Pendidikan

PGRI Kota Bima Gelar Konferensi Kerja ke III

Konfrensi Kerja PGRI Kota Bima ke III di STKIP Taman Siswa, Sabtu.

Bima, Bimakini.- Persatuan Guru Republik Indoneisa (PGRI) Kota Bima, menggelar Konferensi Kerja III Periode Tahun 2017-2018, di Aula STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (18/2/2017). Acara yang dibuka oleh Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, SH, M.Si tersebut, diikuti lebih dari dua ribu peserta, baik dari Kota Bima, Kabupaten Bima dan Dompu.

Acara konferensi dengan tema “Membangkitkan kesadaran Kolektif PGRI dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan” ini dihadiri Ketua Pengurus Besar PGRI Pusat Dr. Unifa Rasyidin, M.Pd, Ketua PGRI Sulewasi Selatan Prof. Dr. H. Thalib, Kapela Disbudpora, Drs. H. Alwi Yasin, Ketua PGRI Kabupaten Bima Drs. Syafiullah, M. Pd.

Ketua PGRI Kota Bima Drs. H Sudirman Ismail, MSi mengatakan tingginya animo peserta yang hadir menunjukkan kemauan dan kebersamaan guru sangat besar. Apalagi, undangan hanya disebar melalui pesan singkat (SMS), semua bisa hadir.

”Saya bangga dengan inisiatif dan kebersamaan guru, semangat seperti ini harus dikembangkan supaya bisa meningkatkan kredibelitas pendidikan, dengan kebersamaan kita bisa menyumbang demi terlaksananya pendidikan dengan baik,” ujarnya.

Kata dia, Organisasi PGRI adalah organisasi profesi keguruan, dimana wadah ini menampung aspirasi para guru. Artinya dunia pendidikan dan daerah tidak akan besar, apabila tidak menghargai guru,”guru wajib dihormati oleh peserta didik, karena profesi guru adalah mulai dan tampa tanda jasa,” katanya.

Ketua Yayasan STKIP Taman Siswa Bima itu juga menyampaikan tentang gaji guru di Kota Bima. Kesejahteraan guru sukarela selama tiga bulan hanya dibayar Rp 150 ribu saja, tidak seperti gaji guru sukarela di daerah lain yang mampu mengurangi kebutuhan hidup.

Peserta Konfrensi Kerja PGRI Kota Bima.

“Saya yakin dengan kehadiran Pengurus Besar PGRI Pusat dan Wakil Gubernur NTB ini, akan memperjuangkan nasib para guru, karena komitmen mereka guru adalah payung maju mundurnya Negara,” jelasnya.

Sementara Ketua PGRI Pusat, Dr. Unifa Rasyidin, M.Pd mengatakan, mengetahui bagaimana suasana hati dan pikiran para guru. Hadirnya mereka dalam konferensi ini, menunjukan kesungguhan dan komitmen untuk meraih sesuatu yang lebih baik lagi.

”PGRI sajak awal berjuan diberbai tingkat, semoga dengan adanya komitmen dengan pemerintah yang dibangun selama ini, dapat menjadi inspirasi pemerintah memperjuangkan nasib kita,” harapnya.

Setiap peningkatan dan kemajuan yang diterima oleh oleh guru, itulah hasil perjauangan PGRI melalui koordinasi dengan pemerintah atau pemimpin, dia mengatakan, alih kewenangan dari daeha ke propinsi, namun bagi guru bukan meninggalkan tanggung jawab di Kota maupun Kabupaten.

“Jangan sampai pengalihan kewenangan ini akan menggangu mutu dan kualitas pendidikan, inilah yang menjadi tugas PGRI,” katanya.

Dia juga mengakui, telah mendorong Presiden RI untuk mengangkat guru honorer menjadi PNS apabila ada perekrutmen. Bahkan meminta memrioritaskan guru honorer yang memenuhi syarat. “Pemerintah tidak boleh membuat rumit administrasi guru, karena guru adalah mitra strategis pemerintah,” katanya.

Begitupun Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH, M.Si akan selalu memperhatikan setiap kebutuhan para guru. Tanpa guru perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia hanyalah mimpi.

Guru, kata dia, adalah pioner yang membawa peserta didik untuk meningkatkan kualitas pendidikan. ”PGRI adalah organisasi profesi yang besar, jadi harus kembangkan sumber daya manusianya agar bisa memajukan dunia pendidikan,” pesannya. (BK34/*)

Share
  • 35
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top