Dari Redaksi

Pesan Simbolik Qurban

 

dok teknokita.com

HARI Raya Idul Qurban 1438 Hijriyah telah berlalu. Rutinitas tahunan yang ditandai wukuf di Arafah. Idul Adha berkaitan erat dengan sejarah dinamika kehidupan keluarga Nabi Ibrahim yang menaati perintah Allah. Dramatis dan menegangkan. Suatu ujian kesabaran mahatinggi karena harus dihadapkan pada kenyataan leher sang buah hatinya nyaris robek pisau tajam.   Bagaimana selayaknya umat Islam memahami makna simbolik dari ibadah berqurban ini?

Banyak penafsiran untuk menandai peristiwa agung itu. Ada yang memadatkan makna dan nilai pesan itu secara garis besar dalam dua hal. Pertama, pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya atas nama apapun. Selain itu, qurban juga dapat diletakkan dalam kerangka penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti penekanan solidaritas dan semangat cinta kasih yang inklusif, tanpa dilatarbelakangi kepentingan kelompok dan golongan.

Peristiwa dramatis yang melibatkan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail menyiratkan pesan  agar menghapus tradisi membunuh yang hidup pada masyarakat jahiliyah. Suatu  perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT dan secara hukum moral bertentangan dengan hak hidup seseorang untuk bernafas bebas. Membunuh hanya akan menimbulkan kebencian, permusuhan, pertikaian dan menambah panjang rantai perselisihan. Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa  siapa saja yang menghilangkan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah  telah menghilangkan nyawa manusia seluruhnya.

Dalam penafsiran lain, ketika Allah SWT mengganti bocah Ismail dengan seekor domba, tersirat pesan ingin memaklumatkan kepada manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain.  Tidak lagi menindas harkat martabat kemanusiaannya. Peristiwa yang  ingin menegaskan  bahwa Tuhan-nya Nabi Ibrahim  ingin menyelamatkan dan membebaskan manusia dan harkat kemanusiaan itu sendiri dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan. Pesan lainnya menyiratkan bahwa sifat-sifat dan karakteristik kebinatangan  dalam diri manusia harus dijauhkan dan dihapuskan.

Di Indonesia, persoalan paling mendasar yang sedang  dihadapi adalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Kemiskinan  banyak dirasakan orang, kekayaan hanya dicicipi segelintir orang saja. Nah, Idul Qurban yang terus berulang itu seyogyanya dimaknai sebagai sikap pengorbanan manusia atas manusia yang lain, keharusan mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Mewujudkan keadilan sosial, memberantas kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Dalam konteks Bima dan Dompu, beragam peristiwa pembunuhan, penganiayaan, dan konflik antarkelompok warga yang terjadi akhir-akhir jelas “menampar” wajah kita. Menegaskan fakta bahwa kita belum sepenuhnya memahami kedalaman makna berqurban. Hanya sebatas ritual, memotong ternak, dan membagikannya kepada masyarakat tidak mampu. Mari kita merefleksi makna berqurban ini untuk direaktualisasi dalam kenyataan hidup. Idul Adha yang terus menyapa kita harus mampu dimaknai mendalam. Karena memang pesan simboliknya multimakna.

Pertanyaan dan gugatannya adalah sebatas apa pemahaman dan pendalaman nilai berqurban meresap dalam kepribadian kita hari ini dan pengaruhnya dalam dinamika dimensi sosial? Tentu saja, hari-hari dalam interaksi kita selanjutnya pada penghayatan pribadi dan dataran sosial akan menagih jawabannya. (*)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 28
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top