Dari Redaksi

Dua Teror Letusan

Dok cheater01

AKHIR pekan lalu dan awal pekan ini, publik Kota Bima dihentakkan oleh dua insiden yang menyita perhatian luas. Keduanya mengguncang suasana psikologis publik. Derajat resonansinya hampir sama. Insiden pertama, letusan petasan tengah malam buta saat Lomba Rancang Busana yang digelar Dekranasda-Disperindag Kota Bima di halaman kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bima, Sabtu malam lalu. Publik dalam radius sekitar 2 kilometer tersentak. Tengah malam buta ada teror suara yang menggelegar. Memantik trauma. Mengusik kenyenyakan tidur.

Anak-anak ketakutan. Kaum dewasa pun heran penuh tanya. Keluar rumah untuk memenuhi rasa penasaran. Siapa yang tidak punya sensivitas kenyamanan menjelamg dinihari itu?  Kecaman terhadap produk hentakan ledakan ini terasa menemukan jalur ekspresinya. Dinding Facebook ramai mengekspresikan keheranan dan kecamannya. Bisa dilacak ke mana arah sundulan kritikannya.

Doorrrr! Senin pagi, publik juga dikejutkan penembakan dua anggota Polres Bima Kota usai mengantar anak-anaknya masing-masing ke sekolah. Peluru menerobos pinggang dan bahu. Terluka. Satu orang ditangani di Bima, rekannya dirujuk ke Mataram. Pesan simbolik dari insiden penembakan dua Polisi ini sangatlah terang-benderang. Seorang Facebook, Rayhandika Palopi, membahasakannya secara getir. Yuk simak statusnya! “Nggahi mbojo mpa, maja adeta baca ba dou ma lai daerah. Wati nggori nggori na masalah ese dana rasa ndai ke dohoe. Aparat aja watidu aman, au walipu ndaita rakyat jelata ke ni.”

Ya, kita malu insiden seperti ini muncul lagi di wilayah Mbojo. Dua hal yang terkonfirmasi dari peristiwa itu. Pertama, aparat Kepolisian yang ber-Tupoksi menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat, justru menjadi ancaman pihak lain yang berpotensi berbahaya bagi jiwa. Lalu bagaimana dengan masyarakat umum? Tentu saja kadarnya lebih tinggi. Kedua, betapa senjata api rakitan telah bebas dikoleksi di daerah ini. Kemunculan senjata api rakitan saat konflik antarwarga kampung adalah dimensi lain yang menguatirkan Kamtibmas.

Facebooker itu benar, membahasakan teror seperti ini di daerah ini sesungguhnya menyemai rasa malu saja. Sudah jamak terjadi. Status Zona Merah  kompak ramai-ramai ditepis masyarakat Mbojo. Namun,  produksi teror demi teror seperti penembakan aparat, konflik antarkelompok warga kampung, pemblokiran ruas jalan vital, bermunculan. Teror letusan petasan di kantor Pemkot Bima itu seolah kian menegaskan posisinya.   Rangkaian kegaduhan itu mementahkan bara semangat menepis citra negatif daerah. Sekaligus pada  sisi lain meneguhkan bandrol status minor itu di depan mata kita sendiri.

Dua teror letusan bergreget itu memang menimbulkan efek traumatik. Daya pikat resonansinya lumayan. Daya terobosnya melekat dalam memori.  Kemunculannya di arena pusat administrasi pemerintahan, bisa saja dipandang sebagai kegagalan memaknai arti dan cara membangun motivasi publik.

Apakah yang ingin dicapai dari hentakan suara petasan berharga (bisa) jutaan rupiah itu? Termotivasikah publik usai mendengarnya? Bukankah malah kecaman, sindiran, dan cibiran?  Suara petasan yang ingin mengesankan glamour, malah menuai antipati. Bukankah itu bisa dinlai sebagai sisi lain demonstration effect?

Fakta yang jelas, dua teror letusan itu menabur aroma traumatik yang implikasinya multidimensi. Kita patut prihatin. Bagaimana pandangan Anda? (*)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 152
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top