Dari Redaksi

Duka Rohingya

AKSI Persatuan Umat Muslim Bima Untuk Rohingya (Pumbur) di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Senin (04/09) lalu menggoda untuk dicermati. Penyampaian keprihatinan kemanusiaan yang melewati baras demarkasi negara. Mereka mengaung bebas di jalanan dan terik menantang. Sejak beberapa waktu lalu, kita memang dijejali informasi  pembantaian terhadap etnis Muslim Rohingya di Myanmar. Ribuan korban berjatuhan, sebagian lainnya mengungsi ke negara terdekat.    Perkampungan mereka dibakar.  Kemunculan dokumentasi kekerasan biadab itu pada Media Sosial,  semakin mengoyak luka. Ironisnya, dalam skala dunia, reaksi terhadap pembantaian itu tidaklah terlalu kencang. Padahal, aksi keji telah menerobos batas keadaban sikap sebagai manusia. Seolah isu Hak Asasi Manusia tidak bertaji.

Ya, semua orang terhenyak. Ada juga yang menitikkan air mata. Betapa praktik ketidakperikemanusiaan masih punya ruang terbuka pada era modern ini. Locus delicti-nya Myanmar. Negeri yang dipimpin Aung San Suu Kyi, pemenang hadih Nobel Perdamaian. Umat Muslim pada berbagai belahan dunia pun bereaksi. Mereka menuntut kezaliman itu dihentikan. Di Indonesia, bahkan  Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat pun reaksi sudah bermunculan. Wajar saja. Apalagi, dalam konsepsi Islam, Muslim itu bersaudara. Jika saudaranya merasakan sakit, maka semua ikut terluka.

Kebiadaban kemanusiaan model Rohingya itu selayaknya dikutuk bersama. Pembantaian oleh pemerintah Myanmar terhadap umat Muslim Rohingya itu harus segera dicegah menggunakan cara apapun. Tidak saja melukai satu komunitas, tetapi melukai nurani kemanusiaan seluruh masyarakat dunia. Desakan agar Pemerintah Republik Indonesia   memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar kini bergaung.
Duka Muslim Rohingya adalah duka kita. Itu jelas praktik nyata perilaku jahiliyah modern. Tidak ada celah bagi kelompok manapun yang enteng membunuh dan bertindak liar seenaknya sendiri. Kasus Rohingya adalah penerabasan terhadap nilai kemanusiaan yang sejatinya dijunjung tinggi.

Apa yang harus dilakukan? Tentu saja bantuan kemanusiaan segera disalurkan. Demikian juga bantuan militer untuk membebaskan umat Muslim Rohingya dari perilaku fasisme. Selain itu, mendesak Presiden Indonesia  bersikap keras dan  tegas terhadap PBB. Bila perlu,  Pemerintah Indonesia  menampung dan memberikan pelayanan terbaik bagi pengungsi Muslim Rohingya.

Negara Muslim terbesar dunia ini  memang harus berani mengambil sikap tegas. Hubungan dengan Myanmar harus dievaluasi, karena fakta peristiwa itu di luar batas perikemanusiaan. Duka Rohingya adalah duka kita. Duka kemanusiaan yang tersayat lebar.

Aspirasi massa Pumbur dan sejumlah aksi di daerah lainnya  mewakili suasana kebatinan kita. Tidak hanya bagi kaum Muslim di Bima, tetapi juga lintas agama. Sampai kapan luka kemanusiaan ini berakhir? (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 97
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top