Connect with us

Ketik yang Anda cari

Dari Redaksi

Sudahkah Kita Merdeka?

Upacara pengibaran bendera di halaman Persiapan Kantor Bupati Bima, Kamis.

HIRUK-PIKUK suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah mereda. Berbagai acara yang mengiringinya telah dituntaskan pada Kamis (17/08/2017). Meskipun masih ada geliat lomba, namun tidak lagi seramai sebelumnya. Energi ekspresi merdeka telah memuncaki perhatian kita. Rutinitas tahunan. Di jejaring sosial Facebook dan WhatsApp, misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan semangat kemerdekaan muncul dalam beragam bentuknya. Ada karikatur, meme, sentilan lucu, maupun catatan reflektif. Di dalamnya ada satu pertanyaan kritis yang hingga kini masih belum menemukan jawaban tuntas: seriuskah dan sudahkah kita merdeka?

Memang berbagai hal masih harus diperdebatkan soal inti pesan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Secara de jure dan de facto, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang sudah merdeka dari cengkeraman penjajahan. Semua komponen dalam satu fokus memeranginya. Penjajah itu common enemy, begitulah kira-kira semangat dasarnya. Namun, setelah 72 tahun berlalu, tampaknya wajah Indonesia masih dibelit ragam persoalan krusial yang menyiratkan pesan bahwa kemerdekaan itu masih belum seutuhnya. Kemiskinan, keadilan, dan pemerataan pembangunan masih menganga antarmasyarakat serta antarwilayah.  Di Bima dan Dompu,  diakui atau tidak, kesenjangan itu masih ada.

Soal sebagian wajah aktual Indonesia, ada baiknya disimak refleksi Dr Ahmad Sastra dalam seliweran pesan WhatsApp pada sejumlah komunitas. Dalam penggambaran kondisi yang disebutnya, negeri ini masih dicekik ribuan triliun utang berbunga haram dan teriakan merdeka baru layak jika telah mampu melunasinya.  Banyak anak negeri yang disiksa dan dianiaya  di negeri orang. Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka, memberi pekerjaan layak dan menyejahterakan,  janganlah buru-buru berteriak merdeka!

Pada bagian lain, negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam luar biasa. Namun, dikelola oleh orang lain. Rakyat hampir tidak menikmatinya. Nah, jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara, maka jangan berteriak merdeka!  Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas. Terasa berat bisa hidup layak. Bahkan, harga-harga terus merangkak naik. Ditambah pajak yang kian mencekik. Jika kemiskinan masih meluas,  jangan berteriak merdeka! Anak negeri tengah terjerembab watak amoral. Narkoba merajalela. Seks bebas liar menyasar siapa saja. Pornoaksi dan pornografi makin menggila. Jika anak bangsa masih amoral, janganlah berteriak merdeka!

Soal demokrasi korporasi mencengkeram negeri ini, direfleksikannya. Keuangan yang Mahakuasa. Korupsi menjadi budaya.  Kolusi makin menganga. Kerugian uang rakyat tidak terkira.  Jika perilaku ini masih mewarnai bangsa ini, maka teriakan merdeka tidak akan bermakna. Luas negeri ini dipenuhi potensi sumber daya. Namun, garam masih impor. Namun, singkong masih impor. Jika negeri ini belum mandiri memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri, teriakan merdeka di ujung mikrofon hanya seperti buih yang disapu ombak. Luas negara ini jutaan hektare. Namun, lebih dari setengah dikuasai orang asing. Hingga rakyat tidak lagi punya lahan luas. Berdesak-desakan di tanah yang sempit. Jika tanah negara belum mampu direbut kembali,  teriakan merdeka hanya suara hampa tanpa kekuatan makna.  Kalau semua kondisi itu belum mampu dibenahi oleh negara ini,  maka  lebih baik diam dan berfikir. Malu kita…Berkoar-koar merdeka hanya sebatas kata-kata.

Ya, refleksi di atas hanya sebagian dari sudut pandang anak negeri yang gelisah memotret realitas di depan matanya. Tentu saja bagian dari kecintaan terhadap Indonesia. Tanah Air yang sahamnya milik kita bersama. Inilah Indonesia kita. Apakah Anda memiliki angle lain melihat kekinian ndonesia? Ada  satu kesepahaman yang sama dalam relung ruang kebatinan masyarakat: Indonesia memang sudah 72 tahun merdeka. Namun, masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang mesti dituntaskan agar keluar dari belitan multidimensi persoalan yang membopengi wajah negeri.

Sebagian potret pada level birokrasi, sosial, keadilan, hukum, ekonomi, dan mentalitas bangsa ini menyorong pertanyaan sensitif: apakah ini yang dikatakan sebagai bangsa yang sudah merdeka? Setelah 72 tahun, kemana perahu bangsa ini melaju? Di mana pantai sasarannya berlabuh? Selama 72 tahun berlalu, belumkah juga tampak cahaya? Rezim demi rezim berganti. Hasilnya belum ada lompatan kemajuan singnifikan.   Rangkaian  lanjutannya adalah apa yang selayaknya kita perbuat agar desak tanya ‘sudah merdekakah bangsa Indonesia?’ tidak lagi menguap ke permukaan bumi pertiwi. (*)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Klub Baca Sampela Kampo Nae mengadakan kegiatan perayaan 17 Agustus di Desa Nae Kecamatan Sape Kabupaten Bima mulai tanggal 20-23 Agustus 2017 lalu....

Olahraga & Kesehatan

Dompu, Bimakini.- Penyelenggaraan Turnamen Sepak Bola Mini Bupati Cup tahun 2017 digelar di lapangan  Beringin. Turnamen itu menjadikan ajang hiburan bagi ratusan para pekerja proyek pembangunan...

Peristiwa

Bima, Bimakini.-  Sepekan terakhir, ibu-ibu rumah tangga (IRT) di Kelurahan Kumbe Kecamatan Rasanae Timur punya kesibukan baru. Apakah itu? Ibu-ibu muda dan ibu separuh...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.- Bangsa  yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Jejak perjuangan para pahlawan itu tercermin dalam bangunan atau monumen. Seperti ...