Dari Redaksi

Kepekaan dan Empati

Foto Firman: Ekspresi warga korban banjir bandang saat menyuarakan aspirasinya di depan kantor Pemkot Bima.

ADA satu sudut peristiwa yang menyita perhatian publik Kota Bima, Senin (18/09) siang lalu. Puluhan korban banjir bandang dari  Kelurahan Rabadompu Timur Kecamatan Rasanae Timur kompak mendatangi kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bima. Didominasi ibu-ibu. Mereka membawa bejibun aspirasi. Keluh-kesah pun terdengar. Mereka menerobos terik mentari. Suasana kian menghanyutkan karena ada  yang histeris, menangis, bahkan hingga pingsan. Penyampaian aspirasi itu sah-sah saja.

Rumah mereka hanyut akhir tahun 2016 lalu dan kini beratap tenda.  Hidup menumpang di rumah sanak keluarga. Jika kita mencoba peka dan berempati, maka daya tahan mereka itu luar biasa. Di tengah terik menyengat dan kebutuhan hidup yang kian meningkat, mereka bertahan di tengah badai itu. Jangan bayangkan bagaimana suasana psikologis mereka dalam posisi sebagai korban. Pasti semua serbatidak nyaman. Kita yang tidak mengalaminya harus memahami apa yang disebut ‘logika korban’.

Nah, dalam konteks itulah keluhan  atau apapun bahasa kegelisahan mereka selayaknya direspons. Didengarkan, diselami, lalu disikapi dalam bahasa persuasif dan semangat kepamongan. Pilihan tidak menemui ketika di depan pintu, rasanya kurang elegan jika mencoba ‘memasuki alam pikiran dan bangunan psikologis para korban’. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bisa saja absen berdasarkan alasan dan kondisi tertentu. Namun, celah itu secepatnya bisa ditutup oleh pejabat lainnya yang berkompeten menjawab aspirasi itu. Dalam suasana yang ramai seperti itu, segala sesuatu bisa terjadi, misalnya perusakan fasilitas. Atau tindakan lain yang tidak terduga. Kita bersyukur tidak ada lompatan peristiwa luar biasa.  Meski mereka datang dengan ‘logika korban’, namun ritme emosi dan tindakan masihlah terukur. Terima kasih warga Rabadompu Timur.

Kita mengharapkan aspirasi itu segera direspons. Menjelaskan progress yang sudah diupayakan, apa saja lobi yang dilakukan di pusat ibukota Jakarta.  Tahapan apa yang akan dilakukan ke depan. Paling tidak, ada yang mampu mengomunikasikannya dalam bahasa komunikatif-persuasif. Penanganan terhadap kondisi korban banjir ini memang membutuhkan perhatian dan perjuangan ekstra.

Berhadapan dengan ragam karakter lapangan memang merupakan tantangan tersendiri. Inilah fakta yang harus diurai dari kondisi pahit yang menerjang kota ini akhir tahun 2016 lalu. Pemkot Bima harus didukung bersama dalam upayanya membantu para korban banjir agar keluar dari himpitan kondisinya.

Di luar itu, percepatan penanganan ini juga dalam kerangka untuk mengantisipasi kemungkinan ada isu-isu lain yang bisa ‘digoreng’ dalam suasana menjelang Pilkada 2018 nanti. Kita semua tentu tidak ingin insiden yang murni bencana itu akan menjadi ‘liar’ di ruang publik. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 77
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top