Dari Redaksi

Sakit Hulu, Derita Hilir

MINGGU (26/03/2017) sore lalu, sebagian wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima terendam banjir. Intensitas hujan pada hari itu yang relatif tinggi, memicu banjir. Air berwarna kecoklatan itu berlari kencang dari sisi hulu, melibas yang dilaluinya hingga sampai di hilir. Untungnya, terjangan air didominasi dari arah Selatan. Tidak ‘berkoalisi’ dengan arah Utara, seperti yang terjadi akhir 2016 lalu. Minimnya dampak kerusakan seperti yang terdata pascabanjir merupakan sisi lain yang patut disyukuri. Meski demikian, kondisi Minggu sore itu telah menambah amunisi serangan psikologis terhadap masyarakat  Mbojo umumnya.

Aspek yang perlu dicermati adalah kepekatan warna kecoklatan air itu. Seperti yang disampaikan Menteri Pekerjaan Umum, Mochamad Basoeki Hadimoeljono, saat berkunjung di Kota Bima, warna air itu menunjukkan masalah besar terjadi di hulu. Penilaian itu sangatlah berdasar. Kawasan pegunungan dan hutan Mbojo, telah lama dikuatirkan menyusul geliat para peladang liar (ngoho) yang membabat areal baru. Selain itu, pembabatan kayu (illegal loging) yang diyakini kian tidak terbendung.

Dari pandangan mata telanjang, hampir semua arah pandangan mata terlihat wajah bopeng pegunungan. Diduga di bagian tengah hutan dan pegunungan sana, kondisinya lebih parah lagi. Kebutuhan kayu yang kian banyak, juga berkontribusi terhadap kondisi hutan. Belum lagi level lemahnya pengawasan, berikut dana operasional  dan peralatan yang sering dikeluhkan minim.

Lalu bagaimana?  Inilah yang perlu segera dijawab bersama. Sampai kapan kondisi banjir akan seperti ini. Wilayah Kabupaten Bima yang selama ini relatif jarang banjir, kini tampaknya harus memasukannya dalam daftar yang wajib diwaspadai. Secara teoritis, jika kondisi hulu tidak segera dibenahi, maka dalam beberapa tahun ke depan Dou Mbojo akan berhadapan dengan aroma dahsyat banjir dalam daya rusak yang lebih tinggi. Apalagi, jika ditambah drainase yang sempit, tidak layak, dan dibuat serampangan tanpa memerhatikan kemiringan tanah. Membenahi dan mengembalikan kondisi buram seperti saat ini membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen kuat dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasinya. Kesadaran kolektif itu merupakan keharusan (given) jika kita tidak ingin lama terjebak dalam kubangan ‘si coklat tua’ ini.

Selagi kita sembari membenahi sisi hilir, mari memelototi sisi hulu. Sisi yang jauh dari pandangan mata. Harus segera ada  pemantauan lapangan terhadap kondisi hulu. Lalu mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang menganggu lahan dan pepohonan di dalamnya. Rutinitas banjir dalam tingkatan kerusakannya selama ini, harus segera menghentak kesadaran kita. Jika sakit membaluti hulu, maka derita mengalir di hilir…(*)

Share
  • 38
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top