh karena itu, dalam membacakan cerita ini, guru hendaklah dapat menirukan masing-masing tokoh dengan segala keunikannya. Termasuk suara, gambaran tingkah lakunya dan sebagainya. Pada awalnya, siswa akan senang membaca karya-karya sastra, namun secara berangsur-angsur siswa akan tumbuh minatnya untuk membaca buku pelajaran yang lain.

“Professor.Dr.Bustami Subhan.MA, salah satu dosen dan Pembimbing Skripsi S1 saya di yogya, beliau mengajarkan mata kuliah Speaking dan Introduction To Literature, dan Cross Cultural Understanding. Memiliki kemampuan menggunakan berbagai macam suara-suara karakter dalam tokoh karya sastra yang mengilhami saya sampai hari ini, beliau mampu menjadi orang lain dari dirinya seperti tokoh suara micke mouse dan donal duck, acap kali beliau menampilkan kemampuannya didepan kami para mahasiswa-mahasiswanya pada saat itu, terasa terlalu cepat berakhir mata kuliah yang beliau sampaikan”.

Siswa akan menunggu gurunya ketika guru akan mengajar, karena guru selalu membacakan cerita atau puisi sebelum berakhirnya pelajaran, sehingga ketika bel tanda pulang berbunyi, siswa tidak bersorak gembira karena akan pulang, namun kecewa karena cerita dari guru harus di akhiri. Guru tampaknya merupakan figur yang paling banyak mempengaruhi kualitas keluaran pendidikan. Guru adalah manusia yang menemukan bakat yang terpendam pada diri siswanya. Akhirnya ditegaskan Guru adalah penjaga moral dan pencetak pemimpin bangsa ini. Bahagia Bangsaku Bahagia Guruku Bahagia Anak-Anak Pelita Bangsaku . (*)

Penulis adalah Ketua Umum Serikat Guru Indonesia(SGI) Bima dan Buku Kesaksian Puisi”Guru Itu Melawan

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 88
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top