Dari Redaksi

Spirit Hijrah Rasulullah

Suasana pawai yang  digelar PHBI dan Pemerintah Kecamatan Bolo, Kamis (21/09).

TAHUN Baru Islam, 1 Muharram 1439 Hijriyah dirayakan Kamis 21 September 2017. Menandai peristiwa penting hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Umat Islam dan Indonesia merayakannya dalam berbagai cara. Umumnya pawai dan tausyiah yang menggali makna kontekstual peringatan 1 Muharram.  Ceramah dalam beragam dimensi pembahasan disuguhkan. Di Bima dan Dompu, masyarakat Muslim bersukacita merayakannya. Melibatkan anak-anak dan pelajar agar mereka memahami pesan simboliknya. Berharap ada metamorfosa sikap untuk masa depan Islam yang lebih baik di tengah dinamika  kehidupan yang kian kompleks.

Hijrahnya Rasulullah saat itu suatu lompatan yang mampu mengubah sejarah perkembangan Islam selanjutnya. Suatu strategi perjuangan dalam dakwah Islam agar meluas dan membumikan ajaran yang rahmatan lil alamin. Secara sederhana, peringatan Tahun Baru Islam hakikatnya sama dengan mengenang kembali perpindahan Nabi Muhammad dan mendalami makna hijrah.
Hijrah saat itu bukan sekadar berpindah tempat tinggal, namun merupakan perintah Allah.

Bagaimana kisah hijrah itu selayaknya dimaknai dalam konteks kekinian? Hijrah mengharuskan kita bangkit bersama menuju peradaban bangsa yang berkemajuan, berkeadilan, berkesejahteraan, dan berkeadaban. Pesan moral dari spirit hijrah itu adalah semangat perubahan dan perbaikan tanpa henti menuju peningkatan kualitas keimanan, keilmuan, dan ketakwaan. Pribadi yang tertempa ketakwaan personal, sekaligus ketakwaan sosial.

Dalam konteks kedaerahan Bima-Dompu  dan kebangsaan, hijrah mental spiritual itu menghendaki kita meninggalkan pola pikir dan budaya lama yang merugikan bangsa. Urgensinya saat ini adalah hijrah dari mental jahiliyah menuju mental Islami. Konstruksi sikap mental umat yang dianggap melemahkan syiar Islam atau menegasikannya haruslah segera direfleksi menuju keadaan yang lebih baik. Dalam bahasa sederhana, dari kondisi addzhulumatin ilannur. Dari kegelapan menuju cahaya.

Jika kita memahami isu aktual hari ini, setidaknya ada sejumlah isu yang urgen dibahas. Antara lain penguatan akidah, persatuan Islam, pemberdayaan umat, dan bahaya komunisme. Umat Islam harus dalam satu presepsi ketika berhadapan dengan situasi yang berhubungan dengan kehidupan kebangsaan dan keumatan. Memberdayakan kelompok masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan adalah   tantangan lain yang sudah di depan mata. Saatnya potensi ekonomi umat dimobilisasi untuk mendukung program pemberdayaan. Potensi Zakat, Infak, Shadaqah yang nilainya sangat signifikan mendesak dikelola lebih maksimal.

Terakhir, isu komunisme yang kini booming dan viral dibicarakan, menguatirkan banyak pihak. Isu munculnya paham komunis ini harus mampu menyatukan kekuatan umat untuk melawannya. Sejarah telah menyuguhkan fakta pahit betapa dulu massa Partai Komunis Indonesia tidak berkompromi dengan santri dan ulama. Diuber dan didatangi, malah dibunuh secara keji. Catatan sejarah Indonasia era 1960-an juga mengonfirmasi betapa para Jenderal TNI dihabisi dan dibaung ke Lubang Buaya.

Nah, momentum peringatan 1 Muharram harus dijadikan media untuk meningkatkan keimanan dan kewaspadaan terhadap unsur yang merusak konstruksi Indonesia serta umat Islam. Mari kita menjadikan 1 Muharram ini sebagai titik berangkat baru untuk menuju kondisi yang lebih dalam konteks ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Semoga! (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 10
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top