Dari Redaksi

Atlet Mbojo-Dompu

 

Kepala Dispora NTB, Ir Husnanidiaty M.M foto bareng atlet atletik di Kendal.

ADA satu sisi pemberitaan pada Kamis (14/09/2017) yang menarik untuk dibedah bersama. Kali ini dunia olah raga, khususnya atletik.  Kontingen Pelajar Nusa Tenggara Barat dalam Pekan Olah Raga Pelajar Nasional (Popnas) XIV/2017 di Semarang  Jawa Tengah, khususnya cabang atletik  didominasi  atlet  dari Pulau Sumbawa. Ya, Bima, Dompu, dan Sumbawa. Jika dikerucutkan, dari 95 atlet NTB, Bima-Dompu mengoleksi 16 duta. Fakta seperti ini sudah lama tergambar dalam setiap momentum lomba pada berbagai level.

Pertanyaannya adalah mengapa banyak atlet asal Pulau Sumbawa?  Tentu saja memang demikianlah hasil seleksi yang dilakukan oleh pihak terkait. Dalam tradisi berolah raga, mereka yang benar-benar mampu dan siaplah yang diorbitkan untuk membawa nama daerah. Sangatlah memalukan jika mengusung atlet yang pencapaiannya tidak memenuhi standar.  Apalagi, dalam jenis olah raga yang terukur. Sportivitas mekanisme perekrutan seperti ini harus diapresiasi.

Dominasi atlet Pulau Sumbawa, khususnya Bima-Dompu itu juga mengirim pesan yang terang-benderang bahwa saatnya Pemerintah Daerah memberi perhatian lebih terhadap pembinaan calon atlet. Mereka memang ‘didisain untuk dimunculkan’ sejak dini. Tentu saja harus didukung sarana dan prasarana memadai. Faktanya, di Pulau Sumbawa stadion yang representatif hingga kini masih kabur. Ketika rangkaian prestasi anak daerah terus menghiasi jagat keolahragaan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Indonesia selama ini, political will untuk menyiapkan ancang-ancang fasilitas memadai belum juga terwujud. Hanya semangat dan bakat alamiah, lalu berkolaborasi dengan keuletan atlet dan pelatih-lah yang menggiring mereka ke puncak pencapaian.

Contoh terakhir dari potensi atlet adalah Andrian yang meraih medali di arena SEA Games Filipina. Melihat anak-anak Mbojo-Dompu membaluti tubuhnya menggunakan bendera Merah-Putih, terasa membangkitkan rasa nasionalisme hingga puncak terjauh. Pada level tertentu, rasa gengsi kedaerahan juga menyeruak ke permukaan. Nah, tinggal bagaimana talenta alamiah itu dipoles dalam manajemen pembinaan modern, kontinu, dan memberi ruang apresiasi lebih layak bagi yang berprestasi.

Kita mengharapkan momentum Popnas XIV ini dijadikan pintu masuk terakhir untuk lebih serius lagi memikirkan apa yang selayaknya disediakan untuk mendorong prestasi atlet muda. Sayang jika potensi alamiah mereka terpendam begitu saja, tanpa sentuhan berarti. Maksimalisasi pembinaan, didukung fasilitas memadai akan meningkatkan ‘adrenalin hasrat’ anak-anak Mbojo-Dompu untuk berkiprah lebih jauh.

Melihat Stadion Manggemaci Kota Bima terasa berat untuk menyebutnya sudah layak dan representatif. Namun, jika dibandingkan Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, terasa kegemasan mengelembung tinggi. Kondisi Stadion Manggemaci Dompu yang terkesan kumuh dan ditelantarkan sangat kontras dengan letupan bakat atlet yang selama ini berlaga di level NTB dan Nasional. Kapan kita punya stadion yang kondisinya lebih baik dari yang tersedia hari ini? (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 84
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top