Connect with us

Ketik yang Anda cari

Dari Redaksi

Monumen Juang

 

Kondisi Monumen Juang Merah Putih 45 di sudut persimpangan Pane.

SUASANA 17 Agustus masih terasa di sekitar kita. Meski puncak peringatan sudah berlalu, namun sejumlah wilayah dan kelompok masih menyelenggarakan beragam lomba. Sejumlah ekspresi memang terlihat dalam momentum Hari Kemerdekaan RI. Muara dari semua itu mengandung pesan moral soal nasionalisme dan urgensi menghargai jasa para pahlawan. Ya, pahlawan  telah berjuang segenap jiwa dan raga untuk merebut dan memertahankan kemerdekaan. Simbolisasai dari patriotisme pahlawan itu adalah monumen perjuangan. Lalu bagaimana kondisi tidak terawatnya Monumen Juang Merah Putih 45  di sudut persimpangan Kelurahan Pane Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima kita bahasakan maknanya?

Kondisi monumen bersejarah  itu memang tidak terawat. Sangat disayangkan memang. Generasi kini telah melupakannya. Dulu pernah ada yang menyorot kondisi monumen itu, kemudian pihak terkait buru-buru membenahi seadanya. Kini dalam momentum yang berbeda, sorotan terhadap momenun yang masih asing di mata masyarakat itu menyeruak lagi. Mengiringi aroma perayaan kemerdekaan yang masih tersisa. Terasa miris. Tetapi, itulah bentangan fakta di depan mata kita.

Tentu saja, kondisi bangunan itu harus dicermati bersama sebagai ekspresi ketidaksiapan kita dalam mengekspresikan makna perjuangan para pahlawan. Memang ada panorama kontras. Saat suasana dan kemegahan panggung 17-an tertata, ketika  kantor pemerintahan mentereng ada sekeping fasilitas yang tidak juga kunjung mermetaomorfosa bentuknya. Masih seperti itu. Sampai kapan monumen dalam lingkaran pagar bambu lusuh yang tidak menarik minat orang melihatnya. Padahal, monumen itulah yang menawarkan sejuta pesona heroisme yang sangat sulut ditagih dari komitmen generasi  hari ini.  Ada pahatan tegas kesucian perjuangan melawan penjajah. Urgensi membenahi tidak hanya pada monumen di sudut Pane itu, tetapi juga fasilitas lainnya.

Kita mengharapkan ada perhatian lebih terhadap simbolisasi perjuangan para pahlawan di daerah ini. Mengapa? Karena itulah saksi bisu yang akan  mengingatkan generasi agar tidak melupakan sejarah.   Memotivasi generasi hari ini agar terus mengobarkan semangat juang, sekeras tekad para pahlawan bebas dari penjajahan. Jangan sampai generasi hari ini kehilangamn mata rantai sejarah karena ketidakpedulian merawatnya. Jangan sampai komitmen dan ajakan menghargai para pahlawan hanya sebatas di mimbar pidato. Pada kegiatan-kegiatan seremonial Agustus-an

Kita tidak boleh melupakan sejarah. Melalui sejarahlah kita berefleksi dan menuju alur masa depan. Sejarah tetap menjadi pijakan untuk kerja-kerja besar membangun peradaban. Para pahlawan itu telah ‘mewakafkan’ diri dan nyawanya untuk membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajahan. Sekali lagi, Monumen Juang Merah Putih itu tidak boleh ditelantarkan. Harus dirawat sepenuh hati. Seperti kata Khairil Anwar, generasi hari inilah yang memberi arti perjuangan para pahlawan. Kitalah yang kini menentukan arti tulang belulang berserakan itu…(*)

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.

 

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait